Belanja Online dan Tanggung Jawab Kita Sebagai Warga Digital

Mahasiswa Universitas Jember, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syafiera Tyan Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belanja online kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari kebutuhan rumah tangga hingga barang hiburan, semuanya bisa dibeli dengan mudah hanya lewat ponsel. Kemudahan ini membuat masyarakat semakin terbiasa bertransaksi secara digital.
Namun dibalik kenyamanan itu, muncul pertanyaan penting: apakah kita sudah bijak sebagai warga digital? Sebab, cara kita berbelanja tidak hanya mencerminkan gaya hidup, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai warga negara di era teknologi.
Sebagai warga digital, kita tidak hanya dituntut untuk mahir menggunakan teknologi, tetapi juga bertanggung jawab atas setiap keputusan yang kita buat di ruang digital, termasuk ketika berbelanja online. Kita memiliki hak untuk memperoleh informasi produk yang jelas, menikmati keamanan transaksi, serta mendapatkan layanan yang terpercaya. Namun, hak tersebut juga diimbangi dengan kewajiban untuk membaca detail produk secara teliti, memeriksa keaslian toko, menjaga kerahasiaan data pribadi, dan menghindari tindakan yang merugikan penjual maupun konsumen lain. Tindakan sederhana seperti memberikan ulasan yang jujur, tidak menyebarkan informasi palsu, serta menghargai kebijakan penjual merupakan bagian penting dari etika digital. Dengan demikian, kita bukan hanya menjadi konsumen yang cerdas, tetapi juga warga digital yang beretika dan bertanggung jawab.
Dari pasar ke ponsel
Dulu, belanja itu butuh usaha. Kita harus keluar rumah, pergi ke pasar atau mal, memilih barang satu per satu, menenteng kantong belanjaan pulang dan bertemu langsung dengan penjual. Sekarang, cukup buka aplikasi di ponsel, semua kebutuhan dan keinginan tersedia dalam satu genggaman. Praktis, cepat, dan bisa dilakukan kapan pun. Tidak heran jika banyak orang yang ketagihan, terutama saat promo tanggal kembar seperti 12.12 atau flash sale, banyak orang yang rela begadang demi harga murah.
Dalam lima tahun terakhir, transaksi e-commerce di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data dari Bank Indonesia yang dikutip dari Kontan.co.id, nilai transaksi e-commerce terus meningkat dari Rp 205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp 487,01 triliun pada 2024. Angka ini menunjukkan betapa cepatnya masyarakat beralih ke belanja online.
Namun pertanyaannya tetap sama: apakah kita membeli karena butuh, atau sekedar tergoda?
Pertanyaan ini penting, karena sebagai warga negara, pola konsumsi kita ikut membentuk budaya digital dan memengaruhi sektor ekonomi lainnya.
Beli karena Diskon, bukan karena Perlu
Sering kali, kita tidak benar-benar membutuhkan sesuatu, tetapi begitu melihat tulisan diskon besar atau flash sale, langsung tergoda. Barang yang tadinya tidak ada di daftar belanja, tiba-tiba masuk keranjang lalu dibeli dengan alasan klasik: "Kapan lagi dapat harga segini?"
Jujur saja, saya pun sering checkout barang bukan karena perlu, melainkan karena merasa rugi kalau promo atau voucher diskonnya dibiarkan lewat begitu saja. Kadang memang ada barang yang dibutuhkan, tapi tidak jarang juga tergoda hanya karena harganya murah. Rasanya sayang banget jika tidak dimanfaatkan.
Ternyata, bukan cuma saya yang begitu. Teman saya juga mengalami hal yang sama. Hampir setiap hari ada saja paket datang ke kosnya. Karena penasaran, saya sempat bertanya, “Kamu beli apa aja sih?” Dia cuma tertawa dan bilang, “Macem-macem sih, ada yang butuh, ada juga yang enggak. Lumayan ada promo, rugi kalau dilewatin.”
Dari situ saya sadar, kebiasaan belanja sekarang bukan sekedar soal kebutuhan, tetapi soal kesempatan. Padahal, kemampuan menahan diri dari belanja impulsif adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai warga digital.
