Konten dari Pengguna

Politik dan Media Sosial: Pedang Dua Arah

Filza

Filza

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Freepik

Di era digital sekarang ini, media sosial bukan hanya menjadi alat untuk berbagi foto dan berbagi cerita kehidupan sehari-hari. Media sosial sudah menjadi arena untuk politik yang efektif. Setiap hari ada pengguna media sosial yang menyampaikan pendapat, mendukung calon politik, mengkritik kebijakan pemerintah melalui media sosial Instagram, TikTok, Twitter (X). Namun media sosial seperti pedang bermata dua yang membawa manfaat dan juga risiko.

Dengan manfaatnya yaitu bisa menjangkau ratusan ribu orang yang mengakses dan melihat sosial media. Politisi bisa menyebarkan visi misi kampanye mereka di media sosial dan membuat adanya ruang dialog. Dari manfaat tersebut media sosial membuka akses informasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat.

Namun di balik manfaat tersebut, ada juga risiko yang terjadi nyata yaitu hoaks dan ujaran kebencian yang menyebar tanpa terkontrol. Banyak akun yang memanipulasi data demi kepentingan untuk memecah belah masyarakat. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan dalam berpolitik, malah menjadi jurang pemisah.

Politik dan media sosial seperti pedang dua arah, bisa menjadi alat memperkuat demokrasi, tapi juga menjadi sumber masalah yang merusak demokrasi.