Iconik Museum Wayang Banyumas

Mahasiswi Ilmu Komunikasi AMIKOM Purwokerto, Aktivis, SEO Writer, MC, Penulis Lepas, Pengurus Duta Pelajar Indonesia, Duta Prestasi Pendidikan, Duta Pendidikan Leaders.id, Part of Serayu News.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fitri Anisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iconik Museum Wayang Banyumas, di tengah arus modernisasi yang kian deras, Museum Wayang Banyumas hadir sebagai penjaga nilai-nilai lokal. Ia menjadi rumah bagi tradisi, tempat belajar bagi generasi muda, dan pengingat akan pentingnya melestarikan budaya leluhur. Langit biru bersih, udara pagi membawa aroma khas tanah Jawa yang bersahabat. Museum ini, yang juga dikenal sebagai Museum Wayang Sendang Mas, berdiri kokoh di kawasan komplek Kota lama Banyumas atau kawasan cagar budaya. Tak hanya menjadi saksi bisu sejarah seni pedalangan di tanah Banyumasan, museum ini juga memeluk erat kekayaan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Iconik Museum Wayang Banyumas museum ini diresmikan pada tanggal 31 Desember 1983, atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Roestam, bersama tokoh-tokoh budaya Banyumas. Nama ‘Sendang Mas’ sendiri merupakan akronim dari “Seni Pedalangan Banyumas” mencerminkan identitas yang begitu lekat dengan tanah kelahirannya. Memasuki ruangan pertama, pengunjung disambut oleh barisan koleksi wayang kulit yang memukau. Ada Wayang Gagrag Banyumasan yang khas dengan tokoh legendarisnya yaitu Bawor, tokoh punakawan yang menjadi ikon lokal dan kebanggaan masyarakat.
Iconik Museum Wayang Banyumas juga menyimpan ragam jenis wayang lain, seperti Wayang Gagrag Yogyakarta dan Surakarta, Wayang Krucil, Wayang Suluh, Wayang Beber, hingga Wayang Golek Menak. Masing-masing punya cerita, nilai moral, dan gaya pertunjukannya sendiri.
Iconik Museum Wayang Banyumas, juga menyimpan benda-benda peninggalan kuno. Mulai dari blencong lampu tradisional pertunjukan wayang, gamelan, alat pakeliran, sampai perkakas pembuatan wayang yang usianya mencapai puluhan tahun.
Iconik Museum Wayang Banyumas, di Jawa bagian lain ada Semar, maka Banyumas punya Bawor sekaligus kejujuran khas wong Banyumas. Kini, berkat teknologi, pengalaman di museum semakin seru. Cukup scan barcode di dekat koleksi, lalu ikuti petunjuk dan tanda panah di layar smartphone, kemudian akan muncul permainan interaktif berbasis AI yang mengajak kita mengenal lebih dekat tokoh-tokoh wayang dan nilai-nilai yang mereka bawa, tanpa harus menyentuh koleksi asli. Setiap penemuan, membawa kita pada cerita dan kearifan budaya yang tak lekang oleh waktu.
Iconik Museum Wayang Banyumas di ruangan kontemporer, ada uang logam dan kertas dari berbagai negara, kacamata yang pernah digunakan tokoh penting, hingga alat hitung kuno yang terbuat dari rangka kayu dengan sederetan poros yang berisi manik-manik menjadi alat hitung di masa lalu. Berbagai pusaka dan benda bersejarah tersimpan rapi, menjadi saksi perjalanan panjang peradaban. Terdapat pula deretan keris tersaji. Setiap keris memiliki bentuk, motif, dan filosofi yang berbeda, melambangkan nilai-nilai luhur serta kearifan lokal.
Iconik Museum Wayang Banyumas memiliki beberapa koleksi alat musik tradisional seperti kendang dipamerkan dengan sentuhan modern. Kendang, sebagai salah satu instrumen utama dalam gamelan, memiliki peran penting dalam mengatur irama dan dinamika pertunjukan. Setiap kendang menyimpan cerita dan filosofi, menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Nusantara.
Iconik Museum Wayang Banyumas juga tersaji seperangkat gamelan lengkap, warisan budaya yang telah mengiringi berbagai upacara dan pertunjukan seni di tanah Jawa selama berabad-abad. Setiap instrumen, mulai dari gong, saron, bonang, hingga kenong, memiliki suara dan peran tersendiri dalam menciptakan harmoni yang khas. Cara memainkan gamelan adalah dengan memukul bilahan logam menggunakan alat pemukul khusus yang disebut tabuh.