Belanja Jadi Pelarian
Kini, belanja bukan cuma soal kebutuhan, tapi juga jadi hiburan. Saat lagi suntuk, bosan, atau butuh distraksi dari pikiran berat, buka aplikasi belanja rasanya menyenangkan. Scroll-scroll, lihat-lihat barang lucu, dan tanpa sadar, jari sudah menekan tombol beli. Sensasi saat paket datang memang menyenangkan, tetapi sering muncul rasa kosong bahkan penyesalan. Inilah jebakan belanja impulsif.
Perilaku impulsif ini menunjukkan pentingnya literasi digital, yakni memahami dampak finansial dan emosional dari aktivitas kita di ruang digital. Warga digital yang bertanggung jawab harus mampu mengelola perilaku konsumtif agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pasar Tradisional Mulai Sepi
Di balik ramainya belanja online, ada perubahan besar yang terasa di dunia nyata terutama di pasar tradisional. Tempat yang dulu selalu ramai, kini mulai sepi pengunjung. Penjual yang dulu mempunyai pelanggan tetap, sekarang harus memutar otak agar dagangannya tetap laku.
Kini, banyak orang beralih ke belanja online karena dianggap lebih praktis dan murah. Tapi tanpa sadar, kita juga ikut meninggalkan pasar tradisional yang selama ini menjadi sumber penghidupan banyak orang mulai dari pedagang, tukang angkut, hingga pemasok barang dari daerah.
Jika tren ini terus berlanjut, pasar tradisional bisa benar-benar kehilangan nyawanya. Padahal, di sanalah ekonomi rakyat selama ini bertumpu. Di sinilah muncul pentingnya kesadaran sosial sebagai warga negara: pilihan konsumsi kita berpengaruh pada keberlangsungan ekonomi lokal. Sebagai warga negara, kita memiliki peran untuk menjaga keseimbangan agar perkembangan teknologi tidak mematikan sumber penghidupan masyarakat kecil.
Belanja Bijak, bukan Anti Belanja
Setelah melihat dampaknya, mungkin pertanyaannya sekarang: apakah kita harus berhenti belanja online? Tentu tidak.
Belanja online bukanlah hal yang buruk. Tidak salah kok memanfaatkan kemudahan zaman, selama kita tetap bisa mengontrol diri. Masalahnya, tanpa sadar, kita sering terbawa arus belanja bukan karena perlu, tapi karena tergoda promo atau flash sale yang muncul di beranda.
Supaya tidak terjebak menjadi pribadi yang konsumtif, ada beberapa cara sederhana yang bisa kita coba:
Belanjalah saat memang benar-benar butuh, bukan hanya karena tergoda diskon besar atau promo menarik.
Tunda dulu sebelum checkout. Diamkan beberapa jam, atau bahkan satu hari. Biasanya, kalau memang tidak benar-benar perlu, rasa “pengen” itu akan hilang sendiri.
Cek lagi barang yang sudah dimiliki. Tanyakan pada diri sendiri, apakah barang baru itu benar-benar dibutuhkan, atau hanya keinginan sesaat?
Sesekali pilih belanja di pasar tradisional untuk mendukung ekonomi lokal
Kebiasaan kecil seperti ini membantu kita tetap menikmati kemudahan belanja online tanpa harus kalap, tahu batas, dan paham prioritas. Belanja online memang membawa banyak kemudahan. Namun, seperti hal lain dalam hidup, selalu ada dua sisi: ada manfaatnya, tapi juga ada risikonya jika kita tidak bijak. Jangan sampai kemudahan yang seharusnya membantu, justru membuat kita kehilangan kontrol entah karena dompet menipis, barang numpuk di rumah, atau pasar tradisional yang makin sepi.
Tidak apa-apa sesekali memanjakan diri, asal tetap tahu kapan harus berhenti. Dengan membeli sesuai kebutuhan, mempertimbangkan dampaknya, menjaga etika dalam setiap transaksi, serta menggunakan teknologi secara bijak, kita membuktikan bahwa kita mampu menjalankan peran sebagai warga digital yang bijak, beretika, dan bertanggung jawab.
