Ketika Karier Jadi Konten dan Personal Branding Menjadi Ambisi Anak Muda

Saya bekerja sebagai Admin Support pada sebuah perusahaan dibidang business service berfokus pada kegiatan usaha di bidang perdagangan umum dan jasa bisnis (business support service) Saat ini sedang menempuh Magister Akuntansi di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ratna Damahyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ukuran kesuksesan anak muda biasanya cukup sederhana. Memiliki pekerjaan tetap, jenjang karier yang jelas, dan penghasilan stabil dianggap sudah cukup untuk menunjukkan seseorang berhasil dalam hidup. Namun hari ini, ukuran tersebut perlahan berubah.
Banyak generasi muda kini lebih fokus membangun personal branding dibanding sekadar membangun karier konvensional. Media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat berbagi aktivitas pribadi, tetapi juga ruang untuk membentuk citra profesional dan menunjukkan pencapaian diri kepada publik.
Fenomena ini terlihat jelas di LinkedIn, Instagram, hingga TikTok. Banyak mahasiswa dan pekerja muda mulai aktif membagikan sertifikat, pengalaman organisasi, pencapaian akademik, hingga rutinitas produktivitas harian. Aktivitas tersebut sebenarnya bukan hal yang salah. Namun perlahan, muncul tekanan sosial baru bahwa setiap orang harus selalu terlihat berkembang dan sukses di internet.
Ironisnya, proses belajar kini terkadang terasa lebih penting untuk dipamerkan daripada benar-benar dijalani.
Mahasiswa mulai sibuk mengikuti seminar demi sertifikat dan unggahan media sosial. Pekerja muda berlomba membangun citra produktif agar dianggap kompeten. Bahkan aktivitas sederhana seperti membaca buku atau mengikuti pelatihan sering berubah menjadi bagian dari strategi personal branding.
Di satu sisi, fenomena ini memang membawa dampak positif. Personal branding dapat membuka akses jaringan profesional, peluang kerja, hingga kesempatan bisnis yang sebelumnya sulit dijangkau. Banyak anak muda berhasil memperoleh pekerjaan atau relasi karena aktif membangun identitas digitalnya.
Namun di sisi lain, media sosial juga menciptakan perlombaan yang tidak pernah selesai.
Ketika semua orang terus menunjukkan pencapaian di internet, banyak individu mulai merasa tertinggal. Selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih produktif, dan lebih siap menghadapi masa depan. Akibatnya, sebagian orang mulai lebih fokus membangun citra dibanding membangun kemampuan nyata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia kerja modern semakin dipengaruhi persepsi publik. Perusahaan kini tidak hanya melihat kemampuan teknis seseorang, tetapi juga jejak digital dan bagaimana mereka membangun eksistensi di media sosial.
Padahal tidak semua hal harus dijadikan konten.
Tidak semua pencapaian perlu diumumkan agar dianggap nyata. Dan tidak semua proses berkembang harus dipublikasikan untuk mendapatkan validasi.
Masalah terbesar dari budaya personal branding bukan pada aktivitas membangun citra itu sendiri, melainkan ketika identitas seseorang mulai bergantung pada pengakuan internet. Orang menjadi lebih sibuk terlihat sukses dibanding memahami apa yang sebenarnya ingin mereka capai.
Pada akhirnya, personal branding memang dapat membuka pintu kesempatan. Namun kemampuan nyata, konsistensi, dan karakter tetap menjadi hal yang menentukan apakah seseorang benar-benar mampu bertahan setelah pintu itu terbuka.
