Konten dari Pengguna

Makna Dibalik Kepemimpinan yang Sukses

Firman Fery Irawan

Firman Fery Irawan

Instagram / LinkedIn @firmanfery

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firman Fery Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Merupakan karya milik Penulis di jaringan creator AI dengan alamat: creator.nightcafe.studio/u/FirmanWill
zoom-in-whitePerbesar
Merupakan karya milik Penulis di jaringan creator AI dengan alamat: creator.nightcafe.studio/u/FirmanWill

Makna dibalik kepemimpinan menurut Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, yang kerap dipanggil SBY, dalam rekaman online acara Endgame Townhall 2024 (14/09/2024), beliau menjelaskan bahwa makna kepemimpinan (leadership) paling sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan mencapai sasaran-sasaran bersama dengan semua pihak yang dipimpin, baik di tingkat negara, kabupaten/kota, maupun di perusahaan atau organisasi lainnya.

Kepemimpinan adalah konsep yang telah mengalami evolusi dari waktu ke waktu, dibentuk oleh pandangan para ahli kontemporer, motivator global, hingga filsuf klasik dari era Romawi.

Menurut John C. Maxwell, seorang motivator global yang terkenal, "Kepemimpinan adalah pengaruh—tidak lebih, tidak kurang."

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran modern yang menekankan pentingnya hubungan dan kemampuan untuk menginspirasi perubahan.

Di sisi lain, para filsuf Romawi seperti Aristoteles, kepemimpinan adalah seni persuasi yang dilakukan dengan tiga cara, yaitu: Logos yaitu pidato atau argumen, Pathos yaitu kecenderungan emosional pendengar, dan Ethos yaitu karakter yang diproyeksikan. Dalam rangkuman penulis menilai Aristoteles lebih condong mengartikan pemimpin yang kearah Populis/ Populer. Menurut Socrates, kepemimpinan harus didasarkan pada moralitas, integritas, kejujuran, dan keadilan.

1. Nilai (Value) dalam Kepemimpinan

UN Summit of the Future: AI opportunity for everyone - https://blog.google/inside-google/message-ceo/united-nations-keynote-2024/

Nilai dalam kepemimpinan memiliki peran sangat penting dalam membentuk arah dan budaya suatu organisasi. CEO Google, Sundar Pichai dalam UN Summit, menekankan pentingnya perpaduan teknologi dan nilai untuk mempercepat kemajuan sosial. Ia menyatakan bahwa teknologi yang dibangun berdasarkan nilai-nilai kuat dapat menjadi penggerak utama dalam memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) oleh PBB.

Di sisi lain, filosofi klasik, filsuf Romawi, Marcus Aurelius, dimana terkenal dengan teori Stoikisme, beliau mengajarkan bahwa integritas dan kebajikan dalam tindakan adalah kunci untuk menjadi pemimpin yang efektif dan bijaksana. Perpaduan perspektif modern dan klasik ini menunjukkan bahwa nilai dalam kepemimpinan tidak hanya relevan dalam dunia bisnis saat ini, tetapi juga memiliki akar yang kuat dalam kebijaksanaan masa lalu.

Maka dapat dipahami apa itu makna dibalik kepemimpinan bahwa ada nilai dalam hal subyektifitas pribadi adalah menjadi penimbang antara pribadi satu dengan pribadi lainnya, dengan mementingkan sudut pandang manfaat dan menimbang resiko dari kesalahan yang potensial terjadi.

2. Peran Kehadiran Langsung seorang Pemimpin

Menurut Forbes, kehadiran langsung atau executive presence mencakup komunikasi empatik dan ketenangan di tengah krisis, yang memungkinkan pemimpin menginspirasi dan mempertahankan kinerja tim dalam situasi sulit.

Kehadiran fisik seorang pemimpin sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat dengan timnya, terutama dalam situasi sulit. Tren kepemimpinan saat ini semakin menekankan pentingnya keterlibatan langsung pemimpin dalam mendukung dan memotivasi timnya.

3. Transformasi

Transformasi merupakan kunci keberhasilan, baik dalam dunia bisnis maupun kehidupan pribadi. Baik pemimpin bisnis seperti Bernard Arnault CEO Louis Vuitton Moët Hennessy (pemegang brand fashion global ternama saat ini) maupun banyaknya pendatang baru influencer di media sosial menekankan pentingnya perubahan dan adaptasi di era yang terus berkembang serta transformasi menjadi aspek penting dalam membangun makna dibalik kepemimpinan itu sendiri.

Transformasi menjadi aspek kunci bagi para pemimpin di era modern, seperti yang ditunjukkan oleh Bernard Arnault, CEO LVMH dan salah satu orang terkaya dunia pada 2024 dan merupakan orang nomor satu terkaya menurut Forbes di awal tahun 2024 ini.

4. Melawan Kebiasaan (Break the Myth)

GTC Keynote Wrap-Up: NVIDIA to Bring AI to Every Industry, CEO Says - https://blogs.nvidia.com/blog/gtc-keynote-spring-2023/

Jensen Huang, CEO NVIDIA, dalam pidatonya di Nvidia GTC 2023, menekankan pentingnya 'deep learning' untuk mengubah berbagai industri. Ia juga mengingatkan kita bahwa kebiasaan lama dalam pengembangan perangkat lunak seringkali menjadi hambatan bagi inovasi. Huang berpendapat, "Kita harus berani membuang praktik-praktik yang sudah tidak relevan jika ingin mencapai terobosan besar".

Di dunia cryptocurrency, tokoh-tokoh seperti Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, mendorong pendekatan yang berani untuk mendefinisikan ulang ekonomi digital dengan konsep-konsep baru seperti desentralisasi dan kontrak pintar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberanian dalam menantang norma lama dapat membuka peluang baru dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Sehingga konsep-konsep lama yang didobrak oleh seorang inventor / penemu seringkali menjadi tumpuan penting dalam perubahan kondisi kehidupan saat ini yang sangat diperlukan dalam kriteria penting makna dibalik kepemimpinan itu sendiri.

5. Arti Pentingnya Kekuasaan dalam Kepemimpinan

Buku-buku seperti "The 7 Habits of Highly Effective People" oleh Stephen Covey dan "Leaders Eat Last" oleh Simon Sinek menawarkan perspektif yang menyegarkan tentang kekuasaan. Mereka menunjukkan bahwa makna dibalik kepemimpinan itu erat dengan kekuasaan. Dan Kekuasaan yang paling efektif adalah kekuasaan yang digunakan untuk melayani orang lain, membangun hubungan yang kuat, dan menciptakan perubahan positif.

Kekuasaan memiliki arti penting, tetapi juga berisiko besar jika tidak diawasi dengan bijak.

Mengutip pada film Spiderman (2002) Uncle Ben says "with great power comes great responsibility."

Lord Acton juga pernah menyatakan bahwa "Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely," yang mencerminkan kekhawatiran bahwa kekuasaan tanpa batas cenderung merusak integritas dan moralitas pemegangnya. Hal ini mendorong juga untuk adanya check and balance dalam suatu kepemimpinan.

Sehingga kekuasaan tentu menjadi tanggungjawab besar seorang pemimpin ketika menjalankan aktivitas ataupun peran yang diberikan kepadanya. Hal ini memantik pemikiran penulis bahwa makna dibalik kepemimpinan tidak bisa lepas bagaimana seorang pemimpin mengerti arti pentingnya kekuasaan, dimana setiap keputusan yang diambil itu berdasarkan kekusaan dan cerminan ketulusan orang akan diuji ketika memiliki kekuasaan.

Pandangan Akhir mengenai makna dibalik kepemimpinan

Dengan mengintegrasikan berbagai perspektif, kita dapat mendefinisikan makna dibalik kepemimpinan yang sukses, maka kepemimpinan itu sebagai seni mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang lebih baik dengan konsep nilai yang kita pegang, selaras dengan prinsip-prinsip etika dan kebijaksanaan.