Konten dari Pengguna

Ketika Media Sosial Ikut Membesarkan Anak, ke Mana Peran Keluarga?

Keluarga sering disebut sebagai sekolah pertama bagi anak. Di dalam keluarga, anak belajar berbicara, bersikap, serta memahami nilai dan norma. Namun, di era digital, proses belajar tersebut tidak hanya berlangsung di rumah, tetapi juga melalui internet dan media sosial.

Konten yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi cara anak berkomunikasi, mengikuti tren, hingga memandang lingkungan sekitarnya. Anak bisa meniru gaya bicara kreator favoritnya, mengikuti perilaku yang sedang populer, atau menganggap sesuatu sebagai hal yang wajar karena sering melihatnya di internet.

Lantas, bagaimana peran keluarga ketika media sosial ikut membentuk perilaku anak?

Illustrasi Keluarga dan Media Sosial. Foto by Generated AI

Keluarga sebagai Agen Sosialisasi Pertama

Keluarga merupakan agen sosialisasi primer, yaitu lingkungan pertama tempat anak mempelajari nilai, norma, dan perilaku sosial. Melalui interaksi sehari-hari, anak tidak hanya belajar dari nasihat orang tua, tetapi juga dari cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain.

Dalam kehidupan keluarga, proses tersebut terlihat ketika anak meniru cara orang tua berbicara atau belajar memahami perilaku yang dianggap pantas. Namun, ketika anak mulai aktif menggunakan media sosial, orang tua bukan lagi satu-satunya sumber contoh yang ditemui, anak juga berinteraksi dengan berbagai figur dan kebiasaan yang hadir di ruang digital.

Media Sosial sebagai Ruang Sosialisasi Baru

Media sosial kini menjadi salah satu ruang tempat anak mengenal kebiasaan, gaya hidup, dan nilai yang berkembang di masyarakat. Konten yang berulang kali dilihat dapat menjadi referensi bagi anak dalam berkomunikasi maupun berperilaku. Misalnya, anak mulai menggunakan istilah populer dari video yang ditontonnya atau mengikuti tren tertentu agar merasa diterima oleh teman sebaya.

Fenomena ini dapat dipahami melalui teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner. Teori tersebut menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lingkungan yang saling berkaitan, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sosial yang lebih luas, pengalaman digital juga perlu diperhatikan ketika membahas lingkungan tumbuh kembang anak.

Perilaku anak tidak dapat dilepaskan dari interaksi antara lingkungan keluarga dan dunia digital. Ketika nilai yang ditemui di media sosial berbeda dengan nilai yang diajarkan di rumah, anak dapat menghadapi kebingungan dalam menentukan sikap. Meski demikian, pengaruh tersebut tidak selalu sama karena anak juga memiliki pengalaman, kemampuan berpikir, dan lingkungan pergaulan yang berbeda.

Tantangan Keluarga dalam Pengasuhan di Era Digital

Kehadiran media sosial membuat pengasuhan tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan aturan penggunaan gawai. Anak juga perlu dibimbing untuk memahami konten yang dikonsumsi, membedakan informasi yang dapat dipercaya, dan mempertimbangkan perilaku yang mereka temui di internet.

Dalam perspektif Bronfenbrenner, hubungan antara lingkungan keluarga dan lingkungan lain turut menjadi bagian penting dalam perkembangan anak. Karena itu, orang tua dapat membangun komunikasi terbuka, mengajak anak mendiskusikan konten yang ditonton, serta menjelaskan alasan di balik aturan yang diterapkan. Pendampingan juga perlu disertai keteladanan, termasuk dalam kebiasaan orang tua menggunakan media sosial.

Persoalan dalam fenomena ini bukan sekadar apakah media sosial lebih berpengaruh daripada keluarga. Media sosial memang menjadi bagian dari lingkungan sosialisasi anak, tetapi keluarga tetap berperan dalam membantu anak memahami dan menyikapi pengaruh tersebut. Di tengah dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, tantangan keluarga bukan hanya melindungi anak dari konten tertentu, melainkan juga membekali mereka agar mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.