Konten dari Pengguna

Bukan Kurang Dekat, Hanya Tidak Dianggap Lebih

Firda Alyanti

Firda Alyanti

mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firda Alyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Source: shutterstock

Tidak semua kedekatan memiliki tujuan yang sama. Dua orang bisa saling berbicara setiap hari, berbagi cerita, saling memberi perhatian, dan merasa nyaman satu sama lain. Namun, kedekatan tersebut belum tentu berarti bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama. Situasi seperti ini sering terjadi dalam fenomena friendzone. Seseorang mungkin merasa bahwa hubungan yang dijalani sudah cukup dekat untuk berkembang menjadi hubungan romantis. Perhatian kecil, komunikasi yang intens, dan kebiasaan menghabiskan waktu bersama kemudian dianggap sebagai tanda adanya perasaan yang lebih. Namun, kenyataannya bisa saja berbeda. Bagi salah satu pihak, kedekatan tersebut mungkin hanya sebatas pertemanan. Perhatian yang diberikan bukanlah bentuk ketertarikan romantis, melainkan karena rasa nyaman dan kepedulian sebagai seorang teman. Hal inilah yang membuat friendzone terasa begitu membingungkan. Seseorang bisa merasa bahwa dirinya sudah cukup dekat dengan orang yang disukai, tetapi tetap tidak dianggap sebagai pasangan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan tersebut, hanya saja perasaan yang dimiliki berjalan ke arah yang berbeda. Harapan juga dapat membuat situasi menjadi semakin sulit. Ketika seseorang terus menerima perhatian, ia mungkin mulai menunggu perubahan dalam hubungan tersebut. Ia berharap bahwa suatu hari perasaan yang dimilikinya akan terbalas. Namun, tidak semua kedekatan akan berakhir dengan hubungan romantis. Pada akhirnya, berada di friendzone bukan berarti seseorang kurang menarik atau kurang berharga. Terkadang, perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Seseorang bisa sangat nyaman bersama kita, tetapi tetap tidak memiliki keinginan untuk menjadikan hubungan tersebut lebih dari sekadar pertemanan. Menerima kenyataan tersebut memang tidak mudah. Namun, memahami bahwa kedekatan tidak selalu berarti ketertarikan dapat membantu seseorang melihat hubungan dengan lebih realistis. Sebab, terkadang masalahnya bukan karena kurang dekat, melainkan karena sejak awal seseorang memang tidak pernah melihat kita sebagai sesuatu yang lebih.