Konten dari Pengguna

Beda Trump, Beda Obama: Kebijakan AS dalam Trans-Pasific Partnership (TPP)

Fitria Ulfiani

Fitria Ulfiani

Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitria Ulfiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trans Pacific Partnership atau Kerjasama Trans-Pasifik merupakan sebuah perjanjian kerjasama perdagangan yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik. Saat ini, TPP memiliki anggota berjumlah 12 negara, yakni Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Amerika Serikat dan Vietnam. Sejarah cikal bakal munculnya TPP ini berawal dari adanya Pacific Four (P4) yang ditandai dengan adanya penandatanganan MOU kerjasama buruh dan perjanjian kerjasama TPSEP di Wellington oleh empat negara, yaitu Singapura, Chili, Selandia Baru dan Brunei Darussalam yang berlaku pada 28 Mei 2006. Selanjutnya P4 ini berganti menjadi TPP. Tujuan dibentuknya TPP adalah untuk mempererat hubungan ekonomi dalam bentuk pemotongan tarif, maka akses ekspor-impor barang komoditas dari negara-negara yang terlibat dalam TPP menjadi lebih mudah. Selain itu dengan adanya TPP secara otomatis berpengaruh pada meningkatnya Growth Domestic Product (GDP) dari negara-negara yang tergabung didalamnya.

Singkatnya, TPP merupakan sebuah free-trade deal yang sebenarnya menguntungkan AS, selain merupakan perjanjian perdagangan regional terbesar dalam sejarah AS dan 11 negara lainnya di lingkar Pasifik, TPP juga menjadi upaya untuk perluasan pasar AS. Selain itu, TPP juga membantu AS dalam mengawasi tiongkok yang saat ini merupakan kompetitor terkuat perekonomian AS.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam negosiasi ini juga mampu menjadi pemikat bagi negara lain untuk bergabung dalam negosiasi TPP ini. Namun, pergantian kepemimpinan AS justru menimbulkan perubahan arah terbangunnya TPP seperti yang telah dicita-citakan.

Keterlibatan AS dalam TPP pada masa Barack Obama

Amerika Serikat mulai tergabung dalam negosiasi ini pada masa pemerintahan Presiden Bush pada tahun 2008. Pada Februari tahun 2008, Presiden Bush mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan bergabung dalam negosiasi TPP yang dahulunya berbentuk P4 dan masih ditangguhkan pada layanan keuangan dan investasi. Kemudian pada September 2008 barulah Amerika Serikat secara resmi bergabung dalam P4 dan mengambil alih kekuasaan dan menggantinya menjadi negosiasi TPP. Dalam laporan tahunan Amerika Serikat tahun 2008 tentang Program Perjanjian Perdagangan, dapat diketahui alasan Amerika Serikat bergabung dalam negosiasi TPP adalah mempromosikan bisnis Amerika Serikat untuk bersaing lebih baik di kawasan Asia Pasifik dan pembangunan beberapa inisiatif integrasi ekonomi regional yang mampu bersaing.

Memasuki tahun 2009, Amerika Serikat mengalami pergantian kepemimpinan dari Presiden Bush ke Presiden Barack Obama. Pada saat Obama menjadi Presiden Amerika Serikat, Obama menghadapi kebangkitan kekuatan Tiongkok baik dalam kekuatan ekonom maupun pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik. Untuk menghadapi situasi ini maka Obama bergabung dalam negosiasi TPP sebagai upaya pembendungan ekspansi ekonomi Tiongkok di kawasan Asia Pasifik ini. Melalui kebijakan luar negerinya yang dikenal dengan Pivot to Asia, Amerika Serikat memberikan fokus perhatian lebih kepada kerjasama dengan negara-negara di kawasan tersebut. Amerika Serikat mencari kawan sebagai sekutu sebanyak mungkin untuk memberikan pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik sebagai penangkal komunisme Tiongkok.

Adanya krisis ekonomi yang sedang dihadapi oleh Obama juga mendorongnya untuk melakukan kerjasama ekonomi yang dapat mendorong tumbuhnya ekonomi Amerika Serikat. Menurut Presiden Obama, TPP dapat membantu Amerika Serikat untuk memperluas pangsa pasarnya karena lebih dari 95 persen konsumen produk Amerika berasal dari luar perbatasan negara ini.

Melalui negosiasi TPP ini, Presiden Barack Obama akan menulis ulang aturan perdagangan yang akan memberikan keuntungan bagi kelas menengah di AS. Presiden Obama berkomitmen bahwa kebijakan perdagangan tidak hanya mendukung ekonomi AS tetapi juga mencerminkan nilai-nilai dari Amerika itu sendiri. TPP akan memberikan dampak besar pada bagaimana Amerika membantu perluasan usaha kecil, mendukung wirausahawan online yang baru saja lepas landas, mempromosikan kesetaraan gender untuk wanita, berinvestasi di negara berkembang, melindungi spesies yang terancam, dan membuat kemajuan besar dalam memperjuangkan hak asasi manusia. TPP akan menambah milyaran dolar ke ekonomi Amerika Serikat dan memperkuat komitmen politik, keuangan dan militer Washington ke Pasifik selama beberapa dekade kedepan. TPP memiliki peluaang lebih baik untuk mengatasi oposisi domestik daripada kesepakatan DOHA atau kesepakatan bilateral baru. Obama melihat dampak positif yang akan TPP berikan untuk Amerika Serikat sehingga ia trus berupaya memberikan kontribusinya pada negosiasi ini.

Keterlibatan AS dalam TPP pada masa Donald Trump

Melihat dari latar belakang Trump yang berasal dari partai Republik dan pendukungnya yang mayoritas berasal dari kalangan pengusaha dan profesional, tentunya hal tersebut akan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri AS. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Trump lebih berfokus pada kepentingan nasional dan keamanan Amerika Serikat. Dengan membawa slogan “America First” dan “Make America Great Again”, pemerintahan Trump ingin menekankan pada semangat nasionalisme dan anti intervensi serta ingin mengembalikan Amerika sebagai pusat ekonomi dunia. AS di masa kepemimpinan Trump akan menindak negara-negara yang melanggar perjanjian perdagangan dan merugikan pekerja Amerika dalam prosesnya.

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Trump sangatlah bertolakbelakang dengan era kepemimpinan sebelumnya, yakni pada masa pemerintahan Barack Obama. Salah satu kebijakan yang dianggap kontroversial adalah penarikan diri Amerika Serikat sebagai anggota dari TPP pada Januari 2017 (Mui, 2017). Donald Trump memandang bahwa negosiasi TPP ini menjadi sebuah ancaman bagi AS dengan masuknya buruh dengan upah yang rendah dari negara Vietnam dan juga Malaysia. Trump juga menganggap bahwa TPP merupakan sebuah serangan bagi bisnis di Amerika Serikat, negosiasi ini merupakan transaksi yang buruk karena tidak menghentikan manipulasi nilai tukar mata uang Jepang. Trump juga berpendapat bahwa Kemitraan Trans-Pasifik akan meningkatkan defisit perdagangan di AS dan negosiasi TPP ini adalah transaksi yang buruk karena mengirimkan lebih banyak lagi pekerjaan ke luar negeri bukan untuk rakyat Amerikaa, sehingga Trump menginginkan perdagangan yang cerdas.