Penolakan: Luka yang Masih Membekas dalam Diam

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Filza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penolakan adalah bagian dari kehidupan, dan beberapa penolakan yang menyakitkan bukan hanya berhenti dihari penolakan tersebut. Rasa sakit terhadap luka penolakan tinggal di hati paling dalam dan diam-diam membentuk cara seseorang melihat dunia dan dirinya sendiri. Banyak orang mengalami trauma penolakan yang membekas.
Penolakan yang saya dapatkan dalam kehidupan ini menjadi trauma kecil yang tak terucap dan menjadi derita dalam diam. Saya mulai sadar, penolakan yang saya dapatkan menjadi luka yang pelan-pelan membentuk pola pikir negatif terhadap diri saya sendiri.
Luka yang sulit sembuh dengan penolakan yang menjadi wajar bagi kehidupan manusia membuat kita harus selalu kuat terhadap hal itu.
Selalu bertanya kepada diri sendiri: mengapa penolakan itu bisa begitu membekas bagi saya dan tidak mudah bagi saya untuk melupakannya?. Hal itu membuat saya terpuruk dan rasa percaya diri hilang sedikit demi sedikit.
Sekarang, setelah beberapa tahun hal itu masih menjadi suatu hal yang menyakitkan untuk melihat penolakan tersebut. Luka itu nyata dan menjadi bagian dalam hidup yang membuat saya tumbuh menjadi diri saya sekarang.
Saya berusaha untuk melupakan rasa sakit itu dan membuat saya merasa bahwa tidak semua kegagalan membawa pelajaran. Karena ada juga kegagalan yang hanya menyakitkan, dan tidak ada pembelajaran dari penolakan tersebut. Tapi yang saya percaya untuk saat ini adalah luka tidak harus sembuh, cukup diterima dan dibawa menjalani hidup.
