Mengapresiasi Karya Sastra Novel Berjudul Air Mata Surga Karya E. Rokajat Asura

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tulisan dari Fina Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Air Mata Surga karya E. Rokajat Asura yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2012 dan memiliki 32 bab dengan 316 halaman ini menceritakan tentang seorang gadis kecil penghafal Al-Qur’an bernama Baraah Sameh yang berjuang melawan kanker ganas diusianya yang masih sangat belia. Baraah adalah anak tunggal dari seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar di Sayyedah Zainab Mesir.
Beberapa waktu kemudian Baraah dan orang tuanya harus pindah ke Makkah karena ayahnya dipindahkan tugas ke sana. Mereka tinggal di sebuah apartemen, disana Baraah memiliki sahabat baru yang sebaya dengannya bernama Dinia, Baraah selalu menyempatkan waktu untuk menghafal Al-Qur’an dan bertukar cerita dengan sahabatnya. Mereka berdua memiliki mimpi yang sama, yaitu berkeliling dunia.
Setelah tinggal di Makkah, ibu Baraah sering merasakan sakit di bagian perut, awalnya ia tidak memberitahukan kepada suami maupun anaknya. Hingga suatu hari ibu Baraah jatuh pingsan dan setelah di periksa oleh dokter ibu Baraah difonis mengidap kanker stadium akhir. Setelah difonis kanker, ibu Baraah berfikir untuk memberitahu putrinya tentang penyakitnya itu. Ibu Baraah berpesan kepadanya “Baraah aku akan pergi ke surga, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak….”
Gadis kecil itu tidak terlalu mengerti dengan apa yang ibunya katakan. Seiring berjalannya waktu Baraah mulai merasakan perubahan dengan keadaan ibunya, terutama ketika ibunya mulai dirawat di rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan mengaji untuk ibunya sampai malam hingga ayahnya datang dan membawanya pulang.
Hingga suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah Baraah melalui telfon bahwa kondisi istrinya sudah sangat buruk dan ia diminta datang secepatnya. Kabar tersebut membuat ayah Baraah segera menjemput Baraah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ayah Baraah meminta Baraah untuk tinggal di mobil, sehingga ia tidak akan kaget jika melihat ibunya telah meninggal dunia.
Ayah Baraah bergegas keluar dari mobil dengan berderai air mata, lalu ia menyebrang jalan untuk masuk ke rumah sakit, akan tetapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah Baraah. Ia meninggal seketika di depan putrinya itu. Suara teriakan Baraah terdengar sangat kencang dari dalam mobil “babaaaaaaa...” tangis gadis kecil itupun pecah, dengan berderai air mata Baraah keluar dari mobil dan mendatangi ayahnya yang sudah tergeletak dengan bersimbah darah di tengah jalan.
Penderitaan Baraah belum selesai sampai disini. Berita kematian ayahnya disembunyikan dari ibu Baraah yang masih kritis di rumah sakit. Namun setelah lima hari sejak kematian ayahnya, ia mengikuti lomba musabaqah tingkat provinsi, saat telah selesai tampil kabar buruk datang, pihak rumah sakit memberi kabar kepada bu Fateema bahwa ibu Baraah meninggal dunia. Dunia seakan berhenti sejenak, kini gadis kecil itu sudah menjadi yatim piatu dalam waktu yang sangat singkat.
Setelah mendengar kabar kematian mama Baraah, teman-teman ayahnya segera mencari keluarga Baraah di Mesir. Tak lama setelah dikabarkan oleh teman-teman ayahnya, paman dan bibi Baraah pun datang menjemput Baraah untuk kembali tinggal di Mesir bersama mereka. Tak berapa lama tinggal di Mesir, gadis kecil Baraah mulai mengalami nyeri seperti yang pernah dialami ibunya.
Paman dan bibinya pun langsung membawanya memeriksakan diri ke dokter. setelah beberapa kali tes di ketahui Baraah juga mengidap kanker. Tapi sungguh mengejutkan saat ia di beritahu kalau dirinya menderita kanker, inilah perkataan yang terucap dari mulut Baraah : “Alhamdulillah, saya akan ke surga bertemu mama dan baba.” Paman dan bibinya sangat terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya.
Di tengah kondisinya sekarang, Baraah tetap menghafal Al-Qur'an. Ia selalu ingat pesan ibunya. “Jangan pernah meninggalkan Al-Qur'an. Jika kamu meninggalkannya sehari, maka ia akan meninggalkanmu seminggu. Jika kamu meninggalkannya seminggu maka ia akan meninggalkanmu sebulan. Begitu seterusnya..". Hingga kini, Baraah sudah mampu menghafal hampir 30 juz.
Karena sel kanker yang sudah semakin menyebar, Baraah pun harus melakukan operasi. Ya, kaki gadis kecil itu terpaksa harus diamputasi agar kanker tidak semakin menyebar. Walau telah kehilangan salah satu kakinya, Baraah tidak pernah berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allah atas segala penderitaan yang datang bertubi-tubi kepadanya. Dia tetap konsisten menghafalkan Al-Qur'an seperti yang diperintahkan almarhumah mamanya.
Baraah mulai menjalani hidup seperti biasa, namun beberapa waktu berlalu Baraah selalu merasakan sakit kepala yang luar biasa dan juga sering kali pingsan tanpa sebab. Ternyata hal itu disebabkan oleh sel kanker yang sudah menjalar ke dalam otak. Baraah mengalami koma yang cukup lama, ia beberapa kali siuman namun berkali-kali pula kembali koma.
Hingga beberapa hari kemudian paman Baraah mendapatkan kabar bahwa ada pengusaha dermawan yang ingin membiayai operasi otak gadis penghafal Al-Qur’an itu, pengusaha tersebut berasal dari Saudi, namun beliau enggan menyebutkan identitasnya. Dalam keadaan yang sangat kritis Baraah diterbangkan ke London untuk menjalani operasi di rumah sakit internasional yang ada disana.
Dalam novel ini terdapat beberapa tokoh diantaranya yaitu Baraah gadis menghafal Al-Qur’an, baba Baraah yang bernama Husanain, ibu Baraah yang bernama Wala Mahha, bu Fateema, sahabat Baraah yang bernama Dinia, mama Dinia, papa Dinia, bibi Baraah, dan paman Baraah yang bernama Ami Hasan.
Alur dalam novel ini adalah alur konvensional, hal itu menyebabkan novel ini sulit dipahami jika tidak dengan serius membacanya. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini cukup mudah dipahami. Menurut saya amanat yang terkandung dalam novel ini ialah, kita tidak boleh putus asa apalagi sampai menyerah atas segala ujian yang diberikan Allah, karna yakinlah bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambanya.
Tokoh Baraah dalam novel ini pun menurut saya amat sangat menginpirasi, karna kesabaran dan keikhlasan dalam dirinya yang sangat luar biasa dalam menerima segala cobaan dan juga semangatnya yang tak pernah sirna dalam menghafalkan ayat suci Al-Qur’an.
Saat mengapresiasi sebuah sastra, tentunya setiap orang memiliki pemahaman dan pandangan yang berbeda mengenai kelebihan dan kekurangan dari sastra tersebut. Pendapat saya tentang kelebihan novel Air Mata Surga ini yaitu ceritanya sangat bagus dan menginspirasi, banyak terdapat nilai religius di dalamnya. Namun menurut saya kekurangan dari novel ini ialah pembagian babak cerita yang membuat rancu para pembaca, karna kurun waktu yang diceritakan dalam beberapa bab ada yang berbeda-beda seperti maju mundur.
