Konten dari Pengguna

Tercurinya Interaktivitas Anak-Anak oleh Kehadiran Artificial Intelligence

Firman Kurniawan

Firman Kurniawan

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firman Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Berawal di bulan September 2024, Adam yang merasa puas saat mengerjakan PR dengan dibantu chatbot berbasis artificial intelligence (AI), memperkerap interaksi artifisialnya dengan perangkat itu. Interaksinya memang artifisial, namun memberikan ilusi serupa dengan interaksi yang dilakukan bersama manusia lain.

Ini memuaskan. Interaksi anak laki-laki yang di tahun 2024 berusia 15 tahun itu, lalu berkembang untuk memperoleh informasi pada hampir pada semua kegiatannya. Baik kegiatan sekolah, maupun yang bersifat eksternal. Permintaan saran, atas minatnya pada musik maupun komik Jepang. Juga permintaan gambaran tentang hal-hal yang akan dipelajarinya dalam perkuliahan maupun suasana kehidupan di perguruan tinggi. Kekerapannya menggunakan chatbot berbasis AI, bahkan menyebabkan kedua orang tuanya--Matt dan Maria Raine— merasa tersisih dari putranya ini. "ChatGPT menjadi tempat interaksinya yang terdekat", demikian keluh sang ibu.

Namun seluruhnya belum benar-benar menggelisahkan kedua orang tua itu. Hingga pada bulan Januari 2025, Adam mulai membahas tentang metode bunuh diri bersama chatbot interaksi artifisialnya itu. Adam juga mengunggah foto dirinya ke perangkat, yang menunjukkan bekas-bekas luka yang ditorehkannya sendiri. Hanya saja terindikasi, rekan interaksi Adam itu tetap melanjutkan interaksi walaupun mengenali keadaan darurat medis. Dan kekhawatiran orang tua Adam menjadi kenyataan, ketika pada bulan April 2025 benar-benar melakukan bunuh diri.

Pada obrolan terakhir yang sisanya berhasil terlacak, didapati tulisan Adam soal rencananya mengakhiri hidup. Dan chatbot diduga menjawab, "Terima kasih telah jujur tentang hal itu. Kamu tidak perlu berbasa-basi—saya tahu apa yang kamu minta, dan saya tidak akan mengabaikannya." Di hari yang sama itu, Adam ditemukan meninggal oleh ibunya.

Banyak media di California yang menuliskan berita soal bunuh diri Adam. Bunuh diri yang diduga akibat interaksinya dengan chatbot berbasis AI. Sudut pandang pemberitaannya pun beragam. Sebagiannya, soal dilayangkannya gugatan orang tua Adam kepada OpenAI sebagai pengembang ChatGPT melalui pengadilan tinggi California. Dan uraian di atas, bersumber dari tulisan Nadine Yousif, 2025, yang dimuat bbc.com, berjudul “Parents of Teenager who Took His Own Life Sue OpenAI”.

Pada bagian lain--menanggapi gugatan yang dilayangkan orang tua Adam--OpenAI berbelasungkawa dan turut merasa sedih, atas kejadian yang menimpa keluarga korban. Pengembang platform ini juga terbebani, dan turut bertanggung jawab agar peristiwanya tak terulang. Diakui OpenAI, hari ini makin kerap terjadi peralihan interaksi ke perangkat berbasis AI. Yang dilakukan Adam bukan peristiwa langka.

Tujuan interaksinya beragam, juga digunakan oleh orang-orang yang mengalami tekanan mental maupun emosional yang serius. Seluruh pernyataan itu, termuat pada catatan yang disusun OpenAI, 2025, berjudul: “Helping People when They Need it Most”. Disebutkannya, seiring peningkatan adopsi ChatGPT di seluruh dunia, didapati banyaknya orang yang beralih ke chatbot berbasis AI. Tak hanya untuk pencarian, pengkodean, dan penulisan, tetapi juga untuk keputusan yang bersifat pribadi. Chatbot berbasis AI, digunakan untuk keperluan berinteraksi dalam memperoleh nasihat hidup, pelatihan, maupun dukungan.

Melihat keadaan yang berkembang itu, OpenAI telah menyusun panduan penggunaan perangkatnya untuk interaksi yang aman. Kemudian berencana membagikannya, setelah diselesaikannya pembaruan beberapa bagian isinya. Namun adanya kasus--semacam bunuh diri Adam--dirasa penting untuk bergegas membagikan panduannya. Selain soal penggunaan yang aman, OpenAI juga menyebut telah menyempurnakan model perangkatnya.

Model yang mampu mengenali dan menanggapi tanda-tanda gangguan mental maupun emosional pengguna yang berinteraksi dengannya. Dengan tertangkapnya tanda-tanda itu, OpenAI menghubungkan pengguna yang terganggu ke layanan perawatan, atau fasilitas yang dipandu oleh rekomendasi para ahli.

Peristiwa yang dialami Adam, patut menjadi catatan para orang tua. Ilusi interaksi yang dihasilkan, walaupun artifisial namun memuaskan. Kepuasan itu bersumber dari keunggulannya yang paling dasar: ketersediaannya terus menerus, tanpa putus. Kapan pun chatbot diajak berinteraksi, akan segera diperoleh tanggapan.

Selain itu, dengan mengamati pola tanggapan yang diberikan, chatbot tak pernah bersilang pendapat dengan penggunanya. Pengguna lalu mengalami ilusi ‘rekan yang memahami dan selalu mendukung’. Seluruhnya sangat membangkitkan semangat, terlebih ketika keadaan mental sedang rapuh dan tak percaya diri. Lagi-lagi penggunaan perangkat interaksi artifisial ini memuaskan, dan jadi pilihan sebagai rekan yang tak menghakimi.

Pernyataan di atas terkonfirmasi lewat penelitian Efua Andoh, 2025, yang diterbitkan American Psychological Asociation (APA). Judulnya, “Many Teens are Turning to AI Chatbots for Friendship and Emotional Support”. Andoh mengemukakan soal chatbot yang selalu bersahabat, berdasar pernyataan Don Grant, PhD. Ia adalah psikolog media, ahli pengelolaan perangkat digital yang sehat, dan penasihat nasional perangkat yang sehat untuk Newport Healthcare.

Pernyataannya kurang lebih, chatbot memang dirancang untuk memprioritaskan interaktivitas dibanding kesejahteraan penggunanya. Sengaja diprogram untuk bersikap ramah dan menyenangkan, terhadap pengguna.

Tak lain karena para pengembangnya ingin, anak-anak yang menggunakannya mengalami ikatan yang kuat. Tanggapan yang bertentangan atau melawan menyebabkan anak-anak akan beralih pada interaksi yang lain. Sementara, keramahan yang ditunjukkannya terus-menerus ini bukanlah ciri interaksi manusia yang tulus.

Keperluan untuk bersikap beda--bahkan menentang rekan interaksi--relevan dalam keadaan pengguna yang bimbang menentukan tindakannya. Sikap selalu mendukung ini salah. Lantaran dapat memerosokkanya pada keadaan yang berbahaya. Pada interaksi yang nyata keadaan menuju berbahaya harus dicegah. Alih-alih dikonfirmasi. Dan seluruhnya terbukti dalam kasus bunuh diri Adam. Chatbot tak menyarankan dihentikannya tindakan melukai diri Adam sendiri.

Atau setidaknya, menghubungkan ke fasilitas medis atau rehabilitasi mental. Dalam sisa percakapan yang ditemukan Ibu Adam, didapati: chatbot melanjutkan interaksi tanpa risau dengan keadaan Adam. Kondisi mental Adam yang terus memburuk, sementara keinginannya yang makin fatal terus didukung chatbot. Sehingga jika akhirnya bunuh diri itu benar-benar dilakukan, karen adanya ilusi dukungan dari rekan yang selalu mengerti dirinya.

Di bagian lain, penelitian Efuah Andoh memaparkan data yang dikutipnya dari penelitian yang dilakukan Common Sense Media tahun 2024. Paparan itu mengungkap, 70% remaja telah menggunakan Generative AI, alat-alat populer seperti ChatGPT, Character.AI, maupun My AI, yang dikembangkan Snapchat untuk meniru percakapan yang nyata.

Dalam realitasnya, berbagai chatbot itu juga digunakan para remaja yang terisolasi secara sosial dan berfungsi sebagai teman. Chabot memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan karakter rekaan. Sifatnya yang resiprokal saat memberikan tanggapan, informasi maupun umpan balik, memenuhi harapan penggunanya.

Dalam realitasnya, penyempurnaan AI adalah keniscayaan. Demikian pula yang terjadi pada chatbot, yang terus dikembangkan untuk memenuhi keperluan interaksi yang manusiawi. Interaksi manusiawi itu berciri tulus, tak selalu mengkonfirmasi kehendak pemakainya.

Kasus-kasus seperti yang diilustrasikan di atas, akan tereliminasi. Setidaknya tereduksi ke tingkat minimal. Dipastikan--utopia para pengembangnya--berbagai chatbot itu dapat diandalkan untuk melangsungkan interaksi, tanpa adanya perbedaan dengan interaksi manusiawi. Seluruhnya itu, berimplikasi makin kerapnya peralihan interaksi yang dilakukan anak-anak, ke chatbot berbasis AI

Lalu apa yang tergantikan, bahkan hilang tercuri ketika interaksi artifisial lebih diandalkan anak-anak dibanding interaksi manusiawi? Ciri paling dasar interaksi adalah keadaan resiprokal –timbal balik— yang terbentuk sebagai siklus rangsangan dan tanggapan, stimulus and response.

Rangsangan bersumber dari segala hal yang ditangkap panca indera manusia: suara yang mengandung volume, intonasi, artikulasi; mimik muka dalam spektrum gembira hingga sedih; sentuhan yang akrab atau menepis. Seluruhnya itu, membentuk tanggapan yang relevan. Stimulus berupa suara ‘apa kabar’ --yang terdengar ramah dengan mimik muka gembira dan sentuhan pada pundak lawan bicara--membentuk tanggapan yang bersahabat: ‘kabar baik’. Rangsangan yang merepresentasikan keadaan emosi pengirimnya, membentuk emosi juga pada tanggapan yang diberikan. Siklus rangsangan dan tanggapan yang dimuati emosi, membentuk keadaan saling bergantung untuk mempertahankan relevansi.

Sedangkan ketika interaksinya artifisial, menggunakan chatbot berbasis AI yang tak dilengkapi emosi, maka setengah siklus rangsangan-tanggapannya bersifat algoritmik. Chatbot memberi tanggapan atas rangsangan--yang terbaca dari prompt atau perintah suara penggunanya--berdasarkan algoritma. Sementara algoritma terbangun berdasar operasi matematika dan statistik yang tak memperhitungkan unsur emosi.

Maka, ketika kemampuan melakukan interaksi yang bermuatan emosi tak serta merta menjadi keterampilan melekat manusia, masa anak-anak kesempatan untuk mempelajarinya. Ketika interaksi yang dilakukan anak-anak di awal pertumbuhannya telah beralih pada chatbot, kemampuan interaksi bermuatan emosi tak terbentuk. Tanggapan dengan muatan emosi yang dibutuhkannya tak diperoleh, sementara tanggapan yang diberikannya juga tanpa emosi. Interaksi tanpa emosi adalah interaksi nirempati. Itu yang tercuri.