Kenapa Gen Z Bisa Kesepian di Tengah Ramainya Media Sosial?

mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Firda Alyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Punya ratusan teman di media sosial, puluhan grup chat, dan ribuan followers seharusnya membuat seseorang merasa tidak sendirian. Tapi kenyataannya, ramai di media sosial tidak selalu berarti ramai dalam kehidupan nyata. Bagi Gen Z, media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian. Bangun tidur membuka Instagram atau TikTok, berkomunikasi melalui WhatsApp, membagikan aktivitas di Instagram Story, sampai mencari hiburan lewat berbagai platform digital. Hampir setiap hari ada saja orang yang bisa diajak berinteraksi. Namun, di tengah semua itu, rasa kesepian tetap bisa muncul.
Banyak Koneksi, Belum Tentu Dekat
Media sosial memang membuat kita mudah terhubung dengan orang lain. Kita bisa mengetahui kabar teman yang sudah lama tidak bertemu hanya melalui unggahan mereka. Kita juga bisa berkenalan dengan orang baru yang memiliki minat yang sama. Masalahnya, jumlah koneksi tidak selalu menunjukkan kedekatan. Memiliki banyak followers bukan berarti memiliki banyak orang yang benar-benar bisa diajak berbicara ketika sedang menghadapi masalah. Begitu juga dengan memiliki banyak teman online tidak selalu berarti seseorang mempunyai hubungan yang mendalam. Interaksi di media sosial sering kali berhenti pada likes, komentar, emoji, atau sekadar membalas Story. Kita saling melihat kehidupan masing-masing, tetapi belum tentu benar-benar mengenal satu sama lain.
Media Sosial Membuat Kita Terlihat Selalu Bahagia
Ada hal lain yang membuat kesepian semakin sulit terlihat: media sosial memungkinkan seseorang memilih apa yang ingin ditampilkan. Foto nongkrong, liburan, ulang tahun, konser, atau makan bersama teman dapat membuat seseorang terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan. Namun, unggahan tersebut hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Akibatnya, kita bisa melihat orang lain seolah-olah selalu bahagia dan dikelilingi banyak orang. Sementara ketika melihat kehidupan sendiri yang sedang sepi, muncul perasaan tertinggal. “Kenapa mereka punya banyak teman, sementara aku tidak?” Pertanyaan seperti ini dapat membuat seseorang membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan melalui media sosial.
Takut Ketinggalan Juga Bisa Membuat Lelah
Fenomena FOMO atau fear of missing out juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan digital Gen Z. Melihat teman sedang berkumpul tanpa kita, mengetahui ada acara yang tidak kita datangi, atau melihat orang lain memiliki lingkaran pertemanan yang terlihat menyenangkan dapat memunculkan rasa takut tertinggal. Akhirnya, media sosial yang seharusnya menjadi tempat hiburan justru bisa menjadi sumber tekanan. Kita terus melihat kehidupan orang lain dan tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
Koneksi Digital Tidak Selalu Menggantikan Pertemuan Nyata
Komunikasi melalui layar memang praktis. Kita bisa mengobrol kapan saja tanpa harus bertemu langsung. Namun, interaksi digital memiliki keterbatasan. Ada percakapan yang terasa berbeda ketika dilakukan secara langsung. Ekspresi wajah, intonasi, bahasa tubuh, bahkan sekadar duduk bersama seseorang tidak selalu bisa digantikan oleh chat. Karena itu, mungkin persoalannya bukan pada media sosial itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah ketika interaksi digital menjadi satu-satunya bentuk hubungan sosial yang kita miliki.
Jadi, Kenapa Gen Z Bisa Tetap Kesepian?
Mungkin karena manusia tidak hanya membutuhkan koneksi, tetapi juga membutuhkan hubungan yang terasa bermakna. Kita bisa memiliki banyak followers tetapi tidak punya seseorang yang benar-benar bisa dipercaya. Kita bisa aktif di banyak grup chat tetapi tetap merasa tidak punya tempat untuk bercerita. Kita juga bisa mendapatkan banyak likes tetapi tetap merasa tidak benar-benar dilihat. Media sosial membuat kita semakin mudah terhubung, tetapi kedekatan tetap membutuhkan waktu, perhatian, dan kehadiran. Pada akhirnya, kesepian di era media sosial bukan sesuatu yang aneh. Seseorang bisa terlihat sangat aktif secara online sekaligus merasa sangat sepi secara pribadi. Mungkin yang perlu kita cari bukan lebih banyak followers atau lebih banyak teman di media sosial, tetapi hubungan yang membuat kita merasa benar-benar didengar, diterima, dan tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.
