Konten dari Pengguna

Laki-Laki Lebih Dihormati? Mengungkap Stereotipe Gender dalam Budaya Jawa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firanti Widi Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keterangan gambar: "Ilustrasi keputusan final sebuah keluarga biasanya ada di tangan bapak." Ilustrasi: AI-generated by ChatGPT (OpenAI, 2026).
zoom-in-whitePerbesar
Keterangan gambar: "Ilustrasi keputusan final sebuah keluarga biasanya ada di tangan bapak." Ilustrasi: AI-generated by ChatGPT (OpenAI, 2026).

Pernah nggak kamu berada dalam sebuah obrolan keluarga, lalu mendengar kalimat, “Tunggu keputusan Bapak dulu,” padahal ibu juga sudah menyampaikan pendapatnya? Atau mungkin pernah mendengar nasihat bahwa perempuan tidak perlu terlalu tinggi mengejar karier karena pada akhirnya akan mengurus rumah tangga?

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa. Bahkan, sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk penghormatan terhadap laki-laki. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa pendapat laki-laki terkadang dianggap lebih menentukan, sementara perempuan diharapkan lebih banyak mengalah?

Pertanyaan ini menarik jika dikaitkan dengan budaya Jawa yang dikenal menjunjung sopan santun, kerukunan, dan penghormatan terhadap keluarga. Tentu saja, tidak semua keluarga Jawa memiliki pandangan yang sama. Namun, ada sejumlah nilai tradisional yang menarik untuk kita lihat kembali, terutama mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan diperlakukan.

Perempuan Jawa dan Istilah Kanca Wingking

Kalau membicarakan kedudukan perempuan dalam budaya Jawa, mungkin kita pernah mendengar istilah kanca wingking. Secara sederhana, istilah ini berarti “teman di belakang”. Dalam pandangan tradisional tertentu, perempuan lebih banyak dikaitkan dengan urusan rumah tangga, sedangkan laki-laki dianggap sebagai pemimpin keluarga.

Setyawan (2023) menjelaskan bahwa konsep kanca wingking memiliki hubungan dengan budaya patriarki, yaitu pandangan yang menempatkan laki-laki pada posisi lebih berkuasa. Namun, menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa makna kanca wingking mulai mengalami perubahan. Perempuan tidak lagi hanya dipandang sebagai pengurus rumah, tetapi juga dapat bekerja dan membantu menjalankan tanggung jawab keluarga.

Perubahan ini memperlihatkan bahwa budaya tidak selalu harus dipahami dengan cara yang sama dari generasi ke generasi. Kita tetap bisa menghargai tradisi sambil mempertanyakan kebiasaan yang mungkin sudah kurang sesuai dengan kehidupan sekarang.

Mengapa Kita Terbiasa Menganggap Laki-Laki Lebih Pantas Memimpin?

Coba ingat kembali masa kecil kita. Anak laki-laki sering didorong untuk berani, kuat, dan mandiri. Sementara itu, anak perempuan lebih sering diingatkan agar bersikap lembut, sopan, dan tidak banyak membantah.

Nasihat tersebut mungkin diberikan dengan maksud baik. Namun, jika terus diulang, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa laki-laki memang lebih pantas memimpin dan perempuan sebaiknya mengikuti.

Dalam psikologi, hal ini dapat dijelaskan melalui teori skema gender dari Bem (1981). Sederhananya, sejak kecil kita belajar mengenai sifat dan peran yang dianggap cocok untuk laki-laki maupun perempuan. Gambaran tersebut kemudian memengaruhi cara kita menilai orang lain.

Akibatnya, kita mungkin lebih mudah mempercayai laki-laki sebagai pemimpin, bahkan sebelum mengetahui kemampuannya. Sebaliknya, perempuan yang berani menyampaikan pendapat bisa dianggap terlalu dominan atau kurang sopan.

Padahal, bukankah kemampuan seseorang seharusnya dilihat dari tindakan dan tanggung jawabnya, bukan hanya jenis kelaminnya?

Ketika Perempuan Bekerja, Apakah Pandangan Itu Berubah?

Sekarang, kita bisa melihat banyak perempuan Jawa yang menempuh pendidikan tinggi, bekerja, menjalankan usaha, bahkan menjadi pemimpin. Namun, apakah perubahan tersebut berarti stereotipe gender sudah hilang?

Ternyata belum tentu.

