DP 0 Persen dan Tenor Panjang, Ekonom Wanti-wanti Ledakan Semu Penjualan Molinas

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Motor listrik nasional ALVA. Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Motor listrik nasional ALVA. Foto: Zamachsyari/kumparan

Kebijakan pembiayaan yang terlalu longgar untuk penyaluran Motor Listrik Nasional (Molinas) berisiko memicu ledakan pertumbuhan semu pada industri otomotif elektrifikasi Tanah Air.

Kombinasi antara subsidi harga, uang muka (DP) nol persen, dan perpanjangan tenor pembiayaan dinilai dapat mengecoh angka penjualan riil di pasar.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memperingatkan bahwa pemangkasan seluruh hambatan pembelian sekaligus bisa membuat angka penjualan Molinas terlihat meroket pada kurun waktu tertentu. Namun, lonjakan tersebut belum tentu mencerminkan daya beli masyarakat yang sesungguhnya.

"Penjualan Molinas dapat melonjak sangat tinggi pada satu atau dua tahun pertama karena subsidi, uang muka nol persen, bunga rendah, dan tenor panjang. Produsen akan melihat permintaan melonjak, lembaga pembiayaan mencatat pertumbuhan kredit tinggi, dan pemerintah dapat menyatakan program berhasil," ujar Josua kepada kumparan Jumat (21/8/2026).

Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional (MOLINAS) di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Josua bilang, masalah besar diprediksi baru akan muncul setelah periode awal tersebut berlalu, terutama ketika sebagian pembeli ternyata tidak memiliki ketahanan finansial yang kuat untuk melanjutkan cicilan.

"Namun apabila sebagian permintaan sebenarnya berasal dari masyarakat yang kemampuan bayarnya lemah, setelah 12–24 bulan tunggakan mulai meningkat. Pada saat bersamaan pasar kendaraan bekas dapat menerima banyak unit hasil penarikan, menekan nilai jual kembali, dan memperbesar kerugian lembaga pembiayaan," paparnya.

Ia menambahkan, perpaduan tiga stimulus utama secara bersamaan subsidi langsung, penghapusan DP, dan tenor panjang berpotensi mengubah perilaku konsumsi masyarakat menjadi kurang rasional.

Presiden Prabowo luncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukung di Bekasi, Kamis (13/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

"Jangan sampai subsidi pemerintah menurunkan harga sekaligus lembaga keuangan menghapus uang muka dan memperpanjang tenor tanpa penyaringan yang memadai, karena tiga kemudahan sekaligus dapat mendorong masyarakat membeli berdasarkan kemampuan memperoleh kredit, bukan kemampuan membayar kredit," tegas Josua.

Meskipun saat ini kondisi rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan berada di level yang aman yaitu 2,09 persen bruto dan pembiayaan bermasalah multifinance di angka 3,01 persen, Josua mengingatkan agar kondisi sehat ini tidak membuat pengawas jasa keuangan lengah.

"Kondisi sehat sekarang bukan alasan untuk menurunkan standar pemberian kredit. Justru kebijakan harus dirancang sebelum masalah muncul karena kredit yang diberikan hari ini baru menunjukkan kualitas sebenarnya beberapa bulan atau tahun kemudian," pungkasnya.