Saat AI Menjawab Soal Pubertas, Di Mana Suara Orang Tua?
Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam itu, meja makan rumah terasa sedikit lebih hening dari biasanya. Di sudut ruangan, anak remaja saya duduk menekuni layar ponselnya. Jemarinya menari lincah mengetikkan sesuatu. Saat saya hampiri sambil membawa segelas air, ia buru-buru membalikkan ponselnya dengan wajah sedikit merah.
Bukan secret chat dengan gebetan atau game online yang sedang ia buka. Dengan nada setengah berbisik, ia mengaku, "Lagi nanya ke AI, Ma... Kenapa suara aku makin berat dan jerawat di jidat makin rame?"
Saya tersenyum hangat, mengusap bahunya, lalu duduk di sampingnya. Namun jujur saja, di dalam hati ada rasa terkehit yang mengusik: mengapa hal seawam ini harus ia tanyakan pada kecerdasan buatan, bukan pada orang tuanya sendiri?
Fenomena ini sejatinya sedang terjadi di banyak rumah. Anak-anak generasi hari ini tumbuh di tengah gempuran informasi. Ketika tubuh mereka mulai berubah, suara membesar, payudara tumbuh, mimpinya membasah, atau haid pertama datang, mereka tidak lagi berlari ke kamar orang tua. Mereka berlari ke mesin pencari, forum anonim, atau percakapan dingin bersama chatbot.
Secara teknis, AI bisa menjawab semuanya dengan sangat presisi. AI tahu bahwa hormon testosteron pada laki-laki dan estrogen serta progesteron pada perempuan sedang bekerja keras memicu pacu tumbuh (growth spurt). AI juga bisa menjelaskan dengan rinci bahwa mimpi basah atau menstruasi adalah penanda kematangan biologis.
Bahkan data sains dengan gamblang mencatat bahwa perkembangan area otak pusat emosi (sistem limbik) pada remaja melaju jauh lebih cepat dibanding area pengambil keputusan dan pertimbangan risiko (lobus frontal). Itulah mengapa remaja sering kali diwarnai emosi yang intens, sensitif, dan punya rasa ingin tahu raksasa untuk mencoba hal-hal baru.
Semua jawaban teknis itu ada di internet. Gratis.
Namun, ada satu hal besar yang luput dari layar monitor: AI tidak punya hati.
Mesin bisa memberi tahu cara membersihkan jerawat atau menghitung siklus haid, tetapi mesin tidak bisa menatap mata anak kita dan berkata, "Tenang ya, Kak. Perubahan tubuhmu itu normal dan indah. Kamu tidak sendirian."
Sering kali, dinding pembatas itu justru dibangun oleh kita sendiri sebagai orang tua. Kita masih sering menganggap obrolan tentang kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu, janggut, atau bahkan berkonotasi "porno".
Padahal, kesehatan reproduksi sejatinya bukan sekadar urusan biologis, melainkan paket utuh kesehatan fisik, mental, dan pergaulan sosial.
Ketika kita enggan atau canggung membuka percakapan, anak-anak akan mencari pintu lain. Dan celakanya, tidak semua pintu di luar sana aman. Risiko misinformasi, mitos menyesatkan, hingga paparan konten berisiko seperti pornografi dan perundungan siber (cyberbullying) siap mengintai anak-anak kita yang sedang haus informasi.
Data survei kesehatan menunjukkan bahaya nyata dari minimnya literasi ini. Banyak remaja yang tidak paham cara merawat kebersihan organ reproduksinya dengan benar, atau bingung membedakan mana kebiasaan yang sehat dan mana yang memicu infeksi. Lebih jauh lagi, kematangan biologis yang tidak diimbangi dengan kematangan emosional dan pendampingan orang tua sering kali menjerumuskan mereka pada perilaku berisiko, mulai dari pernikahan anak hingga masalah kesehatan mental yang berat.
Padahal, kunci masuk ke dunia remaja sebenarnya tidak serumit rumus matematika. Kita tidak perlu mendadak berubah menjadi dokter atau ahli biologi di depan mereka. Kita hanya perlu menjadi pendengar yang tidak gampang panik.
Mulailah dari hal-hal kecil yang manusiawi. Saat melihat mereka cemas menyembunyikan pembalut atau malu karena suaranya mendadak "fals", jadikan itu pintu masuk obrolan hangat. Jelaskan bahwa haid pertama atau mimpi basah adalah tanda bahwa tubuh mereka sedang tumbuh dewasa, bukan tanda bahwa mereka sudah siap menikah atau memikul beban sebagai orang dewasa. Tekankan bahwa kematangan fisik butuh dibersamai oleh kematangan mental, kesiapan pendidikan, dan tanggung jawab.
Ajarkan mereka cara mencintai dan merawat tubuh sendiri: cara menjaga kebersihan harian yang benar, pentingnya nutrisi gizi seimbang tanpa terjebak body shaming, serta keberanian untuk berkata "tidak" pada tekanan teman sebaya yang merugikan.
Rasa penasaran pada anak remaja itu wajar. Sangat wajar. Namun seperti pesan bijak yang kerap kita dengar: tidak semua rasa penasaran harus dituruti, dan tidak semua pertanyaan harus dicari jawabannya di internet.
Dunia digital dengan segala kecanggihan AI-nya mungkin bisa memberi anak-anak kita seribu fakta medis dalam hitungan detik. Namun, tidak ada algoritma di dunia ini yang sanggup menggantikan rasa aman dari sebuah pelukan, tatapan penuh penerimaan, dan kehangatan obrolan di meja makan keluarga.
Malam itu, saya menutup layar ponsel anak saya perlahan. Kami lalu mengobrol panjang lebar, diselingi tawa dan cerita masa remaja saya yang tak kalah kikuknya. Di akhir obrolan, ia bernapas lega, tersenyum, dan berkata, "Ternyata lebih enak cerita sama Mama ya."
Di situlah saya sadar: tugas kita sebagai orang tua di era digital bukanlah bersaing dengan kecanggihan teknologi, melainkan memastikan bahwa ketika anak-anak kita merasa bingung dan asing dengan dirinya sendiri, rumah adalah tempat pertama yang ingin mereka tuju.

