Konten dari Pengguna

Jerami Amoniasi : Inovasi Berbasis Sains untuk Ketahanan Pakan Nasional

Firman Febrianto

Firman Febrianto

Penulis berprofesi sebagai Dosen Peternakan di PSDKU UNPAD Kampus Pangandaran Minat saya dalam bidang Sosial Ekonomi Peternakan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firman Febrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Optimalisasi Limbah Pertanian untuk Meningkatkan Kualitas Pakan Sapi di Tingkat Peternak

Pembuatan Contoh Jerami Amoniasi. Sumber : Doc. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pembuatan Contoh Jerami Amoniasi. Sumber : Doc. Pribadi

Ketersediaan pakan berkualitas adalah salah satu faktor penentu produktivitas ternak sapi di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, isu kekurangan hijauan terutama pada musim kemarau telah menjadi tantangan serius bagi peternak. Di tengah kondisi tersebut, jerami padi amoniasi kembali mendapat perhatian sebagai teknologi pakan sederhana namun berbasis ilmiah yang mampu meningkatkan nilai guna limbah pertanian.

Potensi Jerami Padi dan Tantangan Nutrisinya

Indonesia memproduksi lebih dari 50 juta ton jerami padi setiap tahun. Namun sebagian besar jerami tersebut hanya dimanfaatkan sebatas alas kandang, kompos, atau bahkan dibakar. Padahal, tanpa perlakuan, jerami memiliki kelemahan mendasar: kadar serat kasar yang tinggi, lignifikasi kuat, dan kandungan protein rendah (sekitar 3–5%). Kondisi ini membuat jerami sulit dicerna oleh sapi, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan dan produksi sangat terbatas.

Di sinilah pendekatan teknologi dibutuhkan—bukan untuk menggantikan hijauan segar, tetapi untuk meningkatkan ketersediaan pakan cadangan yang ekonomis dan mudah dibuat oleh peternak.

Amoniasi: Proses Kimia Sederhana yang Mengubah Kualitas Jerami

Amoniasi menggunakan urea merupakan proses yang secara ilmiah memanfaatkan hydrolysis urea menjadi amonia (NH₃). Amonia inilah yang bekerja memecah ikatan lignoselulosa pada jerami. Hasilnya:

1. Serat lebih mudah terurai, sehingga kecernaan meningkat 30–50%.

2. Kadar protein meningkat hingga 8–12%, karena nitrogen dari urea terikat pada jerami.

3. Tekstur jerami menjadi lebih lunak dan lebih palatabel bagi sapi.

4. Amonia berfungsi sebagai pengawet alami, membuat jerami tahan disimpan lebih panjang.

Secara teknis, proses amoniasi cukup sederhana: jerami dibasahi, dicampur dengan larutan urea dan EM4, kemudian disimpan dalam kondisi anaerob selama 14 hari. Teknologi ini dapat diterapkan pada skala rumah tangga tanpa alat kompleks.

Kontribusi terhadap Produktivitas Ternak

Berbagai penelitian di universitas dan balai penelitian menunjukkan bahwa pemberian jerami amoniasi dapat:

• meningkatkan konsumsi bahan kering;

• meningkatkan pertambahan bobot badan harian (ADG) sapi potong;

• mengurangi penurunan produksi susu pada sapi perah di musim kemarau;

• menekan biaya pakan hingga 30–40%.

Dengan demikian, jerami amoniasi bukan hanya pakan alternatif, tetapi strategi efisiensi usaha peternakan.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Pemanfaatan jerami untuk amoniasi memberikan dua keuntungan sekaligus:

1. Penguatan Ekonomi Peternak

Peternak dapat menghasilkan pakan dengan biaya murah dan bahan baku lokal. Ini penting mengingat harga konsentrat dan hijauan komersial terus naik. Kemandirian pakan dapat mengurangi ketergantungan pada pasar, menjaga stabilitas usaha, dan meningkatkan margin ekonomi.

2. Pengurangan Polusi dan Pembakaran Jerami

Pembakaran jerami masih menjadi kebiasaan di banyak sentra padi, yang menyebabkan polusi udara serta menurunkan kualitas tanah. Teknologi amoniasi mengalihkan limbah pertanian tersebut menjadi sumber nutrisi ternak yang bermanfaat, sejalan dengan prinsip circular agriculture.

Amoniasi sebagai Bagian dari Ketahanan Pakan Nasional

Dalam konteks lebih luas, jerami amoniasi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai metode teknis, tetapi sebagai strategi ketahanan pakan nasional. Produksi jerami yang tinggi, kemudahan penerapan, dan manfaat ekonomis menjadikannya solusi yang potensial untuk daerah-daerah rawan kekurangan hijauan.

Melalui pelatihan, pendampingan peternak, dan dukungan program pemerintah, jerami amoniasi dapat menjadi praktik umum di tingkat peternak kecil, khususnya di wilayah berbasis tanaman pangan.