Selingkuh Ramai Dibicarakan Tetapi Bukan Itu yang Paling Sering Memisahkan
Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buka media sosial sebentar saja, hampir selalu ada kabar rumah tangga retak karena orang ketiga. Wajar kalau lama-lama kita mengira selingkuh adalah penyebab utama perceraian.

Benarkah begitu? Jawaban dari datanya cukup mengejutkan.
Perceraian naik, tetapi bukan karena itu
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah CNBC Indonesia pada Maret 2026 mencatat 438.168 perceraian di Indonesia sepanjang 2025. Angka itu naik sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya dan menjadi kenaikan pertama setelah turun pada 2023 dan 2024.
Lalu apa penyebab terbesarnya? Bukan orang ketiga. Alasan yang paling sering tercatat adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus: sekitar 282 ribu perkara, atau hampir dua dari tiga perceraian. Di urutan kedua ada masalah ekonomi, sekitar 106 ribu perkara.
Sementara itu, zina, alasan yang paling dekat dengan perselingkuhan, tercatat sekitar 1.100 perkara. Jumlahnya kurang dari satu persen.
Kecil, tetapi jangan buru-buru lega
Kecil bukan berarti aman. Menurut analisis CNBC Indonesia atas data BPS, perceraian karena zina naik sekitar 155 persen dalam lima tahun terakhir, menjadi 1.147 perkara pada 2025.
Kenaikan yang lebih tajam justru datang dari judi: dari 993 perkara pada 2021 menjadi 4.623 perkara pada 2025, naik lebih dari empat kali lipat. Angkanya masih jauh di bawah pertengkaran, tetapi arahnya terus naik.
Apa yang bersembunyi di balik kata "pertengkaran"?
Bayangkan sebuah lemari dengan beberapa laci. Setiap perkara cerai hanya boleh masuk ke satu laci. Ada laci "ekonomi", laci "judi", laci "zina", dan ada laci "pertengkaran terus-menerus".
Sekarang bayangkan pasangan yang bertengkar karena uang yang tidak cukup, karena salah satunya diam-diam berjudi, atau karena kepercayaan yang sudah retak. Jika alasan yang diajukan ke pengadilan adalah pertengkaran, perkara mereka masuk ke laci pertengkaran.
Pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, seperti dikutip Owrite pada 16 Juli 2026, menilai kategori ini tidak selalu menggambarkan akar persoalan. Menurutnya, konflik rumah tangga sering dipicu hal lain, seperti kehilangan pekerjaan, penghasilan yang tidak menentu, utang termasuk pinjaman daring, perselingkuhan, kecanduan judi daring, hingga pembagian kerja rumah tangga yang tidak seimbang.
Artinya, angka resmi belum bisa menjawab berapa banyak dari 282 ribu perkara itu yang sebenarnya berawal dari selingkuh, judi, atau uang. Kita tidak tahu.
Yang kita tahu: di banyak rumah, masalah tidak berhenti sebagai masalah. Ia berubah menjadi pertengkaran yang tak pernah selesai.
Pemicu yang sering dianggap sepele
Beberapa adegan di bawah ini hanya ilustrasi, bukan data. Tetapi mungkin terasa akrab.
Malam hari, dua orang duduk di meja makan yang sama. Keduanya menunduk menatap ponsel. Ketika salah satu mulai bercerita tentang harinya, jawabannya hanya "hmm". Sebuah penelitian pada generasi milenial yang menikah di Jurnal Psikologi Konseling (Juni 2025) menemukan hubungan negatif yang signifikan antara partner phubbing, yaitu mengabaikan pasangan karena ponsel, dan kepuasan pernikahan: makin sering pasangan diabaikan, makin rendah kepuasannya. Perlu dicatat, ini hubungan antara dua hal, bukan bukti bahwa ponsel menyebabkan perceraian.
Atau sebuah piring yang tak kunjung dicuci. Yang dipersoalkan sebenarnya bukan piringnya, melainkan perasaan "saya sendirian mengurus semuanya".
Atau sebuah aplikasi yang dibuka "hanya iseng" dan baru ketahuan setelah tabungan menipis. Data BPS menunjukkan perceraian karena judi sudah mencapai 4.623 perkara pada 2025.
Hal-hal kecil itu jarang masuk berita. Tetapi bisa jadi, di situlah banyak pertengkaran berawal.
Ingatlah, dahulu Anda dan pasangan adalah sepasang kekasih
Ada satu hal yang sering terlupa di tengah cekcok: orang yang sekarang berdebat dengan kita dulu adalah orang yang kita pilih. Orang yang membuat kita rela menunggu lama hanya untuk bertemu sebentar. Orang yang ingin kita ajak bercerita tentang apa saja.
Berhenti sejenak, lalu tanyakan: kapan terakhir kali kita saling memperhatikan seperti dahulu?
Namun, mendekat lagi tidak berlaku untuk semua keadaan. Kekerasan dalam rumah tangga tercatat sekitar 7.100 perkara dalam data perceraian 2025. Laporan Tahunan Mahkamah Agung 2025 juga menunjukkan sekitar 78 persen perkara perceraian di Pengadilan Agama adalah cerai gugat yang diajukan istri. Menurut Achmad Nur Hidayat, hal itu lebih mencerminkan keberanian perempuan keluar dari hubungan yang tidak aman daripada mudahnya bercerai. Jika ada kekerasan, keselamatan harus didahulukan. Layanan SAPA 129 dari Kemen PPPA dapat dihubungi melalui telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129.
Cara mendekat lagi, menurut penelitian
Kabar baiknya, mendekat lagi tidak harus dengan kejutan besar. Ada dua temuan penelitian yang bisa dicoba (dengan catatan keduanya berasal dari penelitian di luar negeri).
Pertama, menanggapi "ajakan kecil". Contohnya ketika pasangan berkata, "Eh, lihat deh." Peneliti hubungan pasangan John Gottman mengamati pasangan yang baru menikah selama enam tahun, seperti dijelaskan The Gottman Institute. Pasangan yang tetap bersama menanggapi ajakan kecil seperti itu sekitar 86 persen dari waktu, sedangkan pasangan yang akhirnya bercerai hanya sekitar 33 persen. Ini studi pengamatan, jadi sebut sebagai pola, bukan jaminan.
Kedua, melakukan hal baru yang seru bersama. Dalam eksperimen Reissman, Aron, dan Bergen (1993), 53 pasangan menikah dibagi secara acak untuk melakukan aktivitas selama 1,5 jam setiap minggu selama 10 minggu: aktivitas yang mereka anggap seru, aktivitas yang hanya menyenangkan, atau tanpa aktivitas khusus. Kelompok yang melakukan aktivitas seru melaporkan kepuasan pernikahan yang lebih tinggi daripada kelompok yang hanya melakukan aktivitas menyenangkan. Contohnya (ini ide saya, bukan bagian dari penelitian): mencoba rute jalan kaki baru, belajar memasak menu yang belum pernah dibuat, atau bermain permainan yang menantang.
Temuan dari kedua penelitian ini adalah meningkatnya kepuasan dan kedekatan, bukan jaminan pernikahan bertahan. Jadi anggap saja ini cara menghangatkan kembali, bukan tombol ajaib. Achmad Nur Hidayat juga mengingatkan bahwa komunikasi saja tidak cukup: pekerjaan yang layak, pendapatan yang stabil, dan perlindungan sosial ikut menentukan.
Kalau sendirian terasa berat, ke mana?
Tidak semua masalah harus diselesaikan berdua saja. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyiapkan beberapa program yang bisa dikenali berdasarkan tahap perjalanan keluarga. Sebagai catatan, saya bekerja di kementerian ini, sehingga bagian ini adalah pandangan pribadi saya.
Sebelum menikah. Kemendukbangga/BKKBN bersama Kementerian Agama memperkuat aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil), seperti dilaporkan Antara pada Mei 2026, sebagai bagian dari pembinaan calon pengantin untuk mencegah persoalan keluarga, termasuk perceraian.
Dalam keseharian. Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) mengajak ayah terlibat dalam pengasuhan, misalnya lewat gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah dan mengambil rapor, menurut Kemendukbangga pada Agustus 2026. Pesan GATI juga diintegrasikan dalam kelompok seperti Bina Keluarga Balita dan Bina Keluarga Remaja, menurut Antara pada Juli 2026. Ada pula gerakan Gempita Lentera Keluarga yang memperkuat delapan fungsi keluarga lewat komunikasi, informasi, dan edukasi, menurut Antara pada April 2026.
Ketika masalah mulai menumpuk. Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera atau Satyagatra, yang diatur dalam Peraturan BKKBN Nomor 15 Tahun 2023, adalah wadah layanan informasi, edukasi, konsultasi, konseling, pendampingan, dan rujukan bagi keluarga. Ketersediaannya bisa berbeda di tiap daerah, jadi tanyakan dulu ke penyuluh KB atau kantor perwakilan BKKBN terdekat.
Program-program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan keluarga. Saya belum menemukan bukti yang menunjukkan bahwa satu program tertentu menurunkan angka perceraian, jadi anggap ini sebagai bekal, bukan obat mujarab.
Jadi, benarkah selingkuh sedang marak?
Dari data resmi, selingkuh memang tercatat naik, tetapi jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan pertengkaran. Dan di balik pertengkaran itu, bisa jadi ada banyak hal yang tidak terucap: uang, kepercayaan, atau sekadar rasa tidak diperhatikan.
Mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan "siapa orang ketiganya", melainkan: kapan terakhir kali Anda mengobrol dengan pasangan tanpa membahas apa pun yang harus dikerjakan?

