Konten dari Pengguna

Sekolah yang Fokus Nilai, Bukan Pemahaman

Firman Riyadi

Firman Riyadi

copywriter mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firman Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi oleh jcomp – Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi oleh jcomp – Freepik.com

Dalam dunia pendidikan saat ini, kita sering melihat siswa berjuang keras untuk mendapatkan nilai tinggi. Mereka hanya belajar untuk mendapatkan angka yang bagus di rapor, tanpa mempelajari pemahaman materi atau mengembangkan cara berpikir kritis. Sayangnya, fenomena ini sudah sangat melekat dalam sistem pendidikan kita.

Saya juga pernah mengalami periode di mana belajar terasa berat. Buku dibaca bukan untuk memahami, tetapi untuk diingat. Materi yang dipelajari bukan karena menarik, tetapi karena akan muncul dalam ujian. Ini adalah masalah yang lebih besar daripada seorang individu—ini merupakan contoh dari cara sistem yang salah memahami apa itu pendidikan.

Budaya Mengejar angka

Kita hidup dalam sistem yang menilai keberhasilan siswa berdasarkan angka. Peringkat, nilai ujian, dan rata-rata rapor menjadi ukuran utama. Bahkan, terkadang siswa yang hanya mendapatkan nilai cukup dianggap "tidak pintar", meskipun mereka mungkin memiliki pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan yang hanya mengandalkan hafalan.

Tekanan yang diberikan oleh sekolah, orang tua, dan masyarakat terus memperkuat budaya ini. Anak-anak diajarkan bahwa nilai tinggi adalah segalanya. Akibatnya, banyak siswa hanya fokus pada hasil, bukan pada proses belajar itu sendiri. Menjelang ujian, mereka biasanya belajar secara instan dan melupakan semua yang telah mereka pelajari setelahnya. Ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang bersifat sementara, bukan bekal untuk jangka panjang.

Dampak yang Tidak Disadari

Budaya yang mengejar nilai ini memiliki banyak efek buruk. Pertama, siswa kehilangan rasa ingin tahu yang alami. Mereka tidak lagi merasa penasaran, tidak lagi bertanya “mengapa?”, karena semua perhatian mereka hanya tertuju pada “apa jawabannya?”. Kedua, tekanan untuk mendapatkan nilai membuat banyak siswa mengalami stres, kecemasan, bahkan sampai kehilangan rasa percaya diri.

Lebih parah lagi, muncul kebiasaan mencontek atau membeli jawaban. ini menunjukkan bahwa sistem lebih mengutamakan hasil daripada kejujuran. Jika nilai tinggi dihargai lebih dari usaha yang jujur, integritas akademik pun terancam.

Pemahaman adalah Tujuan Utama

Sebenarnya, pendidikan seharusnya berfokus pada pemahaman, bukan sekadar hafalan. Ilmu yang dipahami akan bertahan lebih lama dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Seseorang yang memahami konsep akan lebih siap menghadapi tantangan di dunia nyata dibandingkan dengan yang hanya mengandalkan angka.

Pemahaman juga mendorong perkembangan sikap kritis, kreatif, dan mandiri. Ketiga hal ini jauh lebih dibutuhkan saat ini dibandingkan hanya sekadar mengingat definisi.

Saatnya Kita Berubah

Kita harus berani mengubah orientasi pendidikan. Sekolah harus memprioritaskan proses belajar daripada hasil. Para guru harus memberi siswa kesempatan untuk berbicara, bereksperimen, dan belajar dari kesalahan mereka. Selain itu, sistem penilaian harus lebih beragam, mencakup selain ujian tulis, proyek, presentasi, dan portofolio.

Orang tua juga memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Mari kita ajarkan kepada anak-anak bahwa gagal bukanlah sesuatu yang buruk dan bahwa belajar adalah untuk membangun diri sendiri, bukan untuk memuaskan orang lain.

Belajar untuk Ilmu Bukan Angka

Belajar seharusnya bukan hanya untuk mendapatkan nilai 100, tetapi untuk menjadi manusia yang lebih baik. Kita harus kembali ke tujuan utama pendidikan: membentuk cara berpikir, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan kehidupan.

Karena pada akhirnya, nilai bisa saja dilupakan, tetapi pemahaman akan selalu dibawa sepanjang hidup.