Komunikasi dan Komunitas

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Firas Muhammad Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berdasarkan buku Sapiens: A Brief History of Humankind:

The Cognitive Revolution (Tree of Knowledge & The Legend of Peugeot)
Tree of Knowledge
Apakah pernah terlintas di pikiran anda mengenai seberapa jauh manusia telah berevolusi? Apakah pernah terlintas di pikiran anda seberapa beda kehidupan manusia pada zaman dahulu dengan zaman sekarang? Karena, jika anda pernah, maka jawabannya akan terdengar seperti “sangat berevolusi” atau “sangat berbeda” dan itu memang realitanya!
Percaya atau tidak percaya, manusia merupakan makhluk yang telah melewati begitu banyak perubahan dari zaman nenek moyang kita semua ke era modern ini. Dapat dikatakan, poin yang evolusioner dalam perkembangan manusia atau sapiens sebagai suatu spesies adalah dari bagaimana kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia. Dalam buku Sapiens karya Yuval Noah Harari, disebutkan bahwa sapiens mengalami cognitive revolution pada sekitar 30.000-70.000 tahun yang lalu. Revolusi ini merupakan titik perubahan yang vital pada linimasa manusia karena telah merubah bagaimana manusia berpikir dan berinteraksi. Tidak ada yang mengetahui apa penyebab dari revolusi kognitif tersebut, dapat dikatakan, hal ini hanyalah sebuah “kebetulan” yang terjadi pada gene pool sapiens. Sebuah “kebetulan” yang merubah nasib dan gaya hidup manusia ke depannya.
Cognitive Revolution berperan dalam mengubah cara kita berbahasa karena produk dari revolusi ini adalah bahasa baru yang jauh lebih maju dari bahasa-bahasa manusia purba lainnya. Bahasa baru ini bersifat lebih supple atau fleksibel, mengizinkan kita untuk merangkai beragam kata menjadi satu kalimat yang memiliki makna yang berbobot, dan dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial, maka kemajuan berbahasa ini juga menandakan kemajuan peradaban manusia. Bahasa yang baru membantu manusia lebih aktif secara sosial di komunitas masing-masing, bahasa ini juga membantu manusia dalam bertahan hidup karena kosakata dan struktur kalimat yang diciptakan mempermudah manusia untuk memahami peringatan atau larangan seperti “hati-hati di sana ada singa buas!”. Mereka telah sadar akan kekuatan yang dimiliki oleh bahasa penyatu ini, mereka sadar bahwa komunikasi dan sosialisasi merupakan kunci kerjasama dan bertahan hidup.
Fast-forward ke era modern, bahasa tentunya menjadi salah satu faktor utama yang menciptakan kesatuan dalam suatu komunitas; suku, daerah, negara. Bahasa menjadi pengikat jutaan hingga milyaran manusia karena manusia mengakui bahwa caranya untuk bertahan hidup, atau mungkin, sukses, adalah dengan memahami bagaimana caranya berkomunikasi secara baik dengan orang-orang. Bahasa Indonesia menyatukan 1340 suku yang berada di negara tercinta ini, kita semua berada di bawah payung indonesia dan bahasanya itu. Dalam skala yang lebih besar, Bahasa Inggris telah menjadi bahasa internasional dan telah menyatukan lebih dari 1.4 milyar manusia (18% populasi) di muka bumi ini (Talbot, 2023). Bukankah ini statistik di atas cukup menggambarkan seberapa pentingnya bahasa?
Dalam fungsi bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi untuk menuju kemajuan individu atau kelompok, secara detailnya, bahasa bisa menjadi penyatu suatu kelompok melalui gosip. Kenapa? Karena, pada esensinya, gosip merupakan aktivitas bertukar informasi, sehingga, dalam konteks bertahan hidup, secara tidak langsung menciptakan kelompok kelompok kecil yang berfungsi untuk bertukar informasi; baik mengenai oposisi dalam suatu persaingan, maupun hanya sekedar outliers dari suatu kelompok. Gosip juga turut bantu meningkatkan kepercayaan antar-individu dalam suatu kelompok akan memperkuat hubungan mereka dan menciptakan kerjasama/kooperasi yang lebih baik.
The Legend of Peugeot
Nah, selanjutnya, pada dasarnya, ambang atau threshold populasi yang stabil untuk menjadi suatu kelompok yang bergerak bersama atau di bawah suatu kepemimpinan itu hanyalah 150. Jadi selain bahasa, apa lagi, sih, yang bisa menyatukan kelompok? Apa itu faktor x yang bisa membuat ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan individu bekerja sama?
Yes! Kalau anda mengatakan bahwa manusia bisa disatukan karena adanya tujuan yang sama (di samping beragam kesamaan yang lain), maka anda benar! Harari (2014) mengatakan bahwa sebuah kesamaan antar-individu menjadi poin atau faktor kepercayaan yang dapat timbul. Kepercayaan akan suatu hal ini menjadi identitas kelompok secara kolektif, karena sesungguhnya suatu kesatuan atau kelompok berdiri atas satu identitas yang sama, baik dari nama (merek dagang), bahasa (negara), maupun tujuan (perusahaan atau organisasi).
Adanya kesamaan dari segi kepercayaan, baik fiksi maupun nyata, menjadi penyatu jumlah individu dalam suatu kelompok yang jauh di atas angka ambang 150 tersebut. Sebagai contoh mudah, Peugeot, merk mobil asal prancis, bisa berdiri dan sustain atau mempertahankan bisnis mereka karena semua pekerja memiliki suatu kesamaan. Yes, kesamaan berupa merek atau identitas perusahaan tersebut, mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai suatu kesatuan, yaitu Peugeot, dan inilah yang menjadi pendorong atau drive mereka menuju kesuksesan. Mereka mampu bekerjasama karena mereka semua memiliki satu tujuan yang sama: menjadi produsen mobil yang terhebat di dunia!
Peugeot, di antara semua merek produk di dunia, hanyalah satu contoh dari imagined reality. Apa itu imagined reality? Singkatnya, imagined reality adalah realita yang nyata karena dipercayai dan dinyatakan ada. Realita yang bukan secara objektif ada. Berbeda dengan objective reality seperti gunung, manusia, hewan, motor, meja (sebagai contoh), imagined reality bukanlah suatu hal yang memiliki wujud nyata secara material. Imagined reality adalah suatu konsep atau ide yang lalu disepakati oleh manusia untuk menjadi suatu “objek” yang ada. Contoh mudahnya? Hukum dan uang. Meskipun uang memiliki wujud seperti kertas dan koin, pada sesungguhnya, nilai uang tersebut hanyalah konsep yang diciptakan oleh manusia untuk menjadi alat transaksi.
Kesimpulan
Humans have come a long way since the dawn of time. Manusia telah berevolusi sedemikian rupa, telah melalui banyak perubahan dan perkembangan hingga bisa menciptakan kehidupan bermasyarakat yang sangat maju. Cognitive Revolution yang berperan sebagai titik awal pemersatu universal menjadi momen yang sangatlah fatal dalam sejarah manusia. Dari lincahnya berkomunikasi, manusia menjadi sangat lihai dalam bersosialisasi dalam komunitas masing-masing, dan kemampuan hebat inilah yang membuat manusia bisa bergerak bersama-sama menuju tujuan atau end goals mereka. Imagined reality, meskipun nihil dalam segi wujud material, memiliki peran yang sangat besar dalam keberlangsungan hidup manusia, co-existing, karena bahasa pun merupakan contoh dari imagined reality tersebut. Apabila individu-individu memiliki satu tujuan demi kebaikan bersama, mengesampingkan perbedaan, maka besar kemungkinan (dan harapan) bahwa manusia dapat memiliki kehidupan yang lebih baik kedepannya
Referensi
Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A brief history of humankind. Random House.
Talbot, D. (2023, December 29). How Many People Speak English. Word Finder by WordsRated. https://wordsrated.com/how-many-people-speak-english/#:~:text=As%20of%202023%2C%20an%20estimated,English%20than%20any%20other%20language.
