Konten dari Pengguna

Apa Jadinya Kalau Kita Tidak Ingin Sukses?

Fita Tristiani

Fita Tristiani

Freelance Content Writer Ilmu Kelautan Unsoed

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fita Tristiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa Jadinya Kalau Kita Tidak Ingin Sukses? (Unsplash/ Guille Álvarez)
zoom-in-whitePerbesar
Apa Jadinya Kalau Kita Tidak Ingin Sukses? (Unsplash/ Guille Álvarez)

Di era media sosial seperti saat ini, rasanya sangat mudah melihat orang lain sukses dan kemudian membandingkan dengan diri sendiri. Ada teman yang berhasil membangun usaha, membeli rumah sendiri, menonton konser favorit, bahkan liburan ke luar negeri. Sementara itu, kita mungkin hanya duduk di depan laptop setiap hari, tenggelam dalam rutinitas yang terasa monoton. Meskipun kita bahwa media sosial seringkali hanya menampilkan versi terbaik dari hidup seseorang, perasaan iri terhadap pencapaian orang lain itu tidak serta merta bisa hilang. Menurut The School of Life dalam artikel The Problem with Ambition, mengejar kesuksesan merupakan bagian dari ambisi yang bisa baik sekaligus buruk. Di mana ambisi ini, tidak hanya buruk bagi orang lain, tapi juga bagi diri sendiri. Dengan budaya, di mana setiap orang bisa menunjukkan pencapaian dan kesuksesan secara real-time, rasanya dunia ini dipenuhi dengan orang sukses. Sebagai masyarakat sosial, rasanya jika tidak hal yang dibanggakan, baik itu pekerjaan maupun prestasi, rasanya hidup banyak tertinggal. Tapi, apakah ambisi selalu membawa kebahagiaan? Bagaimana jika kita berhenti mengikuti standar sosial mengenai kesuksesan?

Ambisi dan Tekanan Sosial

Ambisi seringkali dianggap sebagai dorongan untuk meraih kesuksesan, pencapaian, dan pertumbuhan pribadi. Tapi bagaimana jika ambisi tersebut membuat orang melangkah terlalu jauh? Bahkan justru bisa memicu rusaknya rasa percaya diri dan kecemasan sosial? Ambisi yang berlebihan bisa membuat seseorang terus menerus merasa tidak puas, gelisah, bahkan mengisolasi diri sendiri dari orang lain maupun lingkungan. Sayangnya, masyarakat sering menilai diri seseorang dari pencapaian yang didapat seperti jabatan, kekayaan, dan status sosial. Status sosial ini merujuk kepada penghargaan yang diberikan kepada individu berdasarkan keahlian, kompetensi, dan pengetahuan berdasarkan bidangnya. Orang cenderung menilai seseorang berdasarkan profesi, tingkat pendidikan, serta gelar. Status sosial inilah yang menciptakan ambisi dari luar, bukan dari keinginan pribadi. Jika ambisi benar-benar berasal dari diri sendiri, itu akan menjadi ambisi yang baik. Namun, kita sering kali terdorong untuk mengejar tujuan karena keinginan orang lain, termasuk tekanan sosial dan itu tidak sehat karena tidak memberi manfaat. Mengejar ambisi karena standar orang lain, bisa membuat kecewa dan tidak bahagia. Sementara itu, terus menerus mengejar ambisi membuat tidak memiliki punya waktu sendiri maupun untuk orang lain. Hal tersebut dapat memicu stres dan burnout. Banyak orang mengejar ambisi untuk memiliki status sosial hingga akhirnya mereka bekerja terlalu keras yang menyebabkan mereka stres, kelelahan, bahkan kehilangan keseimbangan hidup. Ambisi yang tidak sehat membuat hidup seseorang jadi tidak seimbang. Misalnya, terlalu fokus pada pekerjaan atau target sampai-sampai lupa dengan hal lain yang tidak kalah penting, termasuk kesehatan mental dan fisik.

Mengapa Kita Bisa Lelah karena Ambisi?

Orang juga bisa merasa lelah dengan ambisi karena beberapa alasan, termasuk kelelahan akibat berjuang secara menerus karena ambisi tersebut, prioritas yang sering berubah, hingga kesadaran bahwa validasi dari orang lain tidak sama dengan kebahagiaan. Ambisi, meski bisa dianggap sebagai sesuatu yang positif, tapi juga dapat menyebabkan stres, cemas, hingga perasaan tidak pernah puas jika tidak diimbangi dengan kepuasan dari diri sendiri. Salah satu alasan yang menjadi alasan mengejar ambisi bisa menjadi sesuatu yang melelahkan adalah karena tidak sesuainya antara nilai-nilai diri dan nilai sosial yang ada di masyarakat mengenai makna sukses. Hal tersebut dapat menjadi penyebab perasaan tidak puas, cemas, hingga mengganggu kesehatan mental. Konflik ini muncul ketika nilai dan prioritas dalam diri seseorang bertentangan dengan pemahaman umum mengenai pencapaian dan kebahagiaan. Hal tersebut sering dipengaruhi oleh media sosial dan norma budaya yang berlaku di masyarakat. Menyadari bahwa pencapaian tidak selalu membawa kepuasan adalah pengalaman yang umum dialami banyak orang. Hal ini menegaskan perbedaan antara keberhasilan yang terlihat dari luar dan kepuasan batin yang sesungguhnya. Meski pencapaian tersebut dapat memberi pengakuan dan rasa dihargai untuk sementara, namun arti hidup yang sesungguhnya justru lahir dari tindakan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi, passion, dan tujuan hidup. Seringkali, ini berarti kita mengalihkan fokus dari sekedar mengejar tanda-tanda kesuksesan dari luar menuju upaya untuk membangun makna yang lebih dalam hubungan yang lebih otentik dalam kehidupan.

Alternatif Terhadap Ambisi Konvensional

Alternatif terhadap ambisi konvensional meliputi prioritas terhadap kesejahteraan pribadi, eksplorasi berbagai minat, dan fokus pada pengalaman daripada apa yang dimiliki. Selain itu, merasa bahagia, bermakna serta puas karena bisa memberikan manfaat bagi orang lain di luar kepentingan pribadi. Pilihan-pilihan hidup yang menjadi alternatif dari ambisi konvensional biasanya menuntut kita untuk berhenti mencari validasi dari luar seperti pujian, jabatan, gelar, atau harta. Alternatif ini membantu mulai mencari kebahagiaan dari dalam diri yang datang dari nilai pribadi, tujuan, dan hubungan yang nyata. Maka dari itu, salah satu alternatif terhadap ambisi konvensional adalah dengan mengganti ambisi tersebut dengan kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna. Kehidupan yang bermakna dan memuaskan dapat dibangun dengan cara berfokus pada hal-hal yang lebih dalam dan personal. Seperti hubungan dengan orang lain, ketenangan, kreativitas, dan kontribusi terhadap sesama. Ini berarti kita berusaha menjalin hubungan secara tulus dengan orang-orang di sekitar serta menjaga ketenangan dan keseimbangan dalam diri sendiri. Dengan begitu, kita bisa mengekspresikan perasaan serta pikiran melalui kegiatan kreatif yang memberi dampak secara positif terhadap sekitar. Hal ini saling berkaitan dan membentuk fondasi bagi hidup yang tidak hanya berhasil dari luar, tetapi kepuasan dalam diri sendiri. Menemukan kebahagiaan dalam kata cukup bisa jadi pilihan daripada mengejar lebih yang berarti menghargai apa yang sudah dimiliki. Ini bisa berarti bahwa kita menyadari nilai-nilai dari momen sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari daripada terus menerus berusaha mendapatkan lebih banyak materi dan pencapaian. Ini tentang menumbuhkan rasa cukup serta syukur atas apa yang dimiliki saat ini. Hal itu pada akhirnya dapat membawa kehidupan yang lebih bermakna dan bahagia.

Risiko dan Ketakutan saat Melepas Ambisi

Melepaskan ambisi bisa memicu perasaan takut, terutama akan kehilangan jati diri, hidup yang cenderung stagnan, dan mendapat penilaian dari orang lain. Namun di sisi lain, keputusan ini bisa jadi membuka peluang lain yang lebih baik untuk mendapatkan kepuasan yang diinginkan, kehidupan yang lebih seimbang, hingga mengurangi stres akibat kerja keras tanpa henti. Salah satu hal yang cukup ditakutkan jika berhenti menyerah pada ambisi dan berhenti mengejar kesuksesan adalah dianggap gagal oleh lingkungan. Selain itu, muncul perasaan tersesat dan kehilangan arah saat tiba-tiba tidak ada ambisi yang perlu dikejar. Hal tersebut dapat menimbulkan perasaan kosong, apatis, serta kesulitan dalam mengambil keputusan. Perubahan besar dalam hidup bisa menjadi salah satu alasan munculnya perasaan tersebut, termasuk tantangan kesehatan mental, ketidaksesuaian antara kehidupan saat ini dengan nilai dan tujuan pribadi. Saat seseorang memilih untuk tidak lagi mengejar kesuksesan yang umum ada di masyarakat, ia mungkin akan dihadapkan pada ketakutan akan penilaian orang lain, rasa kehilangan arah, dan tantangan menjalani hidup tanpa pengakuan sosial. Hidup tanpa pencapaian menurut standar orang lain sering kali membuat seseorang merasa tidak terlihat dan tidak diakui.

Kesimpulan

Menolak memiliki ambisi bukan berarti menyerah dalam hidup, melainkan memilih jalur hidup yang lebih otentik dan sesuai keinginan pribadi. Dengan begitu, kita bisa mendefinisikan ulang kata sukses, bukan mengenai apa yang sudah kita raih, tapi tentang bagaimana kita menjalani hidup. Lalu, apa kata sukses menurutmu dan siapa yang mendefinisikannya? Apakah dirimu sendiri atau orang lain?