Konten dari Pengguna

Lega Itu Sederhana: Ada yang Tahu?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi Buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi Buatan AI

Ruang tunggu dokter siang itu sunyi sekali.

Hanya ada aku dan seorang rekan kantor. Kami saling kenal, tapi sebatas saling mengangguk di lorong. Masing-masing memegang ponsel. Layar menyala, tapi tak satu pun dari kami benar-benar membaca.

Kamu pasti pernah di posisi itu: diam yang kaku, dua orang menunggu giliran dipanggil sambil menunggu siapa yang berani buka suara duluan.

Akhirnya aku yang menyerah. "Hai, Bang. Nunggu giliran juga? Lama ya nggak ketemu. Sehat?"

Basa-basi biasa. Tapi entah bagaimana, obrolan itu tidak berhenti di situ. Pelan-pelan, ia mulai bercerita.

Aku tidak banyak bicara. Aku mengangguk. "Iya, begitu." Sesekali kuselipkan kalimat yang bisa kamu temukan di kartu ucapan: "Wah, kamu hebat ya sudah sejauh ini." "Semangat, pasti ada jalan keluar." Aku tidak punya solusi. Aku hanya ada di sana.

Ceritanya terus mengalir. Hal-hal yang selama ini tidak kuketahui, satu per satu jadi kuketahui. Lalu ia bilang, akulah orang pertama yang mendengarnya. Padahal kami bahkan bukan teman dekat.

Di ujung obrolan ia berkata, "Makasih ya sudah mau mendengarkan. Aku lega, setidaknya ada yang tahu cerita sebenarnya dariku."

Aku sendiri? Awalnya kikuk. Lalu ikut merasakan. Dan jujur, di akhir aku juga merasa lebih baik. Berguna, sedikit saja, di tengah kesulitan orang lain.

Kalimat itu terus terngiang: setidaknya ada yang tahu. Bukan "terima kasih sudah menyelesaikan masalahku". Aku memang tidak menyelesaikan apa pun.

Kalimat itu muncul lagi ketika aku membaca soal anak muda yang curhat ke chatbot AI.

Seorang psikiater dari FKUI-RSCM menyebut sebagian anak muda kini memakai AI untuk menebak kondisi mentalnya, bahkan bercerita kepadanya saat merasa kesepian, sementara hasilnya sering keliru dan tidak boleh dijadikan dasar diagnosis. Di sisi lain, survei nasional I-NAMHS 2022 menemukan hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang memakai layanan atau konseling dalam 12 bulan terakhir.

Aku tidak sedang menyalahkan chatbot. Jam 2 pagi, ketika semua orang tidur, layar yang selalu menjawab bisa jadi tempat pertama untuk bernapas. Itu masuk akal. Riset bahkan menunjukkan pesan buatan AI bisa membuat orang merasa didengar. Tapi ada temuan yang membuatku berhenti: rasa didengar itu berkurang begitu orang tahu pesan tersebut berasal dari AI.

Apakah itu juga yang terjadi pada rekanku? Aku tidak tahu pasti. Ini tebakanku saja, bukan kesimpulan ilmiah: mungkin ia lega bukan hanya karena ada yang mendengar, tapi karena yang mendengar adalah manusia sungguhan. Seseorang yang besok pagi akan berpapasan dengannya di lorong, dan tetap ada di sana setelah ia bercerita.

Manusia sungguhan itu sering kikuk, seperti aku siang itu. Chatbot tidak pernah membuatmu canggung. Padahal mungkin kecanggungan adalah ongkos masuk yang murah untuk sesuatu yang berharga.

Yang kulakukan sebenarnya kecil: menyapa, mendengar tanpa buru-buru memperbaiki, dan memberi tanda bahwa aku mendengar. Aku bukan psikolog. Kalau beban seseorang berat, ia tetap perlu bantuan profesional. Tapi banyak orang perlu didengar dulu, sebelum siap melangkah ke sana.

Kalau orang yang nyaris asing saja bisa lega karena itu, bagaimana dengan orang-orang di meja makan kita?

Jadi, kalau minggu ini ada yang duduk diam di dekatmu sambil memegang ponsel, mungkin ia sedang menunggu giliran. Atau mungkin, ia menunggu ada yang menyapa.