Konten dari Pengguna

Hoaks dan Deepfake di Era AI: Tantangan Generasi Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firman Indra Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan pengenalan wajah di era digital. Foto: cottonbro studio/Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan pengenalan wajah di era digital. Foto: cottonbro studio/Pexels.

Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Hanya dengan membuka smartphone, berbagai berita dan konten dapat ditemukan dalam hitungan detik.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan. Tidak semua informasi yang muncul di internet dapat langsung dipercaya.

Perkembangan AI bahkan membuat gambar, suara, dan video dapat dibuat atau dimanipulasi dengan semakin mudah. Kondisi ini membuat kemampuan literasi digital menjadi semakin penting.

Informasi Tidak Selalu Sama dengan Kebenaran

Masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi melalui smartphone, tetapi tidak semua informasi di internet dapat langsung dipercaya. Foto: el jusuf/Pexels.

Ketika melihat sebuah informasi di media sosial, seseorang terkadang langsung percaya karena informasi tersebut terlihat meyakinkan.

Padahal, sebuah unggahan dapat dibuat tanpa sumber yang jelas. Bahkan, informasi yang salah dapat menyebar dengan cepat karena dibagikan berkali-kali oleh pengguna lain.

Karena itu, pengguna internet perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum membagikannya.

Mengenal Deepfake

Deepfake menjadi salah satu tantangan baru di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Foto: Markus Winkler/Pexels.

Deepfake merupakan salah satu bentuk manipulasi berbasis teknologi yang dapat membuat wajah, suara, atau video seseorang terlihat seperti melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Teknologi seperti ini memiliki berbagai kemungkinan penggunaan, tetapi juga dapat disalahgunakan.

Bagi generasi muda, memahami keberadaan teknologi tersebut menjadi penting agar tidak mudah percaya hanya karena sebuah video terlihat nyata.

Jangan Terburu-buru Membagikan Konten

Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan adalah berhenti sejenak sebelum membagikan informasi.

Periksa siapa yang membuat konten tersebut. Lihat apakah ada sumber yang jelas. Bandingkan informasi dengan sumber lain dan perhatikan tanggal publikasinya.

Jika informasi tersebut berkaitan dengan sesuatu yang penting, sebaiknya mencari sumber resmi sebelum mengambil kesimpulan.

Generasi Muda sebagai Pengguna yang Bertanggung Jawab

Ilustrasi hubungan manusia dengan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Foto: ThisIsEngineering/Pexels.

Generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga ikut membentuk lingkungan digital.

Setiap unggahan, komentar, dan informasi yang dibagikan dapat memengaruhi orang lain. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi seharusnya diikuti dengan tanggung jawab.

Di era AI, kemampuan digital bukan hanya tentang bisa menggunakan aplikasi. Yang tidak kalah penting adalah mampu membedakan informasi, memeriksa sumber, dan berpikir sebelum membagikan sesuatu.

Teknologi akan terus berkembang. Karena itu, kemampuan manusia untuk berpikir kritis juga perlu terus berkembang.