Ketika AI Bisa Menjawab Segalanya, Apakah Siswa Masih Belajar?

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas pamulang kampus serang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Fina Marjua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang siswa yang mendapat tugas menulis esai. Dahulu, ia mungkin harus membaca buku, mencari referensi, menyusun argumen, dan menghabiskan waktu untuk merangkai kalimat. Kini, dengan beberapa instruksi kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebuah esai dapat dihasilkan dalam hitungan detik. Tugas selesai lebih cepat, kalimat terlihat rapi, dan jawaban tampak meyakinkan.
Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: ketika tugas selesai dengan bantuan AI, apakah siswa benar-benar telah belajar?
Pertanyaan ini bukan lagi sekadar kekhawatiran tentang masa depan. Laporan OECD mengenai hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa 53% siswa di Indonesia menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu. Angka tersebut bahkan melampaui rata-rata OECD yang mencapai 46%. Data ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dari pengalaman belajar banyak siswa Indonesia.
Kita tentu tidak perlu langsung menganggap perkembangan tersebut sebagai ancaman. AI dapat membantu menjelaskan materi yang sulit, memberikan contoh tambahan, dan membuka akses terhadap informasi. Namun, meningkatnya penggunaan teknologi juga mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kemudahan memperoleh jawaban diikuti dengan peningkatan kemampuan memahami persoalan?
Di era kecerdasan buatan, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar membuat siswa menemukan jawaban yang benar, melainkan memastikan mereka mampu memahami, mempertanyakan, dan menilai kebenaran jawaban tersebut.
Ketika Jawaban Lebih Penting daripada Pemahaman
Selama bertahun-tahun, keberhasilan belajar sering kali terlihat melalui nilai ujian, tugas yang dikumpulkan, dan kemampuan menjawab pertanyaan dengan benar. Ukuran tersebut memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk menggambarkan kemampuan seseorang dalam memahami suatu persoalan.
Kehadiran AI membuat keterbatasan itu semakin terlihat. Siswa dapat menghasilkan jawaban yang terlihat baik tanpa sepenuhnya memahami isinya. Mereka dapat mengumpulkan tugas tepat waktu tanpa benar-benar menguasai materi. Bahkan, tulisan yang tersusun secara sistematis belum tentu mencerminkan kemampuan siswa dalam menyusun argumen secara mandiri.
Tentu saja, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa setiap siswa yang menggunakan AI kehilangan kemampuan berpikir kritis. Data penggunaan AI juga tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kualitas pembelajaran menurun. Persoalannya terletak pada bagaimana teknologi digunakan dan apakah siswa tetap terlibat aktif dalam proses belajar.
AI dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat ketika digunakan untuk memahami konsep, membandingkan perspektif, atau mengevaluasi suatu argumen. Sebaliknya, jika teknologi hanya digunakan untuk menghasilkan jawaban yang kemudian disalin tanpa diperiksa, siswa kehilangan kesempatan untuk berlatih memahami dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Belajar bukan sekadar memperoleh jawaban yang benar. Belajar juga mencakup proses bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, mengevaluasi informasi, dan memperbaiki pemahaman. Proses tersebut mungkin membutuhkan waktu lebih lama, tetapi justru menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir.
Jika setiap kesulitan langsung diselesaikan oleh AI, siswa berisiko terbiasa menerima jawaban tanpa mempertanyakan alasan di baliknya. Padahal, kemampuan mempertanyakan informasi semakin penting ketika teknologi dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu benar.
Tidak Adil Jika Siswa Menjadi Satu-satunya Pihak yang Disalahkan
Ketika penggunaan AI dalam pendidikan dipersoalkan, siswa sering kali menjadi pihak pertama yang mendapat kritik. Mereka dianggap malas, ingin serba instan, atau tidak mau berusaha. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.
Kita juga perlu melihat bagaimana proses pembelajaran dirancang. Jika keberhasilan siswa terutama dinilai berdasarkan hasil akhir, bukan pemahaman dan proses pengerjaan, penggunaan AI untuk menghasilkan jawaban dapat menjadi pilihan yang terasa menguntungkan.
Bayangkan sebuah tugas yang hanya meminta siswa membuat rangkuman bacaan. Jika penilaian hanya berfokus pada kelengkapan dan kerapian rangkuman, siswa mungkin merasa tidak perlu memahami sumbernya secara mendalam. Sebaliknya, jika siswa diminta menjelaskan gagasan utama dengan bahasanya sendiri, mempertahankan argumennya dalam diskusi, dan menghubungkan materi dengan persoalan nyata, pemahaman akan menjadi bagian penting dari penilaian.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa cara kita mengajar dan menilai siswa turut memengaruhi cara mereka menggunakan teknologi.
