Konten dari Pengguna

Krisis Energi Pasca Kudeta Militer di Myanmar Tantangan Politik Lingkungan

Firko Arian Hidayat
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
8 April 2024 10:20 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Firko Arian Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Gambar Perang, Tentara, Parasut. Sumber: Pixabay/ ThePixelman
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar Perang, Tentara, Parasut. Sumber: Pixabay/ ThePixelman
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Myanmar, sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam, mengalami kekacauan politik dan krisis energi yang semakin memburuk setelah kudeta militer pada awal tahun ini. Kudeta tersebut telah menimbulkan konsekuensi yang meluas, termasuk dalam bidang lingkungan dan energi. Dalam konteks ini, isu lingkungan menjadi semakin penting, karena krisis energi pasca-kudeta turut memperparah tekanan terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup.
ADVERTISEMENT
Salah satu dampak langsung dari kudeta militer adalah terhentinya operasi beberapa proyek energi yang sedang berlangsung di Myanmar. Sebagai negara yang bergantung pada sumber energi konvensional seperti minyak dan gas alam, ketidakpastian politik yang dipicu oleh kudeta mengancam pasokan energi dan menyebabkan gangguan dalam distribusi energi di seluruh negara. Hal ini menciptakan situasi darurat energi di mana masyarakat menghadapi pemadaman listrik yang sering dan gangguan pasokan bahan bakar.
Krisis energi pasca-kudeta tidak hanya mempengaruhi aspek politik dan ekonomi, tetapi juga lingkungan hidup. Dalam upaya untuk mengatasi kekurangan pasokan energi, pemerintah Myanmar dapat cenderung meningkatkan eksploitasi sumber daya alam, termasuk hutan dan sumber daya alam lainnya. Kebijakan ini dapat mengakibatkan deforestasi yang lebih besar, kerusakan ekosistem, dan hilangnya habitat bagi spesies yang terancam punah.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pemadaman listrik yang sering dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan generator bertenaga diesel sebagai sumber energi cadangan. Penggunaan generator diesel ini tidak hanya meningkatkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga menghasilkan polusi udara yang berdampak buruk pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Krisis energi pasca-kudeta di Myanmar menyoroti pentingnya keberlanjutan energi dan perlindungan lingkungan dalam menghadapi ketidakstabilan politik. Para pemangku kepentingan, baik di dalam maupun di luar Myanmar, perlu bekerja sama untuk mengembangkan solusi yang memperhitungkan tantangan lingkungan yang dihadapi oleh negara tersebut.
Salah satu langkah yang dapat diambil adalah meningkatkan investasi dalam energi terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, dan hidroelektrik. Ini tidak hanya akan membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
ADVERTISEMENT
Selain itu, diperlukan upaya untuk memperkuat kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Ini melibatkan pengembangan kebijakan yang mendukung konservasi lingkungan dan pemberdayaan komunitas lokal untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya alam mereka.
Dalam situasi krisis seperti ini, politik lingkungan menjadi semakin penting untuk menghadapi tantangan yang kompleks dan terkait erat dengan keberlanjutan energi dan lingkungan hidup. Diperlukan komitmen global untuk mendukung Myanmar dalam mengatasi krisis energi pasca-kudeta sambil memperhatikan perlindungan lingkungan yang penting bagi keberlanjutan negara dan planet ini.