Konten dari Pengguna

Esensi Kematian dan Kepada Kematian Kita Akan Takluk

Firdza Radiany

Firdza Radiany

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firdza Radiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020).  Foto: ANTARA/Muhammad Adimaj
zoom-in-whitePerbesar
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Foto: ANTARA/Muhammad Adimaj

Kehangatan alam semesta itu berupa sains. Dengan sains, manusia bisa membelah-belah fenomena-fenomena alam. Dengan sains, manusia membangun peradaban.

Sains adalah salah satu cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Sains juga cara Tuhan membuat sebuah ketetapan semesta.

Kita semua tunduk pada ketetapan (aturan Matematika dan Fisika) tersebut.

Pertanyaannya, menurut Anda apakah manusia itu bertindak bebas ?

Apakah tindakan mengedipkan mata itu murni tindakan manusia?

Dan apakah berkedip (terkedip tak sengaja) itu bukan tindakan manusia sesungguhnya?

Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis, terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free" atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan maka manusia itu dapat bertindak.

--

Suatu sore seorang wanita tua berkata kepada saya :

'Tragis sekali, lelaki itu meninggal mendadak. Semuanya yang ditingalkan merasakan duka dalam."

Padahal kematian itu tidaklah mendadak. Bagi malaikat pencabut nyawa, kematian adalah sebuah check list pekerjaan berupa tabel "Yes/No" dan "Tanggal Kematian". Kita bisa menaruh satu kolom lagi, yaitu "Jumlah Followers" pada buku catatan kematian sang malaikat.

Laiknya kehidupan, kematian itu tidak pernah mendadak. Saat hidup, kita selalu mati setiap harinya. Tergerogoti oleh ambisi manusia modern. Persentase kematian dalam diri sendiri ini akan semakin bertambah menjadi 100% sampai saatnya tiba.

Kita tidak pernah takut untuk hidup dengan perasaan mati, padahal inilah tragedi kematian sebenarnya pada manusia. Kematian jiwa saat hidup.

--

Kalau kita sudah hidup cukup lama sampai pada masa separuh putaran gasing kehidupan, kita akan tahu bahwa perjalanan hidup seseorang itu pada dasarnya adalah perjalanan mencatat. Kita pandai mencatat baik dan buruk. Kita tapi lupa di mana menaruh penghapus. Penghapus itu untuk menghapus catatan buruk. Catatan buruk kita untuk orang lain.

Kesemuanya itu tersimpan baik di rak-rak buku memori kita.

Sebuah memori merupakan fondasi karakter manusia. Memori itu adalah sebuah landasan memori.

Sejumlah petugas membawa peti mati jenazah korban penyakit COVID-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU), Jakarta, Selasa (31/3/). Foto: Reuters/Willy Kurniawan

Landasan memori ini begitu tajam melukai ingatan seseorang, sehingga menjadi pijakan kuat. Pijakan kuat itu berevolusi menjadi sebuah narasi.

Coba tanyakan ke setiap manusia :

"Apa narasi yang kamu percayai untuk bertahan hidup?"

Apa pun jawabannya, kalau kita rangkum menjadi sebuah kata "narasi', manusia akan menceritakan narasinya.

Di setiap narasinya itu, manusia tersebut akan menjadi pahlawan. sebaliknya, selalu ada penjahat di narasi kehidupan.

--

Menurut Jean Paul Sartre, manusia akan memiliki esensi jika ia telah eksis terlebih dahulu dan esensinya itu akan muncul ketika manusia mati. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih adalah hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya pada masa lalu. Oleh karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre).

Pandemi ini berlangsung 6 bulan di Indonesia, banyak menghasilkan kematian manusia. Per 4 September 2020 tercatat dan yang diakui :

  1. 7.832 kematian rakyat sipil (Data Kemenkes)

  2. 110 kematian dokter & 67 kematian tenaga medis (Data Amnesty International Indonesia)

Kematian-kematian di atas lebih dari sekadar angka, kematian mereka adalah sebuah esensi.

Kepada kematian lah kita akan takluk, dan percaya bahwa pandemi dan virus COVID-19 ini nyata. Juga pedih.

Sementara yang hidup masih saja berjuang eksis, tanpa esensi.