Karena itu, guru dan sekolah perlu mengevaluasi metode pembelajaran yang selama ini digunakan. Bukan berarti seluruh tugas konvensional harus ditinggalkan, melainkan perlu ada penyesuaian agar penilaian benar-benar mencerminkan kemampuan yang ingin dikembangkan.
Guru juga membutuhkan dukungan untuk memahami kemampuan, keterbatasan, dan risiko penggunaan AI. Menuntut guru mengawasi teknologi yang terus berkembang tanpa pelatihan dan panduan yang memadai tentu bukan solusi yang adil.
Dalam panduan mengenai AI generatif untuk pendidikan dan penelitian, UNESCO menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia. Teknologi semestinya mendukung kemampuan peserta didik dan pendidik, bukan mengambil alih peran manusia dalam proses pembelajaran. Panduan tersebut juga menyoroti pentingnya perlindungan data, kesiapan institusi pendidikan, serta peninjauan kembali metode penilaian.
Dengan demikian, tantangan AI bukan hanya persoalan perilaku siswa, tetapi juga persoalan kesiapan sistem pendidikan.
Melarang AI Bukan Jawaban untuk Semua Persoalan
Melarang penggunaan AI sepenuhnya mungkin terlihat sebagai cara sederhana untuk menjaga kejujuran akademik. Namun, pendekatan tersebut tidak menyelesaikan seluruh persoalan. Siswa tetap perlu belajar menghadapi teknologi yang akan mereka temui di perguruan tinggi, dunia kerja, dan kehidupan sehari-hari.
Yang lebih penting adalah mengajarkan batas penggunaan AI secara jelas.
Siswa perlu memahami kapan AI dapat digunakan sebagai alat bantu, kapan mereka harus mengerjakan sesuatu secara mandiri, dan mengapa hasil yang dihasilkan teknologi tetap perlu diperiksa. Mereka juga perlu belajar bahwa AI dapat memberikan informasi yang keliru, menyederhanakan persoalan secara berlebihan, atau menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi tidak didukung fakta.
Guru dapat merancang tugas yang meminta siswa menjelaskan alasan di balik jawabannya. Diskusi kelas, presentasi, latihan menulis secara mandiri, dan analisis kasus nyata dapat digunakan untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi.
Siswa juga dapat diminta membandingkan jawaban AI dengan sumber tepercaya, mengidentifikasi kekeliruan, dan memperbaiki hasilnya berdasarkan penalaran sendiri. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
Sekolah pun perlu memberikan pedoman yang jelas mengenai penggunaan AI, termasuk kapan penggunaannya diperbolehkan, kapan harus diungkapkan, dan bagaimana menjaga integritas akademik. Pedoman tersebut sebaiknya disertai pendidikan mengenai privasi dan tanggung jawab digital.
Pendekatan ini lebih mendidik daripada sekadar melarang atau menghukum. Tujuannya bukan mencurigai setiap siswa, melainkan membangun budaya belajar yang menjunjung kejujuran, tanggung jawab, dan pemahaman.
Mengembalikan Makna Pendidikan
Tantangan AI pada akhirnya membawa kita kembali pada pertanyaan mendasar tentang tujuan pendidikan. Apakah sekolah hanya bertugas memastikan siswa mampu menghasilkan jawaban yang benar, atau juga membentuk manusia yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihannya?
Jika pendidikan hanya berorientasi pada hasil akhir, teknologi yang semakin canggih akan membuat proses menghasilkan jawaban semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membentuk manusia yang lebih bijaksana atau kompeten.
Sebaliknya, jika pendidikan menempatkan pemahaman, rasa ingin tahu, integritas, dan kemampuan memecahkan masalah sebagai bagian penting dari pembelajaran, AI dapat menjadi alat yang bermanfaat.
Tanggung jawab ini berada pada banyak pihak. Siswa perlu menggunakan AI secara bertanggung jawab. Guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang mendorong pemahaman. Sekolah perlu menyediakan pedoman dan dukungan. Sementara itu, pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan perlu memastikan bahwa pemanfaatan teknologi diikuti dengan peningkatan kompetensi pendidik serta pemerataan akses.
Kita tidak dapat menghentikan perkembangan AI, tetapi kita dapat menentukan bagaimana teknologi itu digunakan dalam pendidikan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan di era AI tidak seharusnya diukur dari seberapa cepat siswa menyelesaikan tugas atau seberapa canggih teknologi yang digunakan di ruang kelas. Ukuran yang lebih penting adalah apakah siswa benar-benar memahami apa yang dipelajarinya, mampu menilai informasi secara kritis, dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadapi persoalan nyata.
Sebab, ketika mesin semakin mudah memberikan jawaban, kemampuan manusia untuk berpikir justru menjadi semakin berharga.