Ginting-Carlström (2025) meneliti 18 ibu yang menjalankan usaha rumahan di sebuah komunitas Jawa. Penelitian tersebut menemukan bahwa meskipun para ibu memiliki kegiatan ekonomi, gambaran tentang perempuan ideal masih sangat berkaitan dengan perannya sebagai istri dan ibu.

Menariknya, sebagian perempuan menggambarkan pekerjaan mereka sebagai cara untuk membantu suami, bukan semata-mata sebagai pekerjaan mereka sendiri. Hal ini memperlihatkan bagaimana harapan sosial mengenai peran perempuan tetap hadir meskipun mereka sudah ikut menghasilkan pendapatan.

Namun, kita juga tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa semua perempuan Jawa mengalami hal serupa.

Dalam psikologi multikultural, ada konsep yang disebut interseksionalitas. Clauss-Ehlers et al. (2019) menjelaskan pentingnya memahami pengalaman seseorang melalui berbagai identitas dan keadaan hidup yang saling berkaitan.

Artinya, pengalaman perempuan Jawa tidak hanya dipengaruhi oleh gender dan budaya, tetapi juga pendidikan, agama, pekerjaan, serta kondisi ekonominya. Perempuan yang tinggal di kota mungkin memiliki pengalaman berbeda dengan perempuan di desa. Bahkan, dua keluarga yang tinggal berdekatan pun bisa mempunyai pandangan berbeda mengenai kesetaraan.

Karena itu, membahas stereotipe gender bukan berarti menganggap budaya Jawa sebagai penyebab tunggal ketidaksetaraan. Kita justru perlu memahami bagaimana nilai budaya berinteraksi dengan kehidupan setiap orang.

Menghormati Laki-Laki Bukan Berarti Mengabaikan Perempuan

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan menghormati ayah, suami, atau laki-laki yang lebih tua. Menghormati orang lain merupakan nilai baik yang perlu dipertahankan.

Namun, bagaimana jika penghormatan tersebut membuat pendapat perempuan dianggap kurang penting? Bagaimana jika perempuan harus selalu mengalah demi menjaga kerukunan, sementara laki-laki tidak dituntut melakukan hal yang sama?

Di sinilah kita perlu membedakan antara menghormati seseorang dan menganggap seseorang lebih tinggi hanya karena gendernya.

Salsabila et al. (2025) melalui kajian konseling multibudaya juga membahas pentingnya memahami nilai budaya Jawa ketika menghadapi persoalan kesetaraan gender. Pendekatan yang mereka tawarkan mengajak kita melihat budaya secara lebih terbuka, tanpa harus langsung menolak tradisi yang selama ini diyakini.

Dengan kata lain, kesetaraan tidak harus membuat kita meninggalkan identitas sebagai orang Jawa. Justru nilai seperti tepa selira, atau tenggang rasa, dapat menjadi dasar untuk saling memahami dan menghargai.

Perubahan Bisa Dimulai dari Rumah

Mungkin kita membayangkan kesetaraan gender sebagai persoalan besar yang hanya bisa diselesaikan melalui kebijakan pemerintah. Padahal, perubahan juga bisa dimulai dari hal-hal sederhana.

Misalnya, ketika keluarga sedang mengambil keputusan, ayah dan ibu sama-sama diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Anak perempuan tidak langsung dianggap kurang cocok menjadi pemimpin, sementara anak laki-laki juga diajarkan membantu pekerjaan rumah.

Kita juga bisa mulai memperhatikan ucapan sehari-hari. Daripada mengatakan “perempuan harus selalu mengalah,” mengapa tidak mengajarkan bahwa setiap orang perlu belajar menghargai pendapat orang lain?

Di sekolah dan tempat kerja, kesempatan memimpin juga sebaiknya diberikan berdasarkan kemampuan, bukan anggapan bahwa laki-laki lebih tegas atau perempuan lebih cocok menjadi pendamping.

Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dibiasakan, generasi berikutnya dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kemampuan, tanggung jawab, dan hak untuk dihargai.

Pada akhirnya, budaya Jawa memiliki banyak nilai baik yang layak dijaga, seperti sopan santun, kerukunan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut tidak harus bertentangan dengan kesetaraan gender.

Kita bisa tetap menghormati ayah tanpa mengabaikan pendapat ibu. Kita juga bisa menghargai laki-laki sebagai pemimpin tanpa menganggap perempuan tidak mampu memimpin.

Jadi, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi siapa yang harus lebih dihormati, melainkan mengapa kita tidak membiasakan diri untuk saling menghormati?