Konteks Iman Menurut Aqidah As-Samarqandi

Saya dilahirkan di Lamongan 15 Oktober 1998 awal pendidikan Taman kanan-kanak, dan pendidikan terakhir Madrasah Aliyah Keagamaan di pondok pesantren Mambaus Sholihin di Gresik, Sekarang sedang menempuh pendidikan strata satu di UIN Jakarta
Konten dari Pengguna
17 Desember 2020 10:21
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari M Firman Syihabuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konteks Iman Menurut Aqidah As-Samarqandi (157657)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Naskah Kuno. Foto : DIY Photogarphy
ADVERTISEMENT
Sebagai seorang muslim yang baik dan taat, kita harus mengetahui apa itu iman, bagaimana kita mempercayainya dan bagaimana kita mengaplikasikannya dikehidupan kita sehari-hari. Maka rukun iman merupakan ajaran pokok yang harus diketahui bagi umat Islam. Rukun Iman harus dijalankan dengan benar dalam kehidupan seorang muslim, ibarat sebuah gedung rukun iman adalah pilarnya sedangkan bangunannya adalah agama Islam, jika pilar tersebut keropos, goyah dan tidak kuat maka robohlah gedung tersebut, oleh karena itu rukun iman merupakan unsur yang sangat urgen demi kokohnya suatu agama.
ADVERTISEMENT
Ditinjau dari segi bahasa rukun iman terdiri dari gabungan dua kata yakni “rukun” kata serapan dari bahasa Arab yang mempunyai arti landasan atau pilar, sedangkan kata “iman” kata serapan dari bahasa Arab yang dalam bahasa Indonesia berarti kepercayaan, maka dari gabungan dua kata tersebut rukun iman bermakna pilar keimanan yang harus dimiliki bagi seorang muslim di dunia.
Rukun Iman sudah dijelaskan dalam hadits Rosulullah SAW dan juga kitab suci Al-Quran :
Allah SWT berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 136)

ADVERTISEMENT
Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk." (HR.Muslim)

Naskah ini berupa naskah digital yang saya temukan di web kemenag.go.id. Naskah ini ditulis oleh Ulama besar bernama Abu Al-Layts Al-Samarqandy, seorang ahli fikih, pakar hadits, tafsir dan aqidah kelahiran Samarkand sebuah daerah di negara Uzbekistan pada abad ke-4. Naskah ini merupakan naskah milik perorangan dari Teuku Nurdi Raja Hitam, seorang kolektor ulung yang menyukai benda-benda antik. Dia tinggal di Ciputat Tangerang Selatan Provinsi Banten.
Dilihat dari segi fisik, naskah ini sangatlah rapuh, lembab, banyak sekali robekan-robekan serta lubang, namun naskah ini masih dalam kategori layak baca karena tulisan dalam naskah ini cukup jelas dan dapat dibaca dengan baik. Naskah ini ditulis dengan tinta hitam dan merah sebagai peralihan tema dan penegasan inti bacaan. Naskah ini juga ditulis di atas kertas Daluwang dan tidak ada nomor di dalamnya . Teks dalam Naskah tersebut menggunakan bahasa Arab dan bahasa Aceh beraksara Arab pegon sebagai terjemahan dan maksud yang ditulis di pojok naskah dan di bawah tulisan Arab dengan gaya miring kebawah. Nasakah terdiri dari 67 lembar, 134 halaman dan 3-5 baris teks dalam setiap halamannya.
ADVERTISEMENT
Naskah ini sangat layak untuk diteliti lebih lanjut, karena selain tulisannya yang cukup jelas, lengkap halamannya, naskah ini juga menyajikan penjelasan yang sangat unik dan menarik. Naskah ini dikemas dengan model tanya jawab yang bahasannya sangat jelas dan dalam.
Dalam awal naskah ini, penulis naskah mencoba untuk menjelaskan pengertian iman yang dikemas dengan sajian tanya jawab yang bertujuan untuk menjelaskan arti dari Iman.
Apa yang dimaksud dengan Iman? Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, yaumil akhir, qada dan qadar Allah.

Bagaimana beriman kepada Allah?

Seorang hamba bisa dikategorikan iman kepada Allah adalah dengan meyakini bahwa Allah itu Ada dan Esa, Tidak ada Tuhan selain Allah. Dialah sang maha pencipta dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita harus percaya dengan sifat-sifat Allah di antaranya :
ADVERTISEMENT
  • Wahdaniyat
Allah SWT satu/esa, tidak ada tuhan selain Diri-Nya. Allah SWT Maha Esa dalam Dzat, Sifat dan perbuatan-Nya.

