Ketika Konten "Warga Bantu Warga" Menelanjangi Program Gemuk Penguasa

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fitria Hani Aprina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Layar Explore Instagram saya belakangan ini dipenuhi oleh potongan-potongan aksi sosial yang begitu menyentuh. Ada pasangan Thomas Iskandar dan Jesthamm yang memberikan bahan sembako kepada orang random yang membutuhkan di jalanan, ada pula kreator seperti Andoni Tama hingga Munzal Mussafi yang rajin turun ke jalan. Mereka menghampiri driver ojek online, pedagang kecil tua maupun muda, hingga ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang memeras keringat di trotoar. Aksi mereka sederhana tetapi konkret: membagikan uang tunai, membelikan kebutuhan bahan pokok, hingga ada yang mengusung konsep: menjual paket beras 5 kg hanya seharga 2 ribu rupiah.
Melesatnya engagement konten-konten ini bukan sekadar urusan kejar views atau mengeksploitasi kemiskinan demi algoritma. Secara komunikatif, ada resonansi emosional yang amat kuat antara audiens dengan tindakan tersebut. Apa yang dilakukan para kreator ini sebenarnya adalah hal-hal elementer sebuah pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang seharusnya menjadi tanggung jawab paling mendasar dari sebuah negara yang merdeka.
Namun, pemandangan hangat itu mendadak terasa getir saat kita membandingkannya dengan realitas politik anggaran kita. Pemerintah kerap menggembar-gemborkan program sosial-ekonomi bernilai fantastis dengan nama-nama bombastis. Sayangnya, program-program gemuk yang memakan anggaran triliunan tersebut sering kali menguap di lorong birokrasi, tidak pernah benar-benar menyentuh akar rumput, apalagi mendongkrak daya beli masyarakat menengah ke bawah yang kian tergerus.
Kontras ini kian menyengat ketika kita menggeser layar (swiping) ke linimasa media sosial para pejabat publik. Di sana, yang terpampang sering kali adalah narasi yang terisolasi dari jerit warga: euforia keprotokoleran yang megah, pamer gaya hidup (flexing) terselubung atas nama agenda dinas, hingga selebrasi kegiatan kenegaraan yang riuh di atas penderitaan rakyat. Ada jurang komunikasi dan empati yang amat menganga. Di saat rakyat berjuang menambal perut, para elite justru sibuk bersolek dalam estetika kekuasaan.
Fenomena maraknya aksi charity di Explore Instagram pada akhirnya bermuara pada satu kesimpulan pahit namun jujur: pada akhirnya, memang hanya "Warga yang Bantu Warga." Di tengah absennya daya jangkau negara, rakyat saling menopang satu sama lain melalui perantara tangan-tangan kreatif di media sosial.
Algoritma tidak pernah bohong; ia mengarahkan perhatian pada apa yang paling dibutuhkan hati manusia. Dan hari ini, narasi kemanusiaan yang paling valid justru lahir dari kepedulian sesama warga di trotoar jalanan, bukan dari ruang-ruang rapat ber-AC atau rilis pers program sosial milik penguasa yang kerap berjarak dari kenyataan.
