Konten dari Pengguna

Devil's Claw Pereda Nyeri Sendi Alami dari Afrika Mulai Dilirik Dunia Farmasi

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alfia Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di padang pasir Kalahari, Afrika Selatan, tumbuh tanaman dengan buah berduri tajam yang bisa melukai kaki hewan yang menginjaknya. Penduduk lokal sudah ratusan tahun menggunakan akarnya sebagai obat nyeri sendi, rematik, dan demam. Nama populernya sesuai penampilannya yang menakutkan yaitu Devil's Claw atau cakar iblis. Tapi di balik nama seram itu, Devil's Claw pereda nyeri sendi menyimpan senyawa aktif yang kini menarik perhatian serius para peneliti farmakologi di Eropa dan Amerika sebagai alternatif alami yang lebih ramah lambung dibanding obat antiinflamasi konvensional.

Devil's Claw Pereda Nyeri Sendi yang Berasal dari Keluarga Wijen

Ilustrasi Devil's Claw pereda nyeri sendi Harpagophytum procumbens tanaman berduri Afrika.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Devil's Claw pereda nyeri sendi Harpagophytum procumbens tanaman berduri Afrika.Photo by GPT AI

Devil's Claw atau Harpagophytum procumbens adalah anggota dari famili wijen atau Pedaliaceae, dan terutama ditemukan di Namibia, Botswana, Zimbabwe, dan Afrika Selatan. Nama tanaman ini berasal dari tonjolan berbentuk kait yang menyerupai cakar yang menghiasi buahnya.

Devil's Claw adalah tanaman obat dari famili wijen yang berasal dari benua Afrika dan digunakan di sana sebagai obat tradisional. Nyeri otot dan sendi kronis memengaruhi banyak orang, dan pilihan pengobatan yang ada saat ini menyimpan risiko reaksi obat yang cukup besar, sehingga pencarian alternatif pengobatan lain terus berkembang. Sebagai hasilnya, penelitian pun mulai berfokus pada produk berbasis tanaman termasuk Devil's Claw.

Di Eropa, Devil's Claw sudah jauh lebih dikenal dibanding di Indonesia. Ia sudah terdaftar sebagai herbal obat di beberapa negara Eropa untuk penanganan nyeri sendi ringan hingga sedang dan nyeri punggung bawah. Tapi akarnya justru berasal dari tradisi penyembuhan Afrika yang sudah berusia berabad-abad.

Harpagoside, Senyawa Utama di Balik Khasiatnya

Apa yang membuat Devil's Claw menarik secara farmakologis adalah harpagoside, iridoid glikosida utama yang menjadi standar kualitas semua produk Devil's Claw yang serius.

Tanaman ini telah dipromosikan sebagai suplemen makanan untuk kondisi artritis degeneratif. Mempertimbangkan banyaknya makalah penelitian yang menunjukkan berbagai aktivitas biologis Harpagophytum procumbens, langkah logis berikutnya adalah investigasi menggunakan studi hewan dan uji klinis pada manusia dengan parameter kontrol negatif.

Harpagoside bekerja dengan menghambat jalur inflamasi NF-kB dan COX-2 yaitu dua jalur yang sama yang menjadi target obat antiinflamasi non-steroid seperti ibuprofen dan diklofenak. Perbedaannya adalah bahwa inhibisi dari harpagoside bersifat lebih selektif dan tidak menyebabkan iritasi dinding lambung seperti yang kerap terjadi pada NSAID konvensional.

Apa yang Dibuktikan Uji Klinis

Devil's Claw bukan sekadar klaim tradisional tanpa bukti. Jejak uji klinisnya cukup panjang dan konsisten.

Uji klinis pada 75 pasien dengan osteoartritis panggul dan lutut selama 12 minggu menggunakan ekstrak Devil's Claw 2.400 mg per hari menunjukkan penurunan nyeri yang kuat dan perbaikan gejala osteoartritis secara keseluruhan. Terjadi peningkatan yang relevan pada setiap subskala WOMAC yaitu 23,8 persen untuk subskala nyeri, 22,2 persen untuk subskala kekakuan, dan 23,1 persen untuk keterbatasan fisik.

Studi lain mengevaluasi efek Harpagophytum procumbens pada mekanisme sensorik, motorik, dan vaskular dari nyeri otot menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan pada skala analog visual setelah empat minggu pengobatan dengan dosis 2 kali 480 mg per hari ekstrak Harpagophytum.

Yang membuat data ini menarik adalah perbandingan langsung dengan obat farmasi standar. Membandingkan efikasi Devil's Claw dengan meloksikam pada pasien osteoartritis tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara dua kelompok tersebut dari waktu ke waktu, termasuk pada skala nyeri. Dengan kata lain, untuk nyeri sendi ringan hingga sedang, Devil's Claw menunjukkan efikasi yang sebanding dengan obat antiinflamasi resep, tapi tanpa risiko efek samping lambung yang sama.

Keunggulan Utama Dibanding NSAID Konvensional

Inilah alasan terbesar mengapa Devil's Claw mendapat perhatian serius dari kalangan medis terutama untuk pasien lansia yang membutuhkan penanganan nyeri sendi jangka panjang.

Pengobatan konvensional dengan analgesik dan NSAID bersifat profilaksis yang bertujuan mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi. Namun penggunaan NSAID jangka panjang dikaitkan dengan insidensi efek samping yang tinggi terutama gejala pada saluran cerna bagian atas. Alternatif pengobatan yang lebih aman tentu sangat dibutuhkan.

Studi pada 259 pasien dengan artritis ringan hingga sedang setidaknya pada satu sendi atau area tubuh mengevaluasi efektivitas dan keamanan tablet Devil's Claw dalam penanganan gangguan rematik. Hasilnya menunjukkan manfaat yang bermakna dengan profil keamanan yang baik.

Untuk pasien yang sudah punya masalah lambung atau ginjal dan tidak bisa lagi mengonsumsi NSAID dalam jangka panjang, Devil's Claw bisa menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan bersama dokter.

Haruskah Semua Orang dengan Nyeri Sendi Mencobanya

Tidak semua kondisi nyeri sendi cocok untuk Devil's Claw. Ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, bukti terkuat Devil's Claw ada pada nyeri punggung bawah dan osteoartritis ringan hingga sedang, bukan untuk kondisi artritis inflamasi berat seperti artritis reumatoid yang membutuhkan penanganan medis yang lebih agresif.

Kedua, Devil's Claw tidak boleh dikonsumsi oleh penderita tukak lambung aktif atau mereka yang sedang mengonsumsi pengencer darah seperti warfarin karena ada potensi interaksi yang perlu diwaspadai.

Ketiga, ibu hamil sebaiknya menghindarinya karena ada laporan potensi efek pada kontraksi rahim meski buktinya masih terbatas.

Relevansinya untuk Indonesia

Indonesia dengan populasi lansia yang terus bertumbuh menghadapi beban penyakit sendi yang makin besar. Osteoartritis lutut adalah salah satu penyebab disabilitas terbesar pada kelompok usia di atas 50 tahun. Sementara penggunaan NSAID jangka panjang pada lansia membawa risiko komplikasi yang sangat nyata terhadap lambung, ginjal, dan jantung.

Devil's Claw menawarkan jendela pilihan yang menarik sebagai terapi komplementer, bukan pengganti, untuk nyeri sendi ringan hingga sedang. Tentu dengan syarat produknya terstandarisasi kadar harpagoside-nya dan dikonsumsi dalam pengawasan tenaga kesehatan.