Konten dari Pengguna

Keranjang Penuh, Tak Jadi Beli: Kenapa Kita Buntu Saat Pilihan Berlimpah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi dibuat dengan AI (ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi dibuat dengan AI (ChatGPT)

Pusing saat pilihan berlimpah itu nyata, tetapi bukan tanda bahwa kita lemah. Penelitian menunjukkan ada keadaan tertentu yang membuat kita buntu, dan ada cara ringan untuk menghadapinya.

Kenapa di zaman serba bisa dipilih, kita justru sering merasa buntu?

Pertanyaan itu muncul ketika saya mencari baju di pasar daring. Satu per satu baju saya masukkan ke keranjang. Makin lama makin banyak, sampai saya sendiri pusing melihatnya. Ujung-ujungnya saya berpikir, tidak usah beli saja. Atau, sudahlah, beli langsung saja di toko.

Hasilnya kadang membuat saya menyesal. Beli langsung di toko ternyata sering lebih mahal.

Saya sempat mengira ini kelemahan saya sendiri. Ternyata para ilmuwan sudah lama meneliti hal ini, dan jawabannya tidak sesederhana "pilihannya terlalu banyak".

Cerita selai yang terkenal

Percobaan yang paling sering dikutip adalah percobaan selai. Dalam studi Sheena Iyengar dan Mark Lepper (2000), pembeli di sebuah toko ditawari mencicipi 6 atau 24 rasa selai. Dari mereka yang berhenti dan mencicipi, 30 persen membeli di meja dengan 6 rasa, sedangkan di meja dengan 24 rasa hanya 3 persen.

Grafik: penulis, berdasarkan data Iyengar dan Leooer (2000)

Kedengarannya meyakinkan: makin banyak pilihan, makin sedikit yang membeli. Namun, ketika para peneliti mengumpulkan puluhan percobaan serupa, gambarnya berubah. Sebuah analisis gabungan atas 50 eksperimen (63 kondisi, 5.036 peserta) menemukan efek rata-rata yang hampir nol, dengan variasi yang besar antarstudi. Artinya, banyak pilihan tidak otomatis membuat orang buntu.

Kapan banyak pilihan terasa membebani?

Analisis lanjutan atas 99 observasi dari 7.202 peserta oleh Chernev, Böckenholt, dan Goodman (2015) menemukan empat keadaan yang membuat pilihan berlimpah lebih mudah terasa membebani: pilihannya rumit untuk dibandingkan, keputusannya sulit, selera kita belum jelas, dan kita sedang ingin menghemat tenaga.

Kalau saya cocokkan dengan keranjang belanja saya, ini tafsiran saya dan bukan hasil penelitian: isi keranjang itu berbeda dalam banyak hal sekaligus, sehingga sulit dibandingkan. Saya juga belum benar-benar tahu baju seperti apa yang saya butuhkan. Dan ketika lelah, saya memilih jalan pintas: beli langsung saja.

Yang ingin hasil terbaik lebih mudah menyesal

Ada satu temuan lagi yang menarik. Dalam penelitian Barry Schwartz dan kawan-kawan (2002), orang yang selalu ingin mendapat yang terbaik (disebut maximizer) lebih tidak puas dengan keputusan belanja mereka dan lebih sering membandingkan diri dengan orang lain. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa mereka bisa merasa lebih buruk ketika pilihan bertambah. Perlu diingat, ini hubungan, bukan bukti bahwa keinginan mencari yang terbaik menyebabkan ketidakpuasan.

Lelahnya nyata, penjelasannya masih diperdebatkan

Orang sering menyebut penyebabnya "kelelahan mengambil keputusan", seolah energi otak kita habis. Rasa lelahnya memang nyata, tetapi penjelasan "energi habis" diragukan: replikasi besar di 23 laboratorium dengan lebih dari 2.000 peserta tidak menemukan bukti yang meyakinkan untuk efek yang melandasinya. Jadi lebih aman kita katakan bahwa kita memang merasa lelah, sedangkan penyebab pastinya belum disepakati.

Tips memilih apa pun agar tidak buntu

Tidak ada rumus ajaib. Namun, beberapa temuan penelitian bisa dijadikan pegangan untuk memilih apa pun, dari baju sampai tontonan:

• Kenali dulu apa yang dicari. Selera yang belum jelas termasuk keadaan yang memperbesar rasa terbebani, seperti temuan Chernev dkk. di atas. Jadi tulislah dua atau tiga syarat sebelum mulai memilih: untuk apa, dan seberapa banyak yang siap dikeluarkan.

• Batasi pilihan dan sumber informasi. Dalam penelitian Iyengar, Wells, dan Schwartz (2006), orang yang selalu mencari yang terbaik lebih bergantung pada informasi dari luar dan terpaku pada pilihan yang tidak diambil, dan dua hal itu ikut menjelaskan mengapa mereka lebih tidak puas. Jadi sisakan beberapa kandidat saja dan batasi berapa banyak ulasan yang dibaca. Angka tiga kandidat hanyalah patokan praktis, bukan angka dari penelitian.

• Tentukan seberapa baik yang sudah cukup. Penelitian yang sama menemukan bahwa pencari yang terbaik memang mendapat hasil lebih baik dalam mencari kerja, yaitu gaji awal 20 persen lebih tinggi, tetapi merasa kurang puas. Jadi pertanyaannya bukan "mana yang paling benar", melainkan "seberapa baik yang sudah cukup bagi saya".

• Putuskan, lalu tutup pintunya. Menurut Gilbert dan Ebert (2002), orang cenderung memilih keputusan yang masih bisa diubah, padahal mereka justru lebih puas dengan keputusan yang tidak bisa diubah. Jadi setelah memilih, berhenti membuka pilihan lain. Untuk keputusan yang besar, tentu perlu waktu pertimbangan yang lebih panjang.

Semua ini adalah tafsiran saya atas temuan penelitian, bukan resep yang terbukti untuk semua orang.

Lain kali, ketika keranjang saya mulai penuh, saya ingin bertanya satu hal dulu: sebenarnya saya mencari apa, dan untuk apa?

Mungkin pusing itu bukan tanda bahwa saya lemah. Mungkin itu tanda bahwa saya belum selesai menjawab pertanyaan tersebut.

Daftar Pustaka

Chernev, A., Böckenholt, U., & Goodman, J. (2015). Choice overload: A conceptual review and meta-analysis. Journal of Consumer Psychology, 25(2), 333–358. https://doi.org/10.1016/j.jcps.2014.08.002

Englert, C., & Bertrams, A. (2021). Again, no evidence for or against the existence of ego depletion: Opinion on "A multi-site preregistered paradigmatic test of the ego depletion effect". Frontiers in Human Neuroscience, 15, Article 658890. https://doi.org/10.3389/fnhum.2021.658890

Gilbert, D. T., & Ebert, J. E. J. (2002). Decisions and revisions: The affective forecasting of changeable outcomes. Journal of Personality and Social Psychology, 82(4), 503–514. https://doi.org/10.1037/0022-3514.82.4.503

Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When choice is demotivating: Can one desire too much of a good thing? Journal of Personality and Social Psychology, 79(6), 995–1006. https://doi.org/10.1037/0022-3514.79.6.995

Iyengar, S. S., Wells, R. E., & Schwartz, B. (2006). Doing better but feeling worse: Looking for the "best" job undermines satisfaction. Psychological Science, 17(2), 143–150. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2006.01677.x

Scheibehenne, B., Greifeneder, R., & Todd, P. M. (2010). Can there ever be too many options? A meta-analytic review of choice overload. Journal of Consumer Research, 37(3), 409–425. https://academic.oup.com/jcr/article-abstract/37/3/409/1827647

Schwartz, B., Ward, A., Monterosso, J., Lyubomirsky, S., White, K., & Lehman, D. R. (2002). Maximizing versus satisficing: Happiness is a matter of choice. Journal of Personality and Social Psychology, 83(5), 1178–1197. https://works.swarthmore.edu/fac-psychology/101/