Target Bisnis Makin Besar, Sudah Siapkah SDM Menjalankannya?

Saya seorang mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Firda Rahmayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika sebuah perusahaan ingin berkembang, biasanya perhatian akan tertuju pada target penjualan, keuntungan, jumlah pelanggan, produk baru, atau rencana membuka cabang. Target-target tersebut memang penting karena menjadi arah bagi perusahaan untuk berkembang. Namun, ada satu hal yang sering kali terlupakan, yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan menjalankan seluruh rencana tersebut.
Sebuah perusahaan bisa memiliki modal yang cukup, teknologi yang canggih, dan strategi bisnis yang bagus. Tetapi tanpa karyawan yang jumlahnya sesuai dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan, rencana tersebut belum tentu berjalan dengan baik. Pada akhirnya, manusia tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan operasional perusahaan dan mencapai target yang sudah ditentukan.
Karena itu, rencana bisnis seharusnya tidak dibuat secara terpisah dari perencanaan SDM. Ketika perusahaan menentukan arah bisnis untuk beberapa tahun ke depan, kebutuhan tenaga kerja juga perlu dipikirkan sejak awal. Perusahaan harus mengetahui apakah jumlah karyawan yang tersedia saat ini masih cukup untuk menjalankan rencana tersebut atau justru membutuhkan tambahan tenaga kerja.
Di sinilah analisis permintaan SDM memiliki peran penting. Analisis permintaan SDM merupakan proses untuk memperkirakan jumlah dan jenis tenaga kerja yang akan dibutuhkan perusahaan pada masa mendatang. Perkiraan tersebut disesuaikan dengan tujuan, rencana, dan perkembangan bisnis perusahaan.
Sederhananya, perusahaan perlu menjawab pertanyaan: “Kalau bisnis kita berkembang seperti yang direncanakan, berapa orang yang kita butuhkan dan kemampuan seperti apa yang harus mereka miliki?”
Pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi jawabannya perlu dipikirkan dengan matang. Sebab, kebutuhan SDM tidak hanya berkaitan dengan jumlah karyawan. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan posisi, keterampilan, pengalaman, produktivitas, serta kemampuan karyawan dalam menghadapi perubahan bisnis.
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki rencana untuk meningkatkan penjualan dan memperluas wilayah pemasaran. Jika sebelumnya perusahaan hanya beroperasi di satu wilayah, kemudian ingin masuk ke beberapa wilayah baru, tentu kebutuhan tenaga kerjanya dapat berubah. Perusahaan mungkin membutuhkan lebih banyak tenaga penjualan, staf administrasi, bagian distribusi, hingga supervisor untuk mengelola operasional di wilayah baru.
Contoh lainnya adalah ketika perusahaan ingin membuka cabang baru. Rencana tersebut bukan hanya tentang mencari lokasi dan menyiapkan modal. Perusahaan juga perlu memikirkan siapa yang akan bekerja di cabang tersebut. Berapa karyawan yang dibutuhkan? Posisi apa saja yang harus tersedia? Apakah perusahaan memiliki karyawan yang dapat ditempatkan di sana atau harus melakukan rekrutmen baru?
Hal yang sama juga terjadi ketika perusahaan menggunakan teknologi baru. Penggunaan teknologi mungkin dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi perusahaan bisa saja membutuhkan karyawan dengan keterampilan tertentu. Artinya, perubahan dalam strategi bisnis dapat menyebabkan perubahan pada kebutuhan SDM, baik dari sisi jumlah maupun kompetensinya.
Hubungan antara rencana bisnis dan permintaan SDM menjadi semakin jelas ketika perusahaan menetapkan target tertentu. Jika target perusahaan meningkat, perusahaan perlu melihat apakah tenaga kerja yang tersedia mampu memenuhi target tersebut. Jangan sampai perusahaan menetapkan target yang tinggi tetapi tidak menyiapkan sumber daya manusia yang cukup untuk mencapainya.
