Kisah Keramat Kampung Adat Namata di Sabu Raijua NTT

Fitri Nuraini
Mahasiswi Universitas Amikom Purwokerto, Program Studi Ilmu Komunikasi Senang menulis tentang kisah perjalanan, pendidikan dan masalah-masalah sosial di masyarakat. Hobi Menari dan Mencipta Puisi.
Konten dari Pengguna
19 April 2023 21:12 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Fitri Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Potret di Kampung Adat Namata. Sumber : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Potret di Kampung Adat Namata. Sumber : Dokumentasi Pribadi
ADVERTISEMENT
Siang yang sangat terik. Matahari seperti berada di atas ubun-ubun. Di Langit Sabu, tak terlihat ada awan berarak. Yang ada warna biru. Biru Seluas cakrawala. Padahal, jam tangan masih menunjukkan pukul 10.35 WIB. Hari ini, hari Minggu, 26 Februari 2023. Sampailah kami di Kampung Legendaris Sabu Raijua, Kampung Adat Namata di Nusa Tenggara Timur.
ADVERTISEMENT
Asal-usul Kampung Adat Namata (berdasarkan budaya tutur masyarakat Sabu) terbentuk dan didirikan oleh salah seorang tokoh terkenal Sabu Raijua pada zaman dahulu yang bernama Robo Aba. Dia memiliki empat orang anak yang kemudian menjadi awal mula terbentuknya empat suku besar yang ada di Sabu Raijua, khususnya di Kecamatan Sabu Barat.
Anak pertamanya bernama Tunu Robo yang menurunkan Udu (suku) Namata; anak kedua bernama Pilih Robo yang menurunkan Udu Nahoro; anak ketiga bernama Hupu Robo yang menurunkan Udu Nahupo; dan anak keempat bernama Dami Robo yang menurunkan Udu Nataga.
“Robo Aba pada masa itu merupakan salah satu pemimpin besar di Wilayah Adat Habba setelah adanya pembagian lima wilayah adat di Kabupaten Sabu Raijua pada zaman Way Waka. Sebelum tinggal dan berkediaman di Namata, Robo Aba awalnya tinggal di kampung yang bernama Hanga Rae Robo, yang sekarang terletak di Desa Robo Aba, Kecamatan Sabu Barat. Pada suatu hari ia menyuruh anaknya Tunu Robo bersama beberapa pasukan lainnya untuk pergi berburu ke sebelah barat dari Kampung Hanga Rae Robo yang bernama Radja Mara Kanni Bahi (sekarang menjadi Namata),” tutur Ina Ira saat kami bertemu di Desa Molie.
ADVERTISEMENT
Di daerah yang bernama Radja Mara Kanni Bahi inilah mereka menemukan begitu banyak babi hutan atau dalam bahasa Sabu disebut wawi addu. Ketika sedang berburu di Radja Mara Kanni Bahi, Tunu Robo beserta pasukannya menemukan satu ekor babi hutan yang sedang tidur di bawah pohon duri sehingga secara bersamaan mereka menembaki babi hutan tersebut dengan menggunakan tombak.
Namun, sayangnya tembakan mereka tidak berhasil karena tombak yang mereka gunakan patah pada saat mengenai hewan buruannya. Akhirnya, mereka kembali dengan tangan hampa dan memberitahukan kepada Robo Aba bahwa di tempat yang bernama Radja Mara Kanni Bahi merupakan tempat yang banyak wawi addu. Keesokan harinya, tutur Ina Ira yang mengutip cerita lisan dari berbagai sumber di masyarakat Sabu.
ADVERTISEMENT
Robo Aba memerintahkan anaknya Tunu Robo dengan beberapa pasukan untuk berburu kembali ke tempat yang sama dengan suatu pesan bahwa apabila mereka berhasil membunuh babi tersebut maka mereka harus membawa tanah tempat babi tersebut tidur, yaitu tanah pada bagian kepala, tanah pada bagian perut, dan bagian kaki belakang.
Singkat cerita, Tunu Robo beserta pasukannya berhasil mendapatkan wawi addu dan membawa tanah seperti yang dimintakan oleh Ayahnya, Robo Aba. Tanah yang diserahkan oleh anaknya, diperhatikan betul tekstur tanah yang diambil tersebut oleh Robo Aba dan dia memutuskan tempat berburu yang bernama Radja Mara Kanni Bahi menjadi tempat berburu babi hutan atau dalam bahasa Sabu disebut era pemata wawi addu, diubah menjadi nama Namata
ADVERTISEMENT
“Lokasi yang bernama Namata tersebut ketika dilihat oleh Robo Aba, ternyata tempat dan tekstur tanahnya sangat cocok dijadikan sebagai salah satu perkampungan sehingga saat itulah dia memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dari Hanga Rae Robo ke Namata,” jelas Ina Ira. Setelah memindahkan rumahnya dari Hanga Rae Robo ke Namata maka Robo Aba mulai membangun perkampungan megalitik untuk keperluan ritual adat.
Kemudian, diambilah batu-batu megalitik yang ada di kampung sebelumnya, dipindahkan ke Kampung Namata. Pada zaman sebelum Robo Aba sudah ada Nada di Merabbu, yang saat ini terletak di Desa Dainao, Kecamatan Sabu Liae serta Nada di Kolo Teriwu yang terletak di Desa Teriwu, Kecamatan Sabu Barat.
Oleh karena itu, jelas Ina Ira, terjadilah pemindahan Nada dari Teriwu ke Namata yang ditandai dengan pemindahan batu-batu keramat yang diambil mulai dari Merabu dan Tertiwu. Akan tetapi, tidak semua batu bisa dipindahkan hingga sampai ke Namata sehingga ada batu yang tertinggal di Merabbu, Teriwu, Wowadu Dai Ie atau Batu Gempa Bumi yang tertinggal di kampung yang bernama Dai Ie (Desa Titinalede), Wagga Mengaru, dan Hanga Raerobo.
Potret Bebatuan di Kampung Adat Namata. Sumber : Dokumentasi Pribadi.
Ketika saya dan teman-teman delegasi yang diantar bus pariwisata milik pemerintah setempat ke Namata bisa dengan jelas melihat batu-batu tersebut dan nama-nama batu keramat yang dijelaskan oleh Ina Ira. Di tengah Kampung Namata, terdapat batu-batu besar yang menjadi tempat pemujaan atau altar persembahan bagi leluhur yang dipercaya menjaga kampung adat tersebut.
ADVERTISEMENT
Terdapat 9 buah batu bulat dan altar persembahan dengan fungsinya masing-masing. Namun, tidak semua rumah adat bisa dimasuki oleh pengunjung. Begitu pula dengan bebatuan yang berada di tengah kampung. Ada beberapa batu yang tidak diperbolehkan mengambil gambar atau duduk di atasnya, batu-batu tersebut ada beberapa yang tidak boleh didokumentasikan, jelas pemandu wisata kampung Namata tersebut.
Untuk masuk di Kampung Adat Namata ini harus mengenakan pakaian adat Sabu. Tidak perlu khawatir karena di sini juga terdapat tempat penyewaan baju adat Sabu. Untuk menyewa baju adat Netas cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000,- untuk satu set lengkap pakaian serta uang seikhlasnya untuk biaya masuk.
Potret menggunakan pakaian adat sabu raijua. Sumber : Dokumentasi Pribadi.
Penggunaan tenun Sabu termasuk sederhana. Kain bisa dilipat di pinggang dan sisanya dilipat ke arah depan untuk memperlihatkan motif ikatan. Kurang lebih, mirip dengan penggunaan sarung pada umumnya. Biasanya jika ada acara malam, masyarakat setempat menambahkan aksen dengan memakai selendang. Penggunaan kain tenun di Kampung Adat Namata bertujuan untuk menghormati adat istiadat setempat.
ADVERTISEMENT
Setelah selesai berganti pakaian dengan pakaian adat Sabu, kami akan di pandu mengelilingi Kampung Adat Namata. Di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung. Setiap tempat mempunyai adat istiadat tersendiri yang harus kita hormati.Penggunaan kain tenun di Kampung Adat Namata bertujuan untuk menghormati adat istiadat setempat. Ada beberapa batu yang bahkan tidak boleh disentuh apalagi di dokumentasikan, oleh karena itu harus sangat berhati-hati.
Dari sisi budaya dan keagamaan, masyarakat di Kampung Adat Namata memiliki sebuah kepercayaan adat yang disebut jingtiu. Jingtiu sendiri merupakaan sapaan tertinggi yang dipahami sebagai sesuatu yang keramat. Nama tersebut dipercaya dapat membakar hingga menghancurkan seseorang dalam sekejap bila disebut sembarangan.
Pada praktiknya, dalam pengungkapan nama Tuhan, jingtiu merumuskan satu nama dengan bahasa yang lebih halus untuk menyebut Tuhan dengan kata Deo. Bagi masyarakat yang sudah memeluk agama yang sudah diakui di Indonesia berpendapat bahwa jingtiu merupakan sekelompok orang tak mengenal Tuhan. Namun, pada acara kebudayaan, nyatanya mereka masih mengungkapkan rasa syukur dan berdoa kepada Tuhan.
ADVERTISEMENT
Dengan keunikan Kampung Namata, Kampung Megalitik Namata kini masuk dalam salah satu nominasi Kampung Adat Terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020. Demikianlah kisah perjalanan ke Kampung Adat Namata dengan segala keindahan dan keunikan di dalamnya.