Di Balik Green Economy: Ketergantungan Baru Afrika pada Industri Global

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Firstian Alief Adrina Destra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembuka
Di tengah krisis iklim global yang semakin mendesak, konsep green economy muncul sebagai jawaban atas dilema antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Model ini menawarkan pendekatan baru: bagaimana ekonomi tetap berkembang tanpa merusak ekosistem yang menopangnya, melalui efisiensi sumber daya, pengurangan emisi karbon, serta pemanfaatan energi terbarukan.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang lebih kritis: apakah konsep ini benar-benar menghadirkan keberlanjutan yang adil bagi semua negara, atau justru menyimpan kepentingan ekonomi global yang tidak seimbang?
Green Economy dan Agenda Global
Secara umum, green economy dipahami sebagai sistem ekonomi yang berupaya menciptakan pertumbuhan dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan, melalui investasi pada energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.
Dalam praktiknya, konsep ini berkembang menjadi agenda global yang didorong oleh negara-negara maju, lembaga internasional, dan korporasi besar. Transisi menuju energi bersih, kendaraan listrik, dan teknologi hijau membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga menciptakan kebutuhan besar terhadap sumber daya tertentu. Di sinilah green economy mulai beririsan dengan kepentingan industri global, karena transformasi ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga soal siapa yang menguasai teknologi, investasi, dan rantai pasok global.
Kondisi ini kemudian membawa kita pada realitas yang lebih kompleks ketika kebutuhan akan mineral penting seperti kobalt, lithium, dan nikel meningkat, negara-negara berkembang, terutama di Afrika kembali ditempatkan sebagai pemasok bahan mentah. Dengan kata lain, di balik narasi keberlanjutan, green economy berpotensi mereproduksi pola lama ketergantungan global, hanya dengan wajah yang lebih “hijau”.
Afrika sebagai Pusat Sumber Daya “Hijau”
Dalam arsitektur green economy global, Afrika menempati posisi yang sangat strategis, namun juga problematis. Benua ini menyimpan sekitar 30% cadangan mineral kritis dunia, termasuk kobalt, lithium, nikel, dan tembaga yang menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan.
Bahkan, Afrika menyumbang sekitar 75% produksi kobalt global, menjadikannya tulang punggung industri energi bersih dunia. Namun, posisi strategis ini tidak otomatis berarti keuntungan. Sebagian besar negara Afrika masih berada di ujung bawah rantai nilai global, mengekspor bahan mentah, sementara proses pengolahan dan manufaktur dilakukan di luar benua. Akibatnya, nilai tambah ekonomi justru mengalir ke negara industri, bukan ke negara penghasil sumber daya.
Ekstraktivisme dalam Balutan “Hijau”
Fenomena ini memunculkan kritik bahwa green economy berpotensi menjadi bentuk baru dari ekstraktivisme global. Meski dibungkus dengan narasi keberlanjutan, pola yang terjadi masih serupa dengan era kolonial yaitu eksploitasi sumber daya dari negara berkembang untuk mendukung pertumbuhan negara maju.
Afrika, misalnya, hanya menangkap kurang dari 1% nilai ekonomi dari teknologi hijau global, meskipun mineralnya menjadi fondasi utama industri tersebut.
Tanpa industrialisasi lokal dan transfer teknologi yang memadai, green economy justru memperkuat ketergantungan struktural, di mana negara berkembang tetap menjadi pemasok bahan mentah dalam sistem ekonomi global yang tidak setara.
Kedaulatan Ekonomi yang Terancam
Ketergantungan ini berdampak langsung pada kedaulatan ekonomi Afrika. Ketika ekspor mineral mentah menjadi tulang punggung ekonomi, negara-negara Afrika menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan pasar internasional.
Lebih jauh lagi, sebagian besar proses pengolahan mineral dilakukan di luar Afrika, sehingga negara-negara di benua ini harus mengimpor kembali produk jadi dengan harga lebih tinggi.
Situasi ini memperlihatkan paradoks bahwa Afrika kaya sumber daya, tetapi tetap miskin dalam nilai tambah industri. Green economy, dalam konteks ini, belum sepenuhnya membebaskan Afrika dari pola ketergantungan lama.
Ironi Lingkungan dan Sosial
Ironi terbesar dari green economy justru terletak pada dampaknya di tingkat lokal. Di balik narasi “ramah lingkungan”, aktivitas pertambangan mineral hijau sering kali tetap menimbulkan kerusakan ekologis, pencemaran, dan konflik sosial.
Laporan menunjukkan bahwa eksploitasi lithium dan kobalt di beberapa negara Afrika memicu kerusakan lingkungan, pelanggaran hak pekerja, hingga konflik komunitas lokal.
Dengan kata lain, “hijau” di tingkat global tidak selalu berarti berkelanjutan di tingkat lokal, terutama bagi masyarakat yang hidup di sekitar wilayah tambang.
Tantangan dan Upaya Perubahan
Meski menghadapi berbagai tantangan, negara-negara Afrika tidak sepenuhnya pasif. Sejumlah upaya mulai dilakukan untuk keluar dari pola ketergantungan, seperti mendorong hilirisasi industri, meningkatkan kapasitas pengolahan dalam negeri, serta memperkuat kerja sama regional.
Langkah ini penting karena jika Afrika mampu naik dalam rantai nilai yang tadinya sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen, maka potensi ekonomi dari green economy bisa benar-benar dinikmati secara lebih adil. Bahkan, strategi industrialisasi berbasis mineral diproyeksikan dapat meningkatkan GDP kawasan dan menciptakan jutaan lapangan kerja. Namun, upaya ini membutuhkan investasi besar, transfer teknologi, dan posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi global.
Penutup Analitis
Pada akhirnya, green economy bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi juga arena perebutan kekuasaan ekonomi global. Di satu sisi, ia menawarkan harapan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Namun di sisi lain, tanpa distribusi manfaat yang adil, ia berisiko menjadi bentuk baru ketimpangan, di mana negara maju menguasai teknologi dan keuntungan, sementara Afrika tetap menjadi pemasok sumber daya.
Pertanyaannya pun menjadi semakin relevan: apakah green economy akan benar-benar menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan dan adil, atau hanya mengulang pola lama dalam wajah yang lebih hijau?
