Konten dari Pengguna

"Kerja Kok Main HP Terus?" Teguran Anak Saya yang Tak Bisa Saya Bantah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi Buatan AI (ChatGpt)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi Buatan AI (ChatGpt)

Enam bulan setelah PP Tunas berlaku, anak-anak mulai dibatasi di dunia digital. Lalu bagaimana dengan ponsel orang tuanya sendiri?

"Kerja kok main HP terus?"

Kalimat itu meluncur dari anak saya saat saya bekerja dari rumah. Refleks, saya langsung membela diri: saya sedang koordinasi di WhatsApp, mencari referensi di Google, semuanya serius soal pekerjaan.

Penjelasan seperti itu mungkin cukup untuk atasan. Untuk anak, tidak. Dan masalahnya, saya tidak bisa membantah. Pekerjaan saya memang ada di ponsel.

Dari Kursi Kecilnya, Layar Tetaplah Layar

Anak tidak membaca niat kita. Ia melihat punggung yang membungkuk ke layar. Dan ini ternyata bukan perasaan satu anak saja.

Peneliti di Calgary, Kanada, mengikuti 1.303 anak berusia 9 sampai 11 tahun dalam tiga kali penilaian. Anak-anak mengisi kuesioner tentang seberapa sering mereka merasa orang tuanya terdistraksi gawai, serta gejala kesehatan mental mereka. Hasilnya dimuat di JAMA Network Open (2024): anak yang merasa orang tuanya lebih sering terdistraksi gawai cenderung menunjukkan gejala hiperaktif dan sulit fokus yang lebih tinggi pada penilaian berikutnya. Namun, ukuran efeknya kecil, dan di beberapa perhitungan rentang kepastiannya mencakup nol. Jadi ini sinyal untuk disadari, bukan vonis.

Gambaran serupa muncul dalam tinjauan di JAMA Pediatrics (2025) yang menggabungkan banyak penelitian pada anak di bawah lima tahun. Penggunaan gawai orang tua di dekat anak berkaitan dengan kognisi dan perilaku prososial yang lebih rendah, ikatan yang lebih lemah, serta masalah emosi dan perilaku yang lebih banyak. Ukuran efeknya sangat kecil sampai kecil, dan tidak ditemukan kaitan yang bermakna dengan perkembangan bahasa.

Plot Twist: Kita Bukan Orang Tua Jahat

Arahnya ternyata juga bisa terbalik. Dalam studi Calgary tadi, anak yang lebih cemas kemudian lebih sering merasa orang tuanya terdistraksi. Para peneliti menduga, orang tua dari anak yang mengalami kesulitan mungkin menarik diri dan memakai gawai untuk mengatasi stres. Itu dugaan penulis, bukan temuan pasti.

Jadi kadang ponsel bukan sekadar hiburan. Ia tempat kita berpegangan, atau bersembunyi, saat suasana terasa berat.

Enam bulan PP Tunas: apa kabar?

Sementara itu, di tingkat negara, pagar sudah dipasang. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP Tunas, mulai efektif pada 28 Maret 2026. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut Tunas sebagai singkatan dari "Tunggu Anak Siap," seperti dikutip IDN Times.

Pada 14 September 2026, Komdigi melaporkan 28 juta akun anak telah mendapat perlindungan dari delapan platform berisiko tinggi. Sebanyak 23 juta di antaranya adalah akun Roblox yang dipindahkan ke Roblox Kids, seperti dilaporkan CNBC Indonesia. Angka itu perlu dibaca hati-hati: ia laporan platform, bukan jumlah anak unik. Dalam evaluasi yang sama, X baru mengunci sekitar 250 ribu dari perkiraan 7 juta akun anak, menurut IDN Times.

Pada 7 Oktober, TikTok melaporkan 9 juta akun dinonaktifkan, sedangkan Meta melaporkan memblokir 184 ribu akun dan memindahkan 22,5 juta akun anak ke Teen Account, menurut Kompas.com dan Antara. Komdigi menegaskan bahwa blokir akun saja tidak cukup. Yang dicatat pemerintah juga perubahan fitur menjadi lebih aman bagi anak, menurut IDN Times.

Platform Sudah Diatur, Sekolah Sudah Diatur. Ruang Tamu?

Sekolah juga bergerak. Kemendikdasmen menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 yang membatasi penggunaan gawai selama kegiatan belajar, bukan melarangnya, seperti dilaporkan CNN Indonesia. Surat edaran itu juga mengharapkan pendidik menjadi teladan dalam memakai teknologi. Ulasan Kemendikdasmen tentang surat edaran itu mengenalkan prinsip 3S yang bisa dipakai orang tua: screen time (durasi), screen zone (tempat), dan screen break (jeda).

Lalu, siapa yang mengatur ponsel di ruang tamu?

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengakui bahwa anak bisa saja meminjam perangkat orang tua atau memakai identitas orang dewasa. Karena itu, ia menyebut PP Tunas sebagai langkah awal yang memaksa orang tua lebih hadir dalam kehidupan digital anak, seperti dimuat Kemendukbangga.

Dalam sosialisasi PP Tunas pada 7 April 2026, Kemendukbangga/BKKBN mencatat tiga tantangan keluarga, menurut Rakyat Merdeka: orang tua yang belum memahami risiko seperti grooming dan fitur kontrol orang tua; kecenderungan menjadikan gawai sebagai "pengasuh digital" sekaligus perasaan kurang kompeten karena beda literasi digital antargenerasi; serta belum adanya pedoman praktis yang terstandar dan ruang diskusi antarorang tua. Penyuluh KB diminta aktif memberi penyuluhan dan pendampingan, menurut Kemendukbangga.

Saya bekerja di Kemendukbangga/BKKBN, jadi bagian ini adalah pandangan pribadi saya. Salah satu pesan yang berulang dari Menteri Wihaji sederhana: orang tua perlu "ngobrol" dengan anak supaya anak tidak hanya "ngobrol" dengan ponsel, seperti dikutip Antara. Lewat Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), ayah diajak terlibat dalam pengasuhan, misalnya mengantar anak di hari pertama sekolah dan mengambil rapor.

Tes 1 Menit: Rapor dari Anak Anda

Ini bukan tes baku. Saya menyusunnya sendiri sekadar untuk bercermin. Jawab ya atau tidak:

1. Anak saya pernah bilang ingin saya lebih jarang memegang ponsel.

2. Anak saya pernah kesal saat kami sedang bersama, tetapi saya sibuk dengan ponsel.

3. Saya pernah membuka ponsel sebenarnya untuk menghindari obrolan atau situasi yang tidak nyaman.

4. Ponsel ikut duduk di meja makan.

Jika ada satu saja jawaban "ya," Anda tidak sendirian. Jika semuanya "ya," bukan berarti Anda gagal. Itu tanda bahwa ada percakapan yang layak dimulai.

Tantangan 7 hari: "Ngobrol Dulu, Ponsel Belakangan"

Hari 2 sampai 4 mengikuti prinsip 3S dari Kemendikdasmen. Hari lainnya adalah saran saya, bukan hasil penelitian.

• Hari 1: Umumkan sebelum membuka ponsel. "Saya cek pekerjaan 10 menit, setelah itu kita main." Anak jadi tahu apa yang sedang terjadi.

• Hari 2: Meja makan bebas ponsel untuk semua. Ini penerapan screen zone.

• Hari 3: Jeda 15 sampai 20 menit tanpa ponsel. Ponsel di ruangan lain, lalu mewarnai, memasak, atau bermain bersama. Ini penerapan screen break.

• Hari 4: Tidak ada ponsel menjelang tidur. Ini penerapan screen time.

• Hari 5: Tanyakan, "Hari ini ada yang bikin kesal?" Dengarkan tanpa menasihati.

• Hari 6: Tanyakan, "Kapan Ayah atau Ibu terlalu sibuk dengan ponsel?" Siapkan hati untuk jawaban yang jujur.

• Hari 7: Buat kesepakatan keluarga yang berlaku untuk semua, termasuk orang tua.

Ada yang menafsirkan Tunas sebagai "Tunggu Anak Siap." Aturan memang bisa menunggu anak siap. Tetapi anak juga sedang menunggu kita. Menunggu orang tuanya meletakkan ponsel, menatap matanya, dan berkata, "Saya mendengarkan kamu."

Jadi, pertanyaan yang tersisa: kita, orang tuanya, sudah siap?