Konten dari Pengguna

Generasi Serba Instan: Apakah Teknologi Melemahkan Daya Juang dalam Belajar?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firenia Aprilaniki Iswandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang mengedit konten di laptop. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang mengedit konten di laptop. Foto: Shutterstock

"Teknologi sekarang udah canggih banget, ngapain repot, Suruh AI ngerjain aja ga si"

Kemudahan teknologi terutama hadirnya Artificial Intelligence atau lebih dikenal dengan AI telah mengubah cara individu dalam mencari informasi dan menyelesaikan tugas. Proses belajar yang dulunya melibatkan proses membaca, berdiskusi, dan mencoba kini dapat diperoleh dan diselesaikan hanya dalam hitungan detik.

Namun, apabila individu diminta untuk menjelaskannya kembali, ia justru mengalami kesulitan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: ketika teknologi memberikan kemudahan untuk mendapatkan hampir semua hal secara instan, apakah peserta didik masih memiliki daya juang untuk menjalani proses belajar yang tidak instan?

Generasi Serba Instan

Sebutan generasi serba instan melekat pada anak muda saat ini, terutama Gen Z. Sebutan ini bukan berarti seluruh generasi muda saat ini malas dan tidak memiliki ketekunan. Melainkan menggambarkan lingkungan belajar yang menawarkan berbagai kemudahan hingga berpotensi melewati sebagian proses berpikir dalam belajar. Fenomena ini mengubah tantangan di dunia pendidikan, tantangan utama dalam belajar saat ini bukan lagi memperoleh informasi namun membangun kesadaran untuk memahami, mempertanyakan, dan memeriksa informasi yang diperoleh.

Generasi serba instan bukan selalu tanpa daya juang. Mereka hanya hidup dalam lingkungan yang menawarkan lebih banyak jalan pintas daripada generasi sebelumnya. Dengan demikian, yang perlu dibangun bukan ketakutan terhadap teknologi, namun kemampuan untuk dapat menggunakan teknologi di saat yang tepat.

Pentingnya Daya Juang dalam Belajar

Belajar merupakan proses menghadapi kebingungan, melakukan, kesalahan, mencoba kembali, menyusun strategi, dan bertahan saat hasil jauh dari harapan. Oleh karena itu, proses belajar sangat membutuhkan daya juang. Dalam psikologi, konsep tersebut dengan grit, yaitu sebagai ketekunan dan konsistensi dalam mempertahankan usaha menuju tujuan jangka panjang. Penelitian Ducworth et al., (2007) menunjukkan bahwa grit berkaitan dengan pencapaian pendidikan, di mana dalam mencapai tujuan tidak hanya membutuhkan kemampuan, namun juga usaha yang dilakukan dalam jangka panjang.

Namun, meskipun begitu bukan berarti peserta didik harus menolak bantuan teknologi dan belajar dengan cara yang sulit. Daya juang lebih tepat dipahami sebagai kesediaan untuk tetap terlibat dalam proses saat pembelajaran menuntut usaha, ketekunan dan kemandirian belajar. Dengan kata lain, teknologi harus digunakan sebagai alat bantu dalam belajar, bukan malah menjadi manusia yang diperalat oleh teknologi.

Ketika Otak Mulai "Menitipkan" Proses Berpikir

Kehadiran teknologi juga berkaitan dengan fenomena cognitive offloading, menurut Risko & Gilbert (2016) cognitive offloading merupakan penggunaan bantuan eksternal untuk mengubah tuntutan pemrosesan informasi sehingga mengurangi beban kognitif. Dalam kehidupan nyata, hal ini bukan merupakan sesuatu yang baru. Manusia dari dulu menggunakan catatan, kalender, kalkulator dan alat eksternal lainnya sebagai pembantu mengingat maupun menyelesaikan masalah. Kehadiran teknologi digital kemudian memperluas bentuk cognitive offloading. Saat peserta didik dapat dengan mudah mencari informasi, merangkum, menjelaskan konsep bahkan menghasilkan jawaban melalui AI, sebagian proses kognitif yang sebelumnya bisa dilakukan sendiri malah jadi dialihkan kepada teknologi.

Dalam batas tertentu, cognitive offloading justru membantu pembelajaran karena sumber daya kognitif peserta didik dapat digunakan untuk aktivitas yang lebih kompleks. Namun, masalah muncul saat bantuan eksternal bukan hanya sebagai pendukung, melainkan menggantikan proses berpikir sepenuhnya.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era digital adalah memastikan bahwa kemudahan teknologi tidak menghilangkan kemampuan bertahan saat menghadapi kesulitan. Pendidikan bukan hanya berorientasi dalam membuat seseorang mampu menemukan jawaban, namun harus mampu membuat seseorang bertahan saat jawaban belum ditemukan.