Konten dari Pengguna

Mendongeng Sejarah Randuagung : Mahasiswa UB Edukasi Anak Lewat Wayang Kertas

Firdha Nur Arshyura

Firdha Nur Arshyura

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firdha Nur Arshyura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dokumentasi
zoom-in-whitePerbesar
Foto dokumentasi

Setiap tempat memiliki cerita sejarah yang dapat menjadi bagian penting dari identitasnya. Pelestarian cerita sejarah perlu dilakukan untuk generasi muda agar mereka dapat mengenal, memahami, dan menghargai akar kebudayaan mereka sendiri. Cerita sejarah dapat dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai media yang sesuai dengan usia dan minat mereka.

Hal itu dilakukan oleh mahasiswa Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kelompok 34 Universitas Brawijaya. Mereka menggelar kegiatan mendongeng sejarah Desa Randuagung menggunakan media wayang kertas sebagai edukasi kreatif untuk melestarikan cerita sejarah. Kegiatan tersebut dilakukan di SD Negeri 1 Randuagung pada hari Selasa, 22 Juli 2025 di kelas empat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan sejarah lokal kepada anak-anak dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan.

Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari program PKM, yaitu pembuatan buku cerita anak multi bahasa mengenai sejarah Desa Randuagung. Pemilihan media visual berupa wayang kertas saat kegiatan mendongeng agar cara penyampaian isi buku lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak. Pendekatan ini dipilih dan digunakan agar proses belajar selain menanamkan nila budaya lokal juga terasa menyenangkan.

Kegaiatan mendongeng diawali dengan melakukan ice breaking untuk mencairkan suasana di kelas. Ice breaking yang dilakukan adalah tepuk fokus, pada bagian tersebut siswa diminta untuk menepuk tangan sesuai aba-aba. Jika terdapat siswa yang salah atau berlebihan dalam menepuk tangan, mereka diminta maju untuk menirukan suara hewan dan disambut tawa oleh teman-temannya.

Setelah suasana kelas mencair, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mendongeng. Mahasiswa PKM membawakan cerita sejarah Desa Randuagung yang telah disusun dalam buku cerita anak. Selama mendongeng berlangsung, siswa tampak antusias menyimak alur cerita, dan sesekali tertawa saat dongeng diceritakan. Selama mendongeng, mahasiswa juga melakukan interaksi langsung dengan siswa, seperti memberikan pertanyaan sederhana, dan mengajak menirukan suara dalam alur cerita.

Setelah sesi mendongeng selesai, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi sebagai sarana bagi siswa untuk melatih keberanian berbicara di depan teman-temannya. Mahasiswa memberikan beberapa pertanyaan ringan mengenai cerita yang didongengkan. Mereka juga mengajak beberapa siswa maju ke depan kelas untuk menceritakan pengalaman belajar bersama mahasiswa PKM. Respon yang diberikan pun beragam, mulai dari jawaban yang lucu hingga menyentuh. Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa memberikan hadiah kecil kepada beberapa siswa yang sudah berani menjawab dan menceritakan pengalaman belajar dengan mahasiswa PKM. Suasana kelas pun tetap hangat dan penuh semangat hingga penutup.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PKM berharap siswa-siswi dapat lebih mengenal sejarah lokal yang ada di desanya dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri. Kegiatan serupa juga diharapkan menjadi salah satu cara yang menyenangkan untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi penerus.