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)

  • Hayyun
Allah adalah dzat yang maha hidup, dan kehidupan Allah adalah abadi, tidak pernah dan tidak akan mati, tidak ada permulaan dan tidak ada akhir.
Allah SWT berfirman :

"Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya." (QS. al-Furqan : 58).

  • Aliimun
Allah adalah dzat yang maha mengetahui, maka ia pasti mengetahui segala sesuatu yang di ciptakan-Nya. Allah mengetahui dengan sangat jelas akan semua perkara yang jelas tampak ataupun yang samar tanpa perbedaan antara keduanya, Dan apapun yang kita lakukan Allah mengetahuinya. Hal ini sudh termaktub dalam firman-Nya yang berbunyi :
ADVERTISEMENT

“Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan tersembunyi.” (QS. Al-A’la: 7)

  • Qadirun
Allah dzat yang maha berkuasa Allah menciptakan langit, bumi , lautan, dan Allah juga yang menjadikan orang kaya, miskin, bahagia dan sengsara. Allah SWT berfirman :

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." (QS. al-Qashash : 68).

  • Sami’
Allah adalah dzat yang maha mendengar segala sesuatu baik pelan maupun keras,dhohir maupun bathin Allah dapat mendengarnya. Dan pendengaran Allah tidaklah sama dengan pendengaran seseorang, pendengaran Allah tidak bisa dibatasi dengan ruang dan waktu. Allah SWT mendengar dengan sangat jelas apa yang diucapkan dan diminta oleh manusia.
ADVERTISEMENT

"Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. ad-Dukhan : 6)

Bagaiaman beriman kepada malaikat Allah?

Malaikat merupakan makhluk Allah yang sangat terjaga, mereka adalah hamba Allah yang paling taat dan tidak pernah berbuat maksiat karena mereka tidak mempunyai syahwat dan juga hawa nafsu. Malaikat diciptakan oleh Allah dari cahaya yang jumlahnya sangat banyak, malaikat merupakan makhluk ghaib yang tidak kasap mata, namun wajib bagi kita mengimaninya.

Bagaimana beriman kepada kitab-kitab Allah?

Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan beberapa kitab kepada nabi dan utusan-Nya, dan barang siapa yang tidak mempercayaianya maka sesungguhnya dia telah berbuat kufur. Kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi berjumlah 104 di antaranya :
50 kitab kepada nabi Syits AS, 30 kitab kepada nabi Idris AS,10 kitab kepada nabi Ibrahim AS, 10 Kitab kepada nabi Musa AS sebelum menerima Taurat, Injil kepada Nabi Isa, Taurat kepada Nabi Musa AS, Zabur kepada Nabi Dawud, dan Al-Quran Kepada Nabi Muhammad SAW.
ADVERTISEMENT

Bagaimana beriman kepada Rosulullah?

Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah mengutus beberapa nabi dan rosul pilihan untuk menyampaikan wahyu kepada umatnya. Dan meyakini bahwa Nabi Adam adalah Adam adalah nabi dan Rosul pertama dan nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Allah memberikan kepada sifat yang amat mulia yakni Siddiq artinya benar, Amanah artinya dapat dipercaya, Tabligh artinya menyampaikan, Fathonah artinya cerdas. Maka sebagai wujud iman kita kepada nabi dan rosulullah seharusnya kita mencontoh dan meneladani sifat, kisah, perilaku dan ajarannya.

Bagaimana beriman kepada hari akhir?

Allah menciptakan langit dan bumi, memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk dan mematikannya. Kemudian di akhirat kelak mereka akan dihisab sesuai dengan amal perbuatannya. Jika semasa di dunia selalu berbuat kebajikan, amar ma’ruf nahi munkar maka dia akan dimasukkan Allah kedalam surga-Nya, dan Jika semasa di dunia selalu berbuat kedholiman, syirik dan maksiat maka tidak ada tempat baginya kecuali di Neraka.
ADVERTISEMENT

Bagaimana beriman kepada Qadha dan Qadar Allah?

Sesungguhnya Allah SWT mencipatkan makhluk-makhluknya dan membimbing mereka kepada petunjuk yang benar, memerintah mereka untuk selalu berbuat kebaikan dan melarang berbuat maksiat, kemudian Allah SWT menghisab seluruh amal hamba-hamba-Nya. Ketaatan itu merupakan hukum, ketetapan, kehendak, perintah dan keridhaan Allah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. Kemaksiatan merupakan hukum, ketetapan, kehendak sejak zaman azali akan tetapi itu tidak merupakan perintah dan keridhaan Allah. Kemudian Allah SWT memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik dan menyiksa orang yang berbuat buruk dan itu semua merupakan janji dan ancaman Allah.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020