Indonesia, Bangsa yang Tak Tercerahkan

Konten dari Pengguna
18 Desember 2019 19:42
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Firdza Radiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia, Bangsa yang Tak Tercerahkan (249523)
zoom-in-whitePerbesar
Periode Renaissance di Eropa. (Foto : Kumparan)
ADVERTISEMENT
Mau tahu seberapa jauh ketertinggalannya cara budaya dan berpikir Indonesia dibandingkan negara-negara di Eropa?
ADVERTISEMENT
Jawabannya: terlambat 6 abad.
Enam ratus tahun.
Tujuh ribu dua ratus bulan.
Tiga puluh satu ribu dua ratus delapan puluh lima pekan.
--
Beberapa tahun terakhir menjadi masa yang gelap untuk kehidupan di Indonesia. Banyak yang tidak setuju tapi terjadi selalu akan penggunaan faktor agama sebagai politics channel oleh SEMUA pihak. Setiap keputusan kampanye pasti dibungkus dan dikaitkan dengan agama. Seperti penistaan agama, penetapan pasangan politik dari kalangan ulama, mobilisasi gerakan berdasarkan ayat, dan lain-lain.
Bagi sisi politikus dan partai politik, keputusan menggunakan agama sebagai way of politics tidak pernah diambil pusing. Itu hanya cara saja. Sesederhana itu. Tidak lebih dan tidak kurang. Sebuah keputusan artistik dari sebuah perusahaan (partai) yang melakukan penetrasi pasar berdasarkan hasil riset dan survey. Itu adalah keputusan yang efisien dan juga efektif.
ADVERTISEMENT
Sekarang di Indonesia terdapat setidaknya 2 jenis manusia:
  1. Manusia yang percaya bahwa jika ia tidak beriman pada Tuhan, maka ia tak akan mampu mencapai versi level terbaik 100 persen dari dirinya. Jika tidak ada agama, seperti ada yang hilang 75 persen.
  2. Manusia yang percaya jika bisa memisahkan faktor Tuhan dari dirinya, ia akan semakin logis juga tambah kuat. Sederhananya: tanpa Tuhan, tipe manusia ini percaya diri dan bisa mencapai versi terbaik dari dirinya.
Sayangnya mungkin 95 persen manusia Indonesia seperti jenis pertama. Sehingga sangat posesif terhadap Tuhan dan agamanya. Lalu muncullah istilah kaum 'Mabuk Agama'. Mereka ini sensitif sekali jika menyangkut agama.
Untuk konstelasi politik sendiri menjadi tidak sehat, karena variabel faktor agama menjadi lebih penting daripada sosok figur politikus itu sendiri atau ide apa yang dibawa oleh politik tersebut, maka kita tidak pernah benar-benar memilih sosok berdasarkan idenya. Tapi lebih ke hal-hal yang tidak bisa dikuantifikasi seperti wajahnya merakyat, orangnya baik, orangnya tegas seperti tentara dan yang penting beragama mayoritas.
ADVERTISEMENT
Kita akhirnya memilih karena sentimen, bukan argumen.
Gawatnya, kaum yang 'Tidak Mabuk Agama' malah menjadi apatis terhadap agama.
Kalau mau lihat betapa maju atau mundurnya sebuah bangsa, coba tengok industri televisi di negara tersebut. Jika masih banyak acara mistis dan takhayul, maka silahkan simpulkan sendiri kualitas kebudayaan bangsa tersebut.
Lucunya lagi, saat terjadi kerusuhan atau force majure, sering seorang pejabat instansi Indonesia yang berwenang mengeluarkan statement public bahwa : ‘kita semua harus ikhlas bahwa ini adalah takdir Tuhan’.
Alih-alih: ‘bencana ini sudah kami deteksi secara sains, sudah kita coba hentikan dengan langkah-langkah tim di lapangan. Berkat kerja keras dan antisipasi yang tepat, kami berhasil meninimalisir kerugian jiwa dan material.’
Lalu, tepatkah pernyataan berbau religius tersebut?
ADVERTISEMENT
Secara profesional tidak, ruang profesional tidak pernah melibatkan Tuhan dalam perencanaan kerja. Pada perencanaan bisnis (Business Plan) sebuah perusahaan, untuk mencapai target pendapatan kenaikan sekian % growth, tidak pernah disebutkan bahwa hanya dengan berdoa dan berserah pada Tuhan maka target tersebut akan tercapai. Meski setiap kegiatan bisnis di Indonesia dimulai dengan ritual pembacaan doa.
Ruang publik di Indonesia sudah dipenuhi oleh hal-hal privat, seperti Agama dan Tuhan. Banyak yang tidak bisa memisahkan mana yang perlu ditaruh di publik atau privat. Sehingga terjadi jurang sosial yang sangat nyata dan aneh seperti sekarang.
Masih sering terjadi di kota besar dan kota kecil Indonesia pertanyaan privat yang muncul di ruang publik :
ADVERTISEMENT
‘Agamamu apa?’
‘Kok tidak berdoa dan sembahyang?’
‘Hari minggu gak ke Gereja?’
‘Percuma berjilbab kalau kelakuan seperti itu’
‘Males deh sama yang jenggotan’
Kita manusia Indonesia memang hidup di dunia modern, tapi seperti hidup di zaman era kegelapan Eropa dulu.
Setelah Soekarno dan Yamin mencerahkan Indonesia, Soeharto menguburnya dengan doktrinisasi, reformasi diharapkan membawa bangsa ini ke anak tangga berikutnya, tapi ternyata tidak membawa Indonesia ke mana-mana, malah mundur ke zaman abad pertengahan.
Sekarang, selamat datang kembali di masa kegelapan Indonesia.
--
Pertanyaannya: Kenapa budaya dan pola pikir Indonesia tertinggal 600 tahun dibanding negara-negara Eropa ?
Karena sejak abad 14, terjadi pencerahan di Eropa.
Di mana sebelumnya semua berpusat pada Tuhan (teosentrisme), setelah abad 18 semua berpusat pada manusia (antroposentrisme). Tanpa menihilkan peran Tuhan, sejak itu manusia Eropa secara merdeka mulai berani berpikir bahwa manusia bisa kuat dan maju menggunakan akal sehat (sains).
ADVERTISEMENT
14 abad setelah Yesus lahir dan 9 abad setelah Muhammad lahir terjadi Pencerahan di Eropa. Pencerahan itu dinamakan Renaissance (baca : Renesang), yang berarti kelahiran kembali dan pencerahan.
Kenapa disebut kelahiran kembali dan pencerahaan ? Karena sejak masa itulah terjadi pencerahaan terhadap berkuasanya kaum Gereja dan kelahiran kembali budaya Yunani Kuno.
Kenapa terjadi Renaissance?
Mengatasnamakan Tuhan dan Agama, pada masa itu kaum bangsawan dan kaum Gereja menindas rakyat Eropa, siapa pun yang tidak sepakat dihukum dan diancam.
Segala hal pertanyaan dan penyataan yang membuat otoritas kaum bangsawan dan kaum Gereja akan diredam.
Musuh mereka tentu saja para ilmuwan dan pemikir (filsuf). Para pemberontak yang menganut humanisme ini berfikir bahwa kita manusia jangan berhenti bertanya dan berfikir. Akar dari filsafat adalah menggelengkan kepala terhadap segala sesuatu, dan akar dari ilmu sains adalah bertanya.
ADVERTISEMENT
Giordano Bruno dibakar hidup-hidup, karena mendukung teori Copernicus, pun Galileo Galilei. Rene Descartes sang pencetus “aku berfikir maka aku ada” ditangkap.
Pada masa itu banyak kejahatan negara (oleh kaum bangsawan dan kaum Gereja) yang mengatasnamakan agama yang ironisnya malah banyak kasus penangkapan dan pembunuhan yang mendegradasikan humanisme ke level paling bawah.
Karena kondisi yang sangat-sangat suram ini para pemikir dan ilmuwan berkumpul di satu kolosium.
Begini runutan cara berpikir mereka:
1. Pertanyaan : ‘Kenapa bangsawan menindas rakyat?’
Jawaban : ‘karena bangsawan mendapat legitimasi dari Gereja’
2. Pertanyaan : ‘Kenapa Gereja menindas rakyat’
Jawaban : ‘karena Gereja mendapat legitimasi dari Tuhan’
3. Pertanyaan : ‘Kenapa Tuhan menindas rakyat padahal Maha Pengasih?’
ADVERTISEMENT
Jawaban : ‘Karena nama Tuhan dicatut gereja’
4. Pertanyaan : ‘Kenapa Tuhan diam saja saat namanya dicatut Gereja? Tuhan tidak ada atau tidak peduli?’
Jawaban : ‘Karena Tuhan tidak ada’
Bahwasanya kesimpulan mereka adalah “Tuhan tidak ada” akhirnya menimbulkan pencerahan.
Indonesia, Bangsa yang Tak Tercerahkan (249524)
zoom-in-whitePerbesar
Michaelangelo, manusia Renaissance. (Foto : Kumparan)
Sejak masa pencerahan, karya-karya seni bermunculan di era Renaissance. Karya-karya seni ini adalah adalah perlawanan terhadap kaum Gereja. Leonardo Da Vinci dan Michaelangelo menjadi simbol sebagai ‘manusia Renaissance’.
Dalam masa perlawanan tersebut yang berlangsung selama 3 abad, terjadi pergolakan juga di dunia sosial politik. Terjadi sebuah ide dan gerakan”Reformasi Gereja” dipimpin Martin Luther.
Hal ini terjadi karena Gereja di masa tersebut semakin menyimpang, yaitu munculnya ‘indulgensi’, yaitu surat pengampunan dosa.
ADVERTISEMENT
Lalu juga muncul pemahaman sekularisme dari sisi pemerintahan.
Bagaimana caranya agar peristiwa di masa kegelapan Eropa tidak terjadi lagi? Bagaimana caranya memisahkan aliran kehidupan agama dan pemerintahan?
Para pemikir berkumpul lagi. Para pemikir ini terbagi menjadi 2 kubu:
Kubu yang masih mengakui keberadaan Tuhan vs Kubu yang tidak mengakui keberadaan Tuhan.
Pertanyaannya, apakah Tuhan itu masih ada ?
Para pemikir lalu membuat kesimpulan akhirnya bahwa : ‘Tuhan adalah pembuat jam tangan’.
Bahwa seperti pembuat jam tangan membuat jam tangan, memang Dia-lah yang menciptakan, tapi Dia tidak bertanggung jawab atas rusaknya mesin atau jarum jam.
Manusia dan alam semesta memang diciptakan Tuhan, tapi Tuhan tidak mencampuri kehidupan manusia.
Setelah masa Renaissance benar-benar selesai, Friedrich Nietzche pada abad 19 menyampaikan bahwa ‘Tuhan Telah Mati’.
ADVERTISEMENT
Tuhan dibunuh manusia menggunakan sains. Sejak itu, masyarakat barat meninggalkan doktrin agama, mistis, takhayul ke rasio. Hanya rasio dan akal budi yang mampu menunjukkan kebahagiaan dan kemajuan hidup pada manusia.
Sejak itu sains berkembang.
Abad 19 ditandai dengan revolusi industri. Lalu terjadi Perang Dunia dan kemajuan teknologi dan sampailah di masa kehidupan modern yang kita jalani sekarang.
Peradaban sekarang merupakan warisan Renaissance.
Peradaban maju yang tidak akan mungkin terjadi jika manusia tidak merdeka pada agama, dan beralih pada sains.
--
Sayangnya kehidupan modern ini juga memuakkan. Kehidupan yang beresiko. Ulrich Beck mengatakan kita semua di abad 20 dan 21 adalah “Risk Society”.
Kita keluar rumah berisiko terkena polusi. Kita makan sembarangan berisiko terkena cancer. Kita mau menyalakan AC dan menonton TV berisiko mematikan bumi, dan seterusnya.
ADVERTISEMENT
Kehidupan yang tidak menenangkan. Resah.
Kehidupan modern yang membutuhkan efisiensi telah melahirkan sebuah sistem yang dinamakan ‘birokrasi’. Birokrasi adalah anak kandung kehidupan modern. Birokrasi telah terjadi pada semua lini dimensi. Sistem hidup.
Positifnya sistem kehidupan menjadi tertata seperti jenjang pendidikan, akses kesehatan dan akses sains yang luas.
Negatifnya, efisiensi menimbulkan kehidupan instan. Kadang kita terjebak ilusi bahwa semuanya harus instan.
Kehidupan modern yang kita jalani sebenarnya gersang, akhirnya manusia modern mencari kedamaian.
Mencari kedamaian melalui agama. Mencari kedamaian dengan liburan. Mencari kedamaian dengan yoga dan pilates. Mencari kedamaian dengan beraktivitas dengan alam. Mencari kedamaian dengan berkompetisi memanjat sosial di platform Instagram.
Bagi beberapa manusia modern yang jenuh, kehidupan ini sangatlah absurd, ingin muntah katanya. Akhirnya manusia banyak kembali lagi ke agama.
ADVERTISEMENT
Manusia modern terjebak ilusi. Seperti sedang lari menuju kebebasan yang didambakan, ternyata kehidupan modern ini juga mengecewakan.
Jika kita sadar dan berfikir eksistensialisme, kita semua manusia modern hanya angka, hanya statistik dan alat untuk mencapai tujuan ekonomi.
Kasihan manusia modern.
Terjebak politik agama pada abad pertengahan. Merasa merdeka setelah tercerahkan. Mulai maju dengan sains dan revolusi industrinya. Lalu sekarang terjebak di kehidupan modern.
Lebih baik mana zaman kehidupan manusia?
Atau jangan-jangan zaman sebelum Yesus dan Muhammad lahir malah lebih baik?
400 tahun sebelum Yesus lahir, kebudayaan Eropa (yang tercatat) didasari oleh fondasi kebudayaan para filsuf di Yunani. Di mana semua sistem kehidupan diatur oleh para pemikir dan filsuf. Di mana ‘berpikir’ adalah sebuah kenikmatan. Zaman di mana manusia dihargai karena ‘pemikirannya’, bukan oleh besarnya penis. Iya, itulah sebabnya patung-patung Yunani kuno selalu menampilkan penis kecil. Itu adalah ejawantah dari bagaimana ‘kenikmatan berpikir’ lebih diutamakan daripada ‘kenikmatan duniawi’ lainnya.
ADVERTISEMENT
Semua peradaban dan bangsa di dunia dimulai dan didirikan oleh para pemikir, kemudian hancur oleh politikus, lalu dibangun lagi oleh para pemikir.
--
Kembali ke Indonesia.
Jika Eropa pada abad 14 sedang mulai tercerahkan. Justru pada abad tersebut Indonesia (Nusantara) mulai dijajah oleh Portugis, lalu Belanda (VoC).
Iya, jika manusia modern kasihan, lebih kasihan lagi manusia Indonesia di seluruh zaman sampai sekarang.
Tidak ada lagi pemikir seperti Soekarno, Yamin, Soe Hok Gie dan Buya Hamka.
Tidak pernah ada ‘kenikmatan berpikir’.
Karena UU ITE, sekarang orang-orang takut berpendapat. Tapi bagaimana mau berpendapat juga jika tidak ada ide? Jika budaya dialektika bangsa ini hanya berkisar sentimen, bukan argumen?
Yang ada hanya bungkus permen persona citra dan persona agama dari setiap tokoh manusia hebat di Indonesia. Isi permennya sendiri dimakan oleh oligarki. Kita cuma lalat-lalat.
ADVERTISEMENT
Kita semua mengaku beragama, tapi percaya mistis.
Kita mengaku beragama dan beriman tinggi, tapi takut untuk berdikusi ‘Apakah Tuhan Telah Mati?’ dengan inner circle kita di bar-bar Senopati. Jika memang iman kita tinggi kenapa takut berdiskusi?
Kita mengaku berpendidikan dan sarjana, tapi selalu bersembunyi di ‘exit strategy’ bernama Agama untuk hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh logika dan sains.
Iya, itulah zona nyaman kita, manusia Indonesia.
Sekali-kali coba sampaikan ke diskusi di kampung dan kampus, bahwa:
"tahu gak, sih, jika kita semua manusia modern hidup di kehidupan modern, ternyata kehidupan modern yang kita jalani sekarang dimulai dari semangat anti Tuhan."
Wah bisa geger itu kampung dan kampus, lalu viral masuk Youtube tujuh hari tujuh malam kita lupa masalah dasar bangsa ini: pendidikan dan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Kasihan manusia Indonesia.
Kita.
Kita hidup dalam suasana budaya sentimen, bukan argumen.
Kita dan suasana ini.
Masih terjebak di masa kegelapan, belum tercerahkan.
--
oleh: @firdzaradiany
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020