Di Balik Seporsi Nasi Padang Rp13.000: Kisah Ketangguhan UMKM Keluarga di Pasar

mahasiswa ekonomi syari'ah universitas pamulang, tertarik pada topik seputar ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nur fitrianatasya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah gempuran bisnis kuliner modern yang serba digital, sebuah warung nasi Padang sederhana di sudut Pasar Jengkol, Pamulang, menawarkan sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah usaha kecil mampu bertahan dan menghidupi keluarga. Rumah Makan Nasi Padang Dua Saudara, yang dikelola oleh Bapak Nabil bersama istrinya, bukan sekadar tempat makan biasa. Ia adalah bukti nyata ketangguhan ekonomi rakyat kecil.

Lebih dari Sekadar Mencari Untung
Berdiri sejak tahun 2020, usaha ini berawal dari ajakan seorang saudara. Bapak Nabil, yang sebelumnya bekerja bersama saudaranya, memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Tujuan utamanya sangat mulia: untuk membiayai pendidikan kedua anaknya. "Tidak terpikir sampai ke sana. Tujuan utamanya untuk anak-anak. Yang penting anak-anak bisa sekolah dan kita juga bisa makan dari sini," tuturnya saat kami wawancarai.
Dalam perspektif manajemen bisnis syariah, apa yang dilakukan Bapak Nabil mencerminkan prinsip maslahah atau kemanfaatan. Usaha ini tidak hanya mengejar keuntungan materi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Ketika Kejujuran dan Keadilan Jadi Fondasi
Selama observasi, kami menemukan praktik-praktik bisnis yang selaras dengan nilai-nilai syariah. Salah satunya adalah strategi harga yang unik. Meskipun harga per porsinya hanya Rp13.000, lebih murah dari kompetitor yang mematok Rp15.000, Bapak Nabil tidak mengurangi kualitas. "Kita bermain di lauknya," ujarnya. Jika warung lain memberi tujuh ekor ikan per porsi, ia memberikan sepuluh ekor. Ini adalah bentuk kejujuran dan transparansi kepada konsumen.
Prinsip keadilan juga tercermin dari pembagian tugas dengan istrinya. "Kerja sama saja. Kita berdua bekerja. Kalau giliran cuci piring, ya cuci piring. Di mana ada yang kosong, di situ kita kerjakan," jelasnya. Struktur organisasi yang sederhana ini justru menjadi kekuatan, mencerminkan nilai ta'awun atau tolong-menolong dalam keluarga.
Namun, di balik kesederhanaannya, usaha ini menghadapi tantangan yang krusial. Dari sisi legalitas, usaha ini baru memiliki izin lingkungan dari RT/RW. Bapak Nabil mengaku belum mengurus Surat Keterangan Usaha atau sertifikasi halal. "Masalahnya usaha kita masih kecil-kecilan. Mungkin kalau sudah semi-restoran, baru bisa mengurus izin seperti itu," akunya. Padahal, sertifikasi halal sangat penting untuk memberikan jaminan kepada konsumen.
Tantangan lain adalah manajemen keuangan. Bapak Nabil mengaku belum memisahkan uang usaha dan uang pribadi. "Untuk sementara belum bisa dipisah-pisahkan. Yang penting bisa untuk berputar saja sudah syukur," ujarnya. Pemisahan ini penting untuk memastikan keberlanjutan dan menghindari kerancuan dalam perhitungan laba.
Di era digital, usaha ini juga masih mengandalkan pelanggan yang datang langsