Konten dari Pengguna

1.726 Mdpl dan Sebuah Pelajaran tentang Keberanian

Fitri Novita Faradina

Fitri Novita Faradina

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitri Novita Faradina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Andong. Aset. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Andong. Aset. Istimewa

Keinginan untuk mendaki gunung sebenarnya sudah lama saya simpan. Bukan karena ingin mengikuti tren atau sekadar mengunggah foto di media sosial, melainkan karena saya memang menyukai alam. Hamparan pepohonan hijau, udara yang segar, serta pemandangan gunung yang berdiri megah selalu berhasil membuat saya merasa tenang. Setiap kali melihat foto sunrise dari puncak gunung, saya selalu membayangkan bagaimana rasanya menyaksikan keindahan itu secara langsung.

Satu hal yang selalu membuat keinginan itu tertunda adalah rasa takut. Saya termasuk orang yang tidak tahan dengan udara dingin. Membayangkan harus bermalam di gunung dengan suhu yang rendah saja sudah cukup membuat saya ragu. Pikiran-pikiran seperti "bagaimana kalau tidak kuat?" atau "bagaimana kalau tubuh saya tidak sanggup?" terus muncul setiap kali membahas rencana mendaki.

Keinginan yang semakin besar akhirnya mengalahkan rasa takut tersebut. Saya mengajak beberapa teman kuliah untuk mendaki bersama. Tanpa berpikir lama, mereka langsung setuju. Rasanya senang sekaligus gugup karena impian yang selama ini hanya ada di kepala akhirnya benar-benar akan terwujud.

Persiapan mulai saya lakukan sekitar dua minggu sebelum keberangkatan. Saya rutin jogging ringan untuk melatih fisik karena sadar bahwa mendaki gunung bukan sekadar berjalan biasa. Tubuh harus dibiasakan bergerak agar tidak terlalu kaget menghadapi jalur menanjak. Selain menyiapkan fisik, saya juga mulai mencari informasi mengenai Gunung Andong yang dikenal sebagai salah satu gunung ramah bagi pendaki pemula.

Tiga hari sebelum keberangkatan, rasa tidak sabar semakin terasa. Saya mulai menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Karena belum memiliki peralatan mendaki sendiri, saya menyewa sepatu hiking, trekking pole, dan jaket tebal. Rasanya seperti anak kecil yang sedang menunggu hari liburan. Semua perlengkapan saya cek berkali-kali agar tidak ada yang tertinggal.

Jum'at, 3 Juli 2026, menjadi hari yang sudah lama saya nantikan. Bersama lima teman lainnya, saya berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang sekitar pukul 17.30 WIB menggunakan tiga sepeda motor. Perjalanan berlangsung cukup menyenangkan meskipun jalanan sedang ramai karena jam pulang kerja. Beberapa ruas jalan juga masih diperbaiki sehingga perjalanan sedikit melambat. Candaan selama perjalanan membuat suasana tetap hangat.

Perjalanan hampir sampai ketika kami memutuskan berhenti sejenak di sebuah minimarket. Waktu istirahat itu ternyata menjadi awal munculnya kembali rasa takut yang sempat hilang. Udara mulai terasa dingin hingga saya meminta teman menggantikan posisi saya sebagai pengendara motor. Duduk di boncengan justru membuat pikiran saya semakin ramai.

Berbagai kemungkinan buruk terus memenuhi kepala. Saya membayangkan tidak sanggup menghadapi suhu dingin di gunung, menyerah di tengah perjalanan, bahkan sempat berpikir berlebihan tentang kemungkinan terburuk. Pikiran itu membuat saya spontan memperbanyak istighfar sepanjang perjalanan menuju basecamp. Sekarang saya bisa menertawakannya, tetapi saat itu rasa takut memang terasa begitu nyata.

Basecamp Gunung Andong kami tiba sekitar pukul 19.30 WIB. Suasana masih cukup sepi dengan udara dingin yang mulai menusuk. Kami beristirahat sejenak, kemudian melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak. Perut yang mulai lapar membuat kami memesan mi rebus hangat. Mangkuk sederhana itu terasa sangat nikmat di tengah udara pegunungan yang dingin.

Obrolan, tawa, dan sesi foto bersama mengisi malam sebelum pendakian. Kami bahkan sempat membuat video transisi yang sudah direncanakan sejak dari Jogja. Pendaki lain mulai berdatangan sehingga basecamp berubah menjadi lebih ramai. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika kami memutuskan untuk beristirahat.

Mata saya sama sekali tidak bisa terpejam. Jaket tebal, dua lapis kaus kaki, dan sarung tangan ternyata belum cukup mengusir rasa dingin. Tubuh terus menggigil setiap kali mencoba berbaring. Teman-teman satu per satu mulai tertidur, sementara saya hanya memandangi langit-langit basecamp sambil berharap rasa dingin segera berkurang. Pukul dua dini hari saya memilih bangun dan membeli segelas susu hangat untuk sedikit menghangatkan badan.

Suasana basecamp mulai kembali ramai menjelang pukul empat pagi. Semua pendaki bersiap memulai perjalanan menuju puncak. Kami pun ikut bersiap dengan segala keribetan khas perempuan. Setelah memastikan semua perlengkapan sudah lengkap, perjalanan yang selama ini hanya menjadi angan akhirnya benar-benar dimulai.

Tanjakan pertama langsung menguji fisik saya. Napas terasa berat, kaki mulai pegal, dan jantung berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Beberapa langkah sekali saya harus berhenti mengambil napas. Pikiran untuk menyerah sempat muncul karena jalur awal terasa jauh lebih berat daripada yang saya bayangkan.

Semangat dari teman-teman menjadi alasan terbesar saya terus melangkah. Mereka tidak pernah memaksa saya berjalan cepat. Mereka justru menyesuaikan langkah dan terus memberikan dukungan setiap kali saya mulai kelelahan. Kehadiran mereka membuat saya percaya bahwa perjalanan ini bisa diselesaikan bersama.

Azan Subuh berkumandang saat kami tiba di Pos 1. Kami memutuskan berhenti untuk melaksanakan salat sebelum melanjutkan pendakian. Langkah demi langkah berikutnya terasa lebih ringan. Tubuh mulai beradaptasi dengan jalur dan udara pegunungan.

Langit perlahan berubah menjadi jingga ketika kami menuju Pos 3. Matahari mulai muncul dari balik pegunungan, menghadirkan pemandangan yang selama ini hanya saya lihat melalui foto. Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing berdiri gagah di kejauhan. Saya berkali-kali berhenti, bukan karena lelah, tetapi karena ingin menikmati setiap detik keindahan itu.

Perjalanan menuju puncak juga menghadirkan pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Seorang pedagang menjual es krim di jalur pendakian. Kami pun membeli es krim seharga Rp10.000 dan menikmatinya sambil memandangi pegunungan. Rasanya unik, menikmati es krim di tengah udara dingin dengan pemandangan yang luar biasa indah. Momen sederhana itu justru menjadi salah satu kenangan favorit saya.

Langkah terakhir menuju puncak terasa jauh lebih ringan dibandingkan tanjakan pertama. Rasa lelah seolah hilang ketika papan bertuliskan "Puncak Gunung Andong" akhirnya terlihat di depan mata. Ketinggian 1.726 mdpl menghadiahkan pemandangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Hamparan pegunungan membentang sejauh mata memandang. Langit biru berpadu dengan sinar matahari pagi menciptakan panorama yang begitu menenangkan. Saya hanya bisa berdiri diam sambil berkali-kali mengucapkan, "Masyaallah."

Semua ketakutan yang saya bawa sejak berangkat mendadak terasa tidak berarti. Rasa dingin yang selama ini saya khawatirkan ternyata bukan penghalang terbesar. Pikiran saya sendirilah yang selama ini membesarkan rasa takut itu.

Pendakian pertama ke Gunung Andong mengajarkan bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski rasa takut itu masih ada. Perjalanan ini juga membuat saya semakin menyadari betapa luar biasanya ciptaan Allah. Pemandangan dari puncak bukan sekadar indah untuk dipotret, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebesaran-Nya selalu mampu membuat manusia merasa kecil sekaligus bersyukur.

Perjalanan pulang menuju Yogyakarta terasa berbeda. Tubuh memang lelah, tetapi hati dipenuhi rasa syukur. Saya pulang bukan hanya karena berhasil mencapai puncak, melainkan karena berhasil mengalahkan keraguan yang selama ini membatasi diri.

Gunung Andong menjadi saksi bahwa langkah pertama sering kali terasa paling berat. Begitu langkah itu berhasil dilewati, perjalanan berikutnya akan terasa jauh lebih bermakna. Pendakian ini mungkin menjadi pengalaman pertama saya, tetapi rasanya bukan yang terakhir.