Pengaburan sejarah adalah kejahatan terbesar Belanda terhadap Indonesia

Konten dari Pengguna
1 Juni 2017 16:52 WIB
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Firdza Radiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Lebih tua mana antara arah Barat atau arah Timur? Jawabannya tentu saja lebih tua Timur. Di Timur lah manusia pertama ada dan semua agama beserta ilmu pengetahuan awalnya berasal dari Timur.
ADVERTISEMENT
Tapi sistem yang lebih tua akan lebih berhasil tidak bekerja di Planet Bumi. Semua berubah saat Perang Salib yang terjadi pada abad 11 sampai abad ke 13 membuka mata Negara Eropa bahwa negara Barat ternyata tertinggal dalam beberapa aspek daripada negara Timur. Eropa yang dikuasai Kekaisaran Romawi dengan Paus sepakat untuk melakukan ekspansi ke wilayah Timur. Dunia penjajahan eskpansi pun dibagi menjadi dua, utara milik Spanyol dan selatan milik Portugis, maka menyebarlah para pelaut penjajah ke seantero bumi, demi mendapatkan emas, hasil bumi. ilmu pengetahuan, rempah-rempah dan tentu saja daerah kekuasaan. Nusantara (Indonesia) masuk dalam kekuasaan Portugis mulai tahun 1.500an, tapi hanya berkisar di Maluku sekitarnya, lalu pelan-pelan ekspansi ke pulau lain.
ADVERTISEMENT
Belanda (yang saat itu masih dijajah Prancis dan masih tergabung dengan Belgia dan Luksemburg) mengirim De Houtman bersaudara dalam sebuah ekspedisi ke Nusantara dengan 4 buah kapal dan 250 awak untuk menjajaki untuk menjajah Nusantara pada tahun 1595, dengan menjajaki Banten, Jawa dan Sumatera. Portugis yang dari awal sudah berada di Nusantara berhasil menghasut Raja-Raja kerajaan Nusantara untuk mengusir Cornelis, sang De Houtman senior, sedangkan Frederick sang Junior mati dalam penjara Sumatera sambil menulis buku dan puisi. Cornelis pun pulang ke Belanda dengan pasukan yang tersisa.
Dimulai JP Coen sang ahli akuntansi  keji sebagai Gubernur pertama VOC dalam sistem kamar dagang, selanjutnya dalam rentang 3 abad selanjutnya Belanda dengan segala kekuatannya menguasai Nusantara. Penjajah lain (Portugis, Inggris dan Jepang) hanya singgah dalam waktu yang sebentar.
ADVERTISEMENT
Belanda, namanya juga penjajah, pasti tidak terlepas dari dosa kejahatan perang, yaitu banyak pribumi Nusantara (yang melawan) dibunuh oleh pasukan Belanda atau mati dalam sistem kerja paksa. Selebihnya sebenarnya rakyat Nusantara hidup normal bertani dan berdagang, sistem pemerintahan diatur oleh Belanda, bahkan Belanda juga mengatur sistem naik haji para pribumi Nusantara, Belanda kewalahan dengan besarnya minat pribumi, maka dari itu untuk menandai siapa yang sudah naik haji akan diberi gelar “Haji” di depan namanya pribumi, menandakan bahwa sudah sekali pergi haji. Sistem hukum KUHP pun diterapkan Belanda, jadi pribumi yabg berbuat jahat membunuh atau mencuri pun diadili secara normal.
Namun kejahatan terbesar Belanda terhadap Indonesia adalah upaya pembodohan terhadap pribumi Nusantara, pembodohan dalam sejarah, pendidikan dan mental. Hakekat sejati dari penjajahan adalah bukan penjajahan kekayaan alam, namun penjajahan mental. Penulis dari Swedia Juri Lina, yang pada tahun 2004 menulis buku kontroversial “Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry”, berpendapat bahwa sejarah Indonesia bukan sejarah asli karena sudah dibengkokkan atau dikaburkan oleh Belanda. Juri Lina mengungkapkan juga bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri :
ADVERTISEMENT
1. Kaburkan sejarahnya 2. Hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa dibuktikan lebenarannya 3. Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.
Bayangkan jika ketiga hal diatas dilakukan secara konsisten selama 3 abad pada rakyat negeri ini. Belanda benar-benar menerapkan 3 hal diatas. Namun pada abad 19 Belanda mulai melakukan politik balas budi, yaitu anak bangsawan berhak mendapatkan ilmu melalui sekolah. Bayangkan sejak abad 16 hingga 19 berarti pribumi kita tidak mendapat akses ilmu dan penjajahan mental. Sementara bangsa di luar sana berlari kencang.
Di lain hal negeri ini juga lemah dalam hal Filologi, kemampuan menyimpan berkas-berkas sejarah. Saya tidak ingat bahwa para siswa-siswa di negeri ini mampu pergi ke museum dengan bangga sembari membaca berkas kertas, perkamen atau buku asli (ataupun tiruan jika ada) dari penulis sejarah, penyair atau apapun itu yang berumur ratusan atau ribuan tahun. Yang saya ingat hanya berkas asli kertas Proklamasi Kemerdekaan, yang bahkan dibuat terburu-terburu tanpa tedeng aling-aling ingin merdeka dalam secepat-cepatnya.
ADVERTISEMENT
Jadi kita ini keturunan bangsa hebat kah? Seberapa hebat leluhur kita ? Apakah benar kita keturunan Bangsa Atlantis? Apakah benar The Great Aleaxander adalah Iskandar Muda Agung dari Nusantara ? Apa tidak aneh tiba-tiba dulu ada pergerakan Boedi Utomo? Sejauh apa Soekarno dan Soeharto jujur dalam sejarah Indonesia?
Entah sedalam apa Belanda “menjajah” kita, sejarah memang selalu ditulis oleh sang Pemenang, tapi sejarah Indonesia, sejarah bangsa kita, ditulis ulang oleh Belanda.
Sampai di UUD'1945 ,kita terlihat sangat galau sampai sekarang kata “tumpah darah” menempel di otak kita. Sampai di hymne “Mengheningkan Cipta” terdapat kata “di ribaan Merdeka, bela Nusantara”.
Bangsa kita terkenal ramah, rendah hati, juga rendah diri. Bangsa kita juga terkenal dengan kemampuan “nerimo” dan kemampuan berdikir positif bahkan disaat keadaan buruk terjadi misal untuk kasus bacaan ini kita akan terbiasa otomoatis untuk berfikir “Alhamdulillah kita masih beruntung jika dibandingkan dengan penduduk negara Korea Utara atau Timbuktu.” 
ADVERTISEMENT