Konten dari Pengguna

Pencak Silat Sebagai Representasi Budaya Betawi

Fito Wahyu

Fito Wahyu

Mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta Jurusan Broadcast

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fito Wahyu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto diatas merupakan salah satu jurus silat yang dilakukan pada Pernikahan. Foto: Irfan
zoom-in-whitePerbesar
Foto diatas merupakan salah satu jurus silat yang dilakukan pada Pernikahan. Foto: Irfan

JAKARTA - Seni bela diri sering kali menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan akar budaya kita. Salah satunya ialah Pencak Silat Betawi. Tahukah kamu bahwa Pencak Silat Betawi tidak tergabung dalam IPSI?

IPSI adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia, yang telah lama menjadi payung bagi aliran Pencak Silat di Indonesia yang bertujuan untuk mempersatukan dan memajukan seni bela diri Indonesia. Namun, ada fakta menarik yang membedakan Pencak Silat Betawi dari aliran lainnya, yaitu keputusannya untuk mempertahankan warisan kebudayaannya. Selain itu pencak silat betawi lebih dominan dalam gerakan kreasi dan teknik melumpuhkan lawan. Hal ini menjadikan Pencak Silat Betawi sebagai sebuah misteri yang menarik di dalam dunia seni bela diri.

Budaya Betawi kini mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya. Padahal Betawi sendiri merupakan budaya asli dari Ibu Kota Jakarta. Salah satu seni bela diri yang memikat perhatian adalah Pencak Silat Betawi, sebuah warisan budaya yang kuat dari masyarakat Betawi di Indonesia.

Dengan gerakan yang elegan dan teknik yang ciamik, Pencak Silat Betawi telah memikat hati para praktisi seni bela diri serta memperkaya keberagaman budaya Indonesia.

Dikombinasikan dengan unsur-unsur budaya lokal Betawi, seni bela diri ini mencerminkan kekuatan, keindahan, dan keanggunan masyarakat Betawi yang beragam.

Pelestarian

Foto diatas merupakan salah satu latihan jurus silat yang dilakukan pada awal pertemuan. Foto : Irfan

Salah satu Pencak Silat Betawi ialah Padepokan Sanggar Manggar Kelape yang terletak di Kemang Selatan, padepokan ini sudah berdiri sejak 5 Mei 2005. H.Edy Mulyadi, beliau adalah sosok yang membuat suatu padepokan sanggar betawi untuk menghadapi perubahan budaya khususnya untuk masyarakat kemang. Tujuan utama Edy membuat sanggar manggar kelape ini untuk mempertahankan Budaya Betawi yang semakin menghilang.

Sanggar Manggar Kelape adalah sebuah padepokan sanggar betawi yang bertujuan untuk melestarikan warisan budaya Indonesia, khususnya seni bela diri Nusantara. Dengan semangat yang tinggi dan tekad yang kuat, sanggar ini memiliki visi dan misi yang jelas untuk mengharumkan budayanya dan mewariskan seni bela diri Nusantara kepada generasi muda. Visi dan Misi dari Sanggar Manggar Kelape tersebut yaitu,

1. Menjadikan Masyarakat Betawi Cinta terhadap Budayanya sendiri

2. Dakwah lewat seni

3. Melestarikan seni budaya Betawi

4. Menghindari anak-anak dari Narkoba

Foto diatas merupakan anak anak yang sedang latihan,sekaligus untuk melestarikan sejak kecil. Foto : Edy

Dalam menjalankan visi dan misi Sanggar Manggar Kelape telah menciptakan slogan yang menggambarkan visi dan misi serta nilai-nilai mereka yaitu, "Agama kite gali ilmu kite koredin, silat dan seni kite kantongin". Slogan tersebut mencerminkan tekad dan semangat mereka untuk menggali pengetahuan dari agama dan seni, serta menghormati dan menjaga silat sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

Para instruktur yang berpengalaman dan penuh dedikasi di Sanggar Manggar Kelape tidak hanya mengajarkan teknik-teknik dasar pencak silat, tetapi juga membimbing siswa dalam memahami filosofi di balik setiap gerakan. Mereka percaya bahwa pencak silat tidak hanya merupakan seni bela diri, tetapi juga merupakan cara hidup yang mengajarkan keberanian, kedisiplinan, dan menghormati nilai-nilai budaya.

Dengan semangatnya yang tak kenal lelah dalam mempertahankan warisan seni beladiri Nusantara, Sanggar Manggar Kelape diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk melestarikan budaya dan seni tradisional mereka sendiri.

Melalui kegigihan dan semangatnya, Sanggar Manggar Kelape telah menjadikan Pencak Silat dan budaya tradisional sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Bagian pertama yang menarik perhatian dalam perjalanan di Sanggar Manggar Kelape adalah keindahan gerakan dan teknik dalam Pencak Silat. Gerakan-gerakan elegan yang dieksekusi dengan presisi dan kekuatan yang tepat, menggambarkan keahlian dan keindahan seni yang ada dalam setiap langkah dan formasi. Melalui latihan yang tekun dan disiplin, para anggota sanggar ini telah menguasai teknik bertarung yang efektif.

Sanggar manggar kelape ini membuka latihan dari anak kecil hingga orang dewasa,dimana kata edy "Semangat kita membangun budaya kite dari kecil sampe gede".

Foto diatas diambil pada saat silat JTBM sedang latihan. Foto : Irfan

Di samping Sanggar Manggar Kelape, ada juga Padepokan Silat JTBM (Jalan Tangan Betawi Muda) yang membuat menarik perhatian Masyarakat. JTBM adalah padepokan seni Bela diri Betawi yang mempunyai dua aliran gerak silat,yaitu gerak akal gombel dan gerak akal sabeni.

Padepokan tersebut berdiri pada tahun 2008, di Sekretariat Jalan Raya Krukut gang Galur RT.02/06 Kelurahan Krukut Kecamatan Limo kota Depok. Asal muasal dari gerakan akal gombel dilestarikan dari wilayah pinggir kota Jakarta, Depok dan Tangerang. Sementara aliran silat gerakan akal sabeni berasal dari wilayah Tanah Abang.

Gerakan akal gombel lebih memperlihatkan unsur keseniannya. sedangkan, gerakan akal sabeni lebih dominan kepada titik kematian. "Kalau untuk gerakan akal sabeni, dia itu cuma sontok abis. Dia itu ibaratnya seperti ular kobra. Sedangkan gerakan akal sabeni itu langsung main ke titik kematian. Seperti di leher, di mata, di dada" Ucap Irfan Maulana (18) sebagai Pelatih JTBM.

Meskipun tidak tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Pencak Silat Betawi mempertahankan warisan kebudayaannya dengan menjaga keunikan gerakan kreasi dan teknik melumpuhkan lawan. Hal ini menjadikan Pencak Silat Betawi menarik sebagai sebuah misteri dalam dunia seni bela diri.

Budaya Betawi sebagai budaya asli dari Jakarta sedang menghadapi ancaman kepunahan. Pencak Silat Betawi menjadi salah satu cara untuk memperkaya keberagaman budaya Indonesia dan mempertahankan warisan budaya Betawi.

Foto latihan rutin Silat Betawi. Foto : Edy

Sanggar Manggar Kelape dan Padepokan Silat JTBM adalah dua Padepokan yang berperan dalam melestarikan Pencak Silat Betawi dan budaya Betawi. Mereka memiliki visi dan misi yang jelas untuk menjaga dan mewariskan seni bela diri Nusantara kepada generasi muda.

Para Guru Besar di sanggar tersebut tidak hanya mengajarkan teknik-teknik dasar Pencak Silat, tetapi juga membimbing siswa dalam memahami filosofi dibalik setiap gerakan, sehingga Pencak Silat tidak hanya dianggap sebagai seni beladiri, tetapi juga sebagai cara hidup yang mengajarkan nilai-nilai budaya, keberanian,dan kedisiplinan.

Melalui semangat, tekad, dan dedikasi mereka, Sanggar Manggar Kelape dan Padepokan Silat JTBM diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk melestarikan budaya dan seni tradisional mereka sendiri. Pencak Silat Betawi dan budaya tradisional Betawi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, dan mereka berusaha untuk menjaga warisan seni bela diri Nusantara agar tetap hidup dan berkembang.