Konten dari Pengguna

Lansia Makin Banyak: Kabar Baik yang Perlu Kita Siapkan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: SUPAS 2025 dan proyeksi penduduk, BPS. Grafik: penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: SUPAS 2025 dan proyeksi penduduk, BPS. Grafik: penulis.

Hampir 12 dari setiap 100 orang Indonesia kini berusia 60 tahun ke atas. Kita perlu bersiap sebelum angkanya menjadi satu dari lima.

Menurut rilis hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk lanjut usia (lansia), yaitu mereka yang berusia 60 tahun ke atas, kini mencapai 11,97 persen. Angka itu naik dari 7,59 persen pada Sensus Penduduk 2010. Artinya, dari setiap 100 orang di sekitar kita, hampir 12 orang sudah lansia.

Supaya lebih terbayang, bayangkan sebuah bus berisi 50 penumpang. Pada 2025, sekitar enam di antaranya lansia. Pada 2045, jumlahnya sekitar sepuluh. (Ini hitungan sederhana dari persentase BPS.)

Grafik: penulis, berdasarkan data BPS

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Sejak 2021, persentase lansia sudah melewati 10 persen, batas yang dipakai untuk menyebut suatu negara sedang menua, seperti disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Sebarannya pun tidak merata. Dalam pemaparan hasil SUPAS 2025, BPS menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi dengan 17,83 persen, disusul Jawa Timur 15,45 persen dan Bali 15,07 persen. Hampir seluruh provinsi di Pulau Jawa pun sudah masuk fase penuaan penduduk.

BPS menjelaskan penyebabnya, yaitu umur harapan hidup meningkat dan angka kelahiran menurun. Orang hidup lebih lama. Itu kabar baik. Menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dirujuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekitar 95 persen lansia masih mandiri.

Namun, "bonus" tidak datang otomatis

Menurut Kemenko PMK, ini peluang bonus demografi kedua. Gagasannya, lansia yang tetap produktif bisa menjadi kekuatan pembangunan, sedangkan lansia yang tidak produktif dan rentan bisa menjadi tantangan.

Data menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dan Statistik Penduduk Lanjut Usia dari BPS, lebih dari separuh lansia (55,32 persen pada 2024) masih bekerja. Sekitar 83 hingga 85 persen di antara mereka bekerja di sektor informal yang minim jaminan pensiun dan perlindungan sosial. BPS menyebut alasannya beragam: masih kuat secara fisik dan mental, desakan ekonomi, dan keinginan mengaktualisasikan diri. Jadi, tidak semuanya terpaksa, tetapi tidak semuanya pilihan bebas juga.

Apa yang dapat kita siapkan

Untuk diri dan keluarga. Jaga kesehatan sejak sekarang, sisihkan tabungan hari tua, dan rawat hubungan dengan orang-orang terdekat. Kesepian juga menjadi perhatian. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menempatkan Sekolah Lansia sebagai program prioritas untuk mengurangi kesepian.

Untuk komunitas. Sekolah Lansia, yang juga dikenal sebagai Sekolah Lansia Tangguh atau Selantang, adalah pendidikan nonformal bagi lansia. Materinya mengikuti tujuh dimensi lansia tangguh: spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan, dengan kegiatan seperti senam, edukasi kesehatan, permainan edukatif, dan pengembangan hobi, menurut Kemendukbangga. Pralansia berusia 45 sampai 59 tahun pun boleh ikut.

Contohnya di Kota Pasuruan. Saat program ini diluncurkan sebagai proyek percontohan, 240 lansia belajar selama empat bulan dalam 10 kali pertemuan, terbagi ke dalam delapan kelas di delapan kelurahan. Materinya mulai dari tujuh dimensi lansia dan gizi lansia hingga terapi syukur, senam, dan kewirausahaan, seperti dicatat Kemenko PMK. Di Kecamatan Payakumbuh Timur, sosialisasi serupa disertai pemeriksaan gratis tekanan darah dan gula darah.

Seperti dilaporkan Radio Republik Indonesia (RRI), jumlah peserta Sekolah Lansia di Kota Bekasi mencapai 3.436 orang, melampaui target awal 3.000 orang. Menurut Kemendukbangga/BKKBN, Indonesia memiliki lebih dari 3.000 Sekolah Lansia. Sebagai catatan, saya bekerja di kementerian ini, sehingga tulisan ini merupakan pandangan pribadi saya. Pembaca bebas menilainya.

Untuk kebijakan. Menurut Koran Jakarta, Kemendukbangga masih merumuskan Kartu Lansia sehingga kartu itu belum ditetapkan sebagai program nasional. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan sudah menjadi kerangka koordinasi. Tugas besarnya sekarang adalah memastikan rencana itu sampai kepada lansia yang paling membutuhkan.

Lansia itu bukan "mereka"

BPS memproyeksikan bahwa pada 2045 lansia mencapai 20,31 persen atau sekitar 65,82 juta jiwa. Itu berarti satu dari setiap lima orang.

Jika hari ini usia Anda 41 tahun, empat tahun lagi Anda sudah boleh ikut Sekolah Lansia sebagai pralansia. Dan pada 2045, Anda termasuk di antara angka 20 persen itu.