Politik Balas Budi di Pemerintahan

Mahasiswi Semester 2 Hukum Tata Negara, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fitri Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang tidak munafik dari politik balas budi? Seringkali jabatan bukan atas usaha sendiri, melainkan hasil orang dalam. Melobi untuk teman seperjuangan atau sekadar kata ikatan alumni. Orang di luar mati-matian untuk usaha masuk ke dalam dengan kemampuan yang dipunya. Nyatanya niat dan usaha yang murni tidak sejalan dengan hasil. Akibatnya dampak dari segi integritas dan pengetahuan yang tidak sesuai dengan posisi. Yang akan merasakan akibat paling besar adalah warga negaranya. Nasib yang perlu dikhawatirkan bukan negara, akan tetapi rakyat-rakyat miskin yang tidak memiliki power dalam mengubah hidup, maka rakyat miskin akan terus berada di situ-situ aja. Hal ini sejalan dengan teori yang berkuasa ialah yang akan menang.
Yang dahulunya berteriak dari luar untuk menurunkan pejabat yang tidak becus dalam menjalankan tugasnya, kini orang-orang itu duduk dengan nyaman di kursi kebesaran yang mereka bangga-banggakan, cukup ongkang-ongkang kaki tidak perlu mengetahui rakyatnya susah atau kelaparan yang terpenting menikmati duit rakyat dengan rasa senang. Oh sungguh, bukankah ini sama seperti menjajah rakyatnya sendiri?. Inilah daruratnya jika politik balas budi terus ada di Indonesia, maknanya semakin melenceng dari awal mula pemerintah Belanda menerapkan.
Kepentingan sendiri menjadi fokus utama dalam menjilat orang-orang yang berada di dalam, hanya demi sebuah jabatan, yang kalau tidak ada rakyat siapa akan menggaji mereka? Dengan sombonngnya berteriak rakyat harus bersyukur, apanya yang perlu disyukuri ketika hidup dalam sebuah pemerintahan yang memeras rakyatnya sendiri? Semakin rusaknya pemerintahan di negara ini, semakin putus asa pula rakyatnya menghadapi. Yang kelaparan akan semakin kelaparan, rakyat seakan perlahan mati oleh sistem yang tak berkesudahan.
Lantas, harus seperti apa? Yang berteriak dulunya akan masuk ke dalam lingkaran setan? Akankah begitu seterusnya? Menjadi siklus berulang yang mematikan. Lantas apakah negara ini akan bisa menjadi negara emas? Rakyat pun bertanya-tanya kapan saat itu tiba waktunya.
