Konten dari Pengguna

Pelampiasan Emosi: Metode yang Salah dan Metode yang Benar

Firas Muhammad Yusuf

Firas Muhammad Yusuf

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firas Muhammad Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PENDAHULUAN

Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Canva

Bagaimana seseorang akan bereaksi ketika mereka berada dalam situasi yang menjengkelkan? Apa respons pertama mereka? Bukan rahasia lagi bahwa banyak orang akan melampiaskan amarahnya seketika yang menyebabkan mereka hilang kontrol dengan harapan bahwa dengan mengekspresikan emosi tersebut mereka akan menjadi lebih tenang dan bisa berpikir lebih jernih lagi. Namun, pengendalian level emosi dengan metode melampiaskannya ke orang lain tidak sesehat yang dibayangkan karena banyaknya kerugian serta bahaya yang dapat ditimbulkannya, baik bagi pelaku maupun lawan bicaranya.

APA ITU EMOSI?

Pertama-tama, yang perlu kita ketahui terlebih dahulu adalah definisi emosi. Apa itu emosi? Emosi dapat diartikan sebagai pola reaksi kompleks yang terjadi dalam badan guna menghadapi apa pun yang menerjang kita— singkatnya, ia merupakan respons terhadap kondisi atau kejadian di sekeliling kita (Karolina, 2022). Emosi merupakan hal yang nyata dan ada dalam diri kita dan ia bukan merupakan hal yang hanya muncul sesaat saja, melainkan ia bagaikan air sungai yang deras yang akan terus menerus mengalir dan eksis atau bisa dibilang ever-present, dan satu satunya hal yang menjadi determinant atau penentu bagaimana arus tersebut mengalir adalah prefrontal cortex individu itu sendiri.

PENYALURAN & PELAMPIASAN EMOSI YANG SALAH

Emosi, unek-unek, atau perasaan pada umumnya memang harus dikeluarkan, tetapi, tidak sedikit orang memendam emosi negatif meskipun itu bukanlah hal yang bijak atau sehat bagi diri mereka, karena konsekuensi dari dipendamnya itu cukup berbahaya, seperti: melemahkan sistem kekebalan tubuh, mengakibatkan kecemasan berlebih, dan mengakibatkan depresi (Nareza, 2020). Walau demikian, karena coping mechanism orang orang saat dihadapi dengan hal hal yang tidak menyenangkan sangatlah beragam, masih banyak orang yang salah atau kurang tepat dalam menyalurkan emosi negatif mereka.

Mari kita ambil contoh yang simpel; Kekalahan saat bermain game online. Tentu, mayoritas orang menganggap bahwa kekalahan merupakan suatu hal yang sangat wajar dalam kasus di atas, namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa banyak orang yang sangat terlarut dalam suasana permainan sehingga saat kalah, mereka mengumpat, teriak teriak, dan semacamnya. Ini disebabkan karena otak mereka belum sempat membedakan mana hal yang nyata dan mana yang fiktif, mana yang game dan mana yang kehidupan asli, dan inilah yang harus diperhatikan orang.

Dalam konteks yang lebih luas, saat kita melepaskan semua amarah kita dan mengarahkannya kepada orang lain, amarah itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Amarah atau emosi negatif itu tetap ada dalam diri kita, namun kita berada di bawah ilusi yang beranggapan bahwa saat kekesalan telah dikeluarkan, maka kekesalan itu sudah hilang begitu saja, dan tentunya itu salah, karena seperti yang sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya, emosi itu ever-present, tidak hilang, hanya saja yang membedakan adalah apakah kita bisa mengendalikannya atau tidak. Terlebih, bukankah menjadikan lawan bicara kita subjek pelampiasan itu hal yang kurang baik? Hari yang bagus yang mereka jalani bisa berubah secara drastis karena mereka secara tiba-tiba jadi subjek kata kata yang tidak enak didengar, mereka bagaikan wadah penampung sampah sampah orang tersebut. Mereka juga berpotensi menjadi orang yang akan “membuang sampah” itu ke orang lain sehingga terbentuklah semacam rantai pelampiasan yang tak kunjung berakhir. Tidak adil bukan?

Nah, apakah kalian tahu cara mengeluarkan emosi yang baik dan benar itu kayak gimana? Kalau kalian menyebut metode Katarsis, kalian benar!

KATARSIS

Bagi yang belum tahu apa itu Katarsis, Katarsis dalam dunia psikologi adalah cara melepaskan rasa sakit yang telah terjadi pada diri kita dengan memvalidasi dan mengartikan perasaan tersebut dan menuangkannya secara konstruktif dan menyeluruh (Wahyuningsih, 2017). Perlu juga ditekankan lagi bahwa—seperti yang sudah disebut di atas—memendam atau mengubur emosi bukanlah keputusan yang benar, karena mampu menyebabkan ledakan emosi yang berlebihan (Wahyuningsih, 2017).

Lalu, contoh katarsis itu seperti apa saja? Beberapa contoh katarsis yang paling sering digunakan oleh masyarakat umum adalah penyampaian perasaan dan keluh-kesah dalam bentuk tulisan melalui diary book atau media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Whatsapp. Selama sifat penyampaian perasaan tersebut tidak agresif, maka dapat dibilang bahwa itu merupakan penerapan Katarsis yang benar. Kedua, katarsis juga dapat dilakukan dengan mendengarkan musik, menonton film, bermain game atau hobi hobi lainnya, ini dikarenakan kita bisa menyalurkan energi negatif yang ada dalam kita ke aktifitas aktifitas tersebut.

KESIMPULAN

Sekarang kalian sudah tahu dan sadar kan bagaimana kita seharusnya menindaklanjuti emosi negatif kita? Jangan marah marah ke orang lain ya dan jangan juga memukul benda mati karena itu sama saja dengan menyakiti diri kita lebih lanjut. Terapkan metode Katarsis dalam kehidupan kalian ya, agar kita tidak terbebani oleh perasaan dan emosi negatif kita dan agar tidak ada pihak luar yang dirugikan. Selamat berekspresi!

REFERESI

Karolina, R. R. (2022, June 3). Mengenal dan Memvalidasi Emosi. Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Retrieved December 4, 2022, from https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-singkawang/baca-artikel/15077/Mengenal-dan-Memvalidasi-Emosi.html

Nareza, M. (2020, July 11). Jangan Anggap Sepele, Ini Bahaya Memendam Emosi. Alodokter. Retrieved December 4, 2022, from https://www.alodokter.com/jangan-anggap-sepele-ini-bahaya-memendam-emosi

Wahyuningsih, S. (2017). Teori Katarsis Dan Perubahan Sosial. Jurnal Komunikasi, 11(1), 39. https://doi.org/10.21107/ilkom.v11i1.2834