BERBAGI

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Firman Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apa lagi yang tak dibagikan orang sebagai unggahan, di media digital hari ini? Tak ada. Mulai pengalaman diri yang diimajinasikan penting, karenanya harus diketahui banyak orang. Juga peristiwa yang memang langka, sehingga perlu diumumkan pada khalayak. Bukan hal yang baru, berbagi unggahan adalah perilaku instrinsik pengguna media digital. Perilaku yang terbentuk oleh medianya. Fasilitasnya juga yang tak mempersyaratkan keterampilan --alih-alih harus mengeluarkan biaya semahal memasang iklan— saat membuat unggahan apa pun.
Sebagai ciri melekat pada media digital, berbagi yang tampak acak, tetap dapat dikategorisasi motifnya. Mulai dari yang spontan tak memerlukan pikiran panjang, hingga yang kompleks melibatkan kesadaran eksistensial yang dalam. Motif yang paling spontan, adalah berbagi unggahan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi khalayak. Ini misalnya: adanya lubang besar di jalan raya yang dijumpai saat berangkat kerja. Karena dinilai berbahaya, dibuatkan foto atau videonya lalu diunggah ke media digital. Lengkap dengan keterangan lokasinya. Harapannya, tak ada pengguna jalan lain yang celaka oleh lubang besar itu. Demikian juga dengan adanya pembagian bensin gratis, oleh pemilik usaha tertentu. Informasi dibagikan, agar sasarannya dapat memperoleh manfaat.
Satu tingkat dari berbagi informasi yang bermanfaat, adalah berbagi ketakjuban atas peristiwa yang dialaminya. Seorang pengguna media digital, melihat pengendara motor yang membawa barang jualan di atas nampan yang diletakan di atas kepala. Tak dibantu orang lain, bahkan kedua tangannya tetap mengemudikan motornya dengan laju. Hari ini, keterampilan macam itu dapat menjadi atraksi yang langka. Sumber ketakjubannya adalah kekhawatiran, jika atraksi gagal. Barang dagangan tumpah dan berhamburan ke jalan. Karenanya --agar tak kehilangan momentum-- direkamnya atraksi itu dan dibagikan sebagai unggahan.
Alasan lain yang mendorong berbagi unggahan, adalah pengemballian stabilitas jiwa. Dapat ditempuh lewat introduksi eksistensi berikut identitas diri. Misalnya adanya pengguna media digital yang membagikan pandangan hidupnya --yang bisa jadi tak lazim-- namun didahului pertimbangan yang kompleks. Pilihan menjadi vegetarian, child free, pembatasan diri terhadap penggunaan artificial intelligence (AI). Seluruhnya ditempuh dengan meniscayakan pembentukan eksistensi dan identitas diri. Termasuk dalam motif ini, ketika seseorang membagikan opini pada suatu peristiwa, berikut pilihan-pilihannya yang bernuansa etis. Ini sering disertai adu argumentasi, bahkan perdebatan yang seru. Namun eksistensi dan identitas diri, jadi ganjaran setelah dibagikannya unggahan.
Motif introduksi eksistensi dan identitas diri, juga jelas saat berbagi unggahan agar keluar dari “kekhawatiran ketinggalan informasi”, fear of missing out (FoMO). Ini lazimnya ditempuh dengan berbagi unggahan, selaras dengan trend yang sedang marak. Membicarakan konser boy band yang sedang tour dan tiketnya cepat terjual, ikut antri makanan yang sedang viral di media sosial, bahkan turut membaca buku yang sedang dibicarakan pesohor idola. Seluruhnya adalah penawar FoMO, namun tak semata timbul oleh dorongan kesadaran jiwa. Tapi lebih digerakkan oleh kekhawatiran tak terserta dalam trend yang berlangsung. Seluruh tindakannya simbolik, agar diterima sebagai khalayak yang lazim.
Motif berbagi dalam mencapai stabilitas jiwa yang lain, adalah melepas perasaan tak nyaman: cemas, overthinking, depresi. Adanya pengguna media digital yang membagikan kabar yang tak jelas kebenarannya, hoaks, fitnah, deepfake maupun ajakan membenci, adalah motif penenangan jiwa. Ini ganjil, tapi nyata. Jiwa seseorang menjadi tenang, ketika melihat orang lain berubah menjadi tak tenang. Jagat digital yang mendadak resah, menjadikan dirinya tak eksklusif dalam ketaknyamanan. Ada ilusi ketaknyamanan kolektif, yang membuatnya tenang.
Sebagian motif yang telah diuraikan di atas, senada dengan tulisan Shari Monnes, 2022, What Motivates People to Share Content on Social Media? Disebutkan adanya 5 motif berbagi unggahan. Kelimanya itu: bersikap membantu dan berbagi pengetahuan; mendefinisikan identitas diri; tetap terhubung dengan teman dan keluarga; mencapai kepuasan eksistensial; dan berbagi untuk mendukung tujuan dari brand favorit. Sedangkan dari penelitian Le Dinh Hai dan Xiao Yan Xiong, 2025, berjudul Motivations Behind Gen Z’s News Sharing on Social Media: a PLS-SEM Study in Vietnam, motif itu lebih terkategorisasi akademis.
Disebutkan oleh dua penelitinya, signifikansi sosial, relevansi khalayak, dan motivasi yang berbasis kepuasan, mempengaruhi niat untuk berbagi berita. Ini dapat dikategorikan sebagai berbagi untuk memenuhi tujuan sosial. Sedangkan motif FoMO secara positif mendorong niat individu untuk berbagi. Didapati, niat berbagi dilakukan tanpa mempedulikan kredibilitas beritanya. Yang penting segera terbagi. Seluruhnya bertumpu pada isi informasi dan psikologi pengguna dalam berbagi. Motif kedua ini, dapat dikategorikan sebagai pemenuhan kebutuhan psikologis individu. Memang obyek penelitiannya terbatas pada berbagi berita sebagai unggahan, namun motif penggeraknya --memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis-- dapat diproyeksikan pada berbagi tema unggahan apa pun.
Yang patut dicatat: instrinsiknya perilaku berbagi di media digital, tak menghilangkan keharusan untuk menarik perhatian. Dan sejak media digital diperkenalkan --hingga 2 dekade setelahnya-- cara pencarian perhatian itu bergeser. Dari yang sifatnya “makro-permukaan” ke penarikan perhatian yang “mikro-mendalam”. Hari ini tak akan diperoleh perhatian, jika unggahan masih mengandalkan tema “sarapanku pagi ini”. Juga tak ada yang istimewa, dengan “satu keluarga beranggota 4, berboncengan motor ke tempat kerja”. Sudah tak menarik.
Pendekatannya berubah, dengan menampilkan ekspresi-ekspresi tersembunyi, micro expressions, saat interaksi seseorang dengan orang lainnya. Ekspresi pengantin laki-laki yang pertama bertemu pasangannya, setelah didandani; wajah presiden suatu negara, yang tak menatap lawan bicaranya di sebuah forum; kernyit pengajar, saat siswanya bertanya tak lazim. Ekspresi-ekspresi mikro itu jadi penarik perhatian dan pembangun opini. Namun tentu yang dibagikan tak hanya mengandalkan visualisasi atau efek dramatisnya. Tumpuannya pada caption yang mengerangka, mem-framing, micro expressions itu. “Begini wajah Menkeu, saat ditelepon soal penggantian dirinya” atau “Pedagang somay ini panik, saat dagangannya mau dborong”.
Micro expressions tampil kuat, lantaran momentumnya langka. Dan oleh kelangkaan itu, terbentuk rasa ingin tahu. Namun dari seluruhnya, caption yang diberikan –yang sering mengabaikan keutuhan konteksnya-- lebih mengarahkan makna unggahan. Ini dapat menyebabkan distorsi. Sehingga dapat dikatakan, dari pergeseran cara menarik perhatian, yang tetap berlaku adalah formula menciptakan persepsi kelangkaan peristiwa, scarcity, dan memunculkan rasa ingin tahu, curiousity. Keduanya adalah formula The Attention of Economy.
Catatannya, dalam relasi berbagi terdapat aspek struktural yang dapat mendistorsi realitas. Realitas akhirnya tampil sekadar sebagai representasi kepentingan pihak yang membagikan unggahan. Aspek struktural itu adalah framing, yang tak selalu sesuai konteks peristiwanya, contextual framing distortion. Juga campur tangan algoritma, algorithmic interference, saat mengurasi ungahan. Dalam hal contextual framing distortion, yang terjadi adalah melesetnya konteks. Unggahan yang selalu terbatas ruang dan durasinya, tak bisa tampil utuh. Pada unggahan yang mengetengahkan presiden yang seakan mengacuhkan ajakan bersalaman pendahulunya, gambar yang ditampilkan justru monentum setelah bersalaman. Framing peristiwanya mengarahkan tafsir khalayak, pada buruknya hubungan antara presiden dengan pendahulunya. Distorsi framing juga menyebabkan bias opini. Editing, penambahan lagu, pemberian judul, maupun pemilihan kalimat caption, dapat mengarahkan opini khalayak tak sepenuhnya tepat dengan peristiwa yang senyatanya.
Sedangkan algorithmic interference, menyebabkan peristiwa yang senyatanya dipersepsi berbeda. Yang tak penting jadi penting, dan yang penting jadi tak penting. Ini lantaran algoritma mengurasi peristiwa tertentu, untuk memperoleh insentif algoritma. Ujungnya, keuntungan platform. Insentifnya berupa kesempatan pada unggahan, dapat tampil lebih luas dan berdurasi panjang. Ini dapat disisipi iklan. Namun kurasi itu menyebabkan echo chamber pada realitas yang sudah terdistorsi. Khalayak mempersepsinya sebagai kenyataan yang senyatanya, akibat tampilannya yang kerap.
Pengaturan algoritma juga dapat menghilangkan konten dari konteks aslinya. Ini lantaran terdapatnya unggahan tertentu, yang dicegah untuk tampil. Keadaan ini lazim disebut sebagai shadowbanning. Pada unggahan berlangsungnya operasi medis pada seorang pasien, tercegah tampilannya lantaran pasiennya yang tak berbusana. Ini terbaca algoritma sebagai unggahan yang terkategori pornografi. Konteks aslinya terhapus, ketika dihadirkan sebagai konten.
Dari seluruh uraiannya, modus berbagi memang sumber pengetahuan baru. Khalayak terhubung dan terinformasi oleh kerapnya pembagian unggahan. Namun aspek strukturalnya, justru dapat menjadikan berbagi segala macam unggahan, sebagai pembagian pengetahuan yang terdistorsi. Lalu, masihkah perlu mencandu media digital?
Dr. Firman Kurniawan S. Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Pendiri LITEROS.org
