Pentingnya Komunikasi Krisis dalam Menanggulangi Covid-19 di Indonesia

Mahasisa Administrasi Publik, UNY
Tulisan dari Fira Alviony tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia kini sedang dalam masa yang kurang baik. Hal ini dikarenakan Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang tercemar Coronavirus atau Covid-19. Penyebaran virus ini tidak hanya di kota-kota besar saja akan tetapi juga di kota-kota kecil bahkan desa.
Adanya penyebaran virus Covid-19 tentu saja tak membuat pemerintah berpangku tangan. Dalam penanganannya pemerintah melakukan berbagai macam cara, salah satunya dengan melaksanakan komunikasi krisis.
Komunikasi krisis menurut Fearn-Banks (2002:2) merupakan "crisis communication is the dialog between the organization and its publics prior to,during, and after the negative occurrence" Yang artinya menyatakan bahwasannya krisis komunikasi adalah dialog yang terjadi antara perusahaan dan publik dalam waktu sebelum dan setelah krisis.
Selain itu, Coombs & Sherry(2010:20) juga mengatakan "crisis communication can be defined broadly as the collection, processing, anddissemination of information required to address a crisis situation". Yang artinya komunikasi krisis secara luas dapat didefinisikan sebagai pengumpulan, pengolahan, dan penyebaran informasi yang diperlukan untuk mengatasi situasi krisis.
Dari definisi tersebut kita mampu memahami bahwa adanya komunikasi krisis sangat penting dilakukan agar informasi dapat disampaikan dengan jelas dan mampu menyaring informasi-informasi yang muncul di masyarakat. Dalam hal ini pula, pemerintah perlu melakukan komunikasi secara intens dengan masyarakat untuk mengurangi kesimpang siuran informasi yang sampai ke telinga masyarakat. Saat ini pemerintah telah melakukan komunikasi krisis seputar himbauan untuk stay at home atau self-quarantine, penggunaan masker, jaga jarak sampai penyampaian informasi terkait perkembangan dari kasus COVID-19 ini.
Penyampaian komunikasi krisis ini tidak bisa dilakukan asal-asalan karena komunikasi krisis memiliki prinsip-prinsip yang menyebutkan bahwa untuk melaksanakannya diperlukan data dan informasi yang benar-benar valid didasarkan pada fakta-fakta yang ada serta penyampaiannya harus cepat dan tepat.
Sebelum komunikasi krisis dilakukan, maka pemerintah memerlukan manajemen krisis sebagai upaya untuk menyiapkan berbagai strategi, cara dan taktik dalam menangani krisis yang terjadi seperti pandemi Covid-19 saat ini.
Dalam manajemen krisis seharusnya berorientasi pada keselamatan publik dengan mengurangi risiko yang muncul akibat kepanikan publik, meminimalisir kekhawatiran yang dirasakan publik, meminimalisir adanya spekulasi yang muncul agar tidak membuat kesimpangsiuran informasi yang seharusnya diterima oleh masyarakat. (Kriyantono, 2012:189)
Dalam kasus penanganan wabah penyakit yang tersebar di dunia, Anthony de Mello pernah menyampaikan bahwa jumlah korban jiwa bisa berkali-kali lipat apabila terjadi ketakutan di masyarakat pada saat wabah terjadi. Seribu orang menjadi korban dikarenakan sakit, akan tetapi empat ribu orang menjadi korban dikarenakan panik. (Mello, A. D. (1997) The Heart of the Enlightened: A Book of Story Meditation. Glasgow:Fount Paperbacks).
Dikarenakan hal tersebut masyarakat Indonesia diharapkan agar tidak panik terhadap kasus Covid-19, akan tetapi tidak panik bukan berarti kita bisa sesuka hati tanpa melakukan himbauan. Kita harus tetap waspada dan bijak dalam menghadapi pandemi ini dengan mengikuti segala himbauan pemerintah untuk menjaga diri serta keluarga.
Penulis : Fira Alviony I (Mahasiswa Administrasi Publik, UNY)