Sebagai contoh, perusahaan menargetkan peningkatan produksi sebesar 30 persen pada tahun berikutnya. Perusahaan tidak bisa hanya menghitung tambahan mesin atau bahan baku. Perusahaan juga harus melihat apakah jumlah karyawan di bagian produksi masih mampu menangani peningkatan tersebut. Jika tidak, perusahaan dapat mempertimbangkan perekrutan karyawan baru, penambahan jam kerja, peningkatan produktivitas, atau pelatihan bagi karyawan yang sudah ada.
Dari sini terlihat bahwa analisis permintaan SDM membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih terencana. Perusahaan tidak perlu menunggu sampai kekurangan karyawan baru melakukan perekrutan. Kebutuhan tenaga kerja dapat diperkirakan lebih awal berdasarkan rencana bisnis yang sudah dibuat.
Perencanaan yang dilakukan sejak awal juga dapat membantu perusahaan menghindari kelebihan maupun kekurangan tenaga kerja. Kekurangan karyawan dapat menyebabkan beban kerja meningkat, pekerjaan terlambat, dan produktivitas menurun. Sementara itu, kelebihan karyawan dapat membuat biaya tenaga kerja menjadi lebih besar dibandingkan kebutuhan perusahaan.
Selain jumlah karyawan, perusahaan juga harus memperhatikan kualitas SDM. Memiliki banyak karyawan belum tentu cukup jika kemampuan mereka tidak sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan. Misalnya, perusahaan mulai mengembangkan bisnis digital, tetapi sebagian besar karyawannya belum memiliki kemampuan dalam pemasaran digital atau pengelolaan teknologi. Dalam kondisi tersebut, perusahaan tidak selalu harus langsung merekrut orang baru. Pelatihan dan pengembangan karyawan juga dapat menjadi salah satu pilihan.
Hal ini menunjukkan bahwa analisis permintaan SDM tidak hanya menjawab pertanyaan “berapa banyak karyawan yang dibutuhkan?”, tetapi juga “karyawan seperti apa yang dibutuhkan?”. Dengan begitu, perusahaan dapat menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan arah bisnisnya.
Untuk memperkirakan kebutuhan SDM, perusahaan dapat melihat berbagai faktor. Salah satunya adalah perkembangan bisnis perusahaan. Semakin besar target pertumbuhan, biasanya semakin besar pula kebutuhan tenaga kerja, meskipun tidak selalu berarti jumlah karyawan harus bertambah secara langsung. Produktivitas, penggunaan teknologi, perubahan proses kerja, dan kondisi pasar juga dapat memengaruhi kebutuhan tersebut.
Perusahaan juga perlu melihat kondisi SDM yang sudah dimiliki. Dari jumlah karyawan yang ada, perusahaan dapat mengetahui apakah terdapat kekurangan pada posisi tertentu atau justru ada tenaga kerja yang dapat dialihkan ke posisi lain. Dengan membandingkan kebutuhan di masa depan dengan kondisi SDM saat ini, perusahaan dapat menentukan langkah yang perlu dilakukan.
Langkah tersebut bisa berupa rekrutmen karyawan baru, pelatihan, promosi, mutasi, pengembangan kompetensi, atau penyesuaian pembagian pekerjaan. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya bereaksi ketika masalah muncul, tetapi dapat mempersiapkan SDM lebih awal.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah rencana bisnis bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar target yang dibuat. Yang tidak kalah penting adalah kesiapan orang-orang yang akan menjalankan target tersebut. Rencana ekspansi, peningkatan produksi, pembukaan cabang, maupun pengembangan produk semuanya membutuhkan SDM yang sesuai.
Karena itu, analisis permintaan SDM seharusnya menjadi bagian dari perencanaan bisnis perusahaan. Ketika perusahaan merencanakan pertumbuhan, kebutuhan tenaga kerja juga harus ikut diperhitungkan. Dengan jumlah dan kompetensi SDM yang sesuai, perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menjalankan rencana bisnisnya.
Jadi, sebelum perusahaan menetapkan target yang semakin besar, ada baiknya satu pertanyaan sederhana dijawab terlebih dahulu: “Sudah siapkah SDM kita menjalankannya?”
Sebab, sebesar apa pun rencana bisnis yang dibuat, tetap ada manusia di balik setiap target yang ingin dicapai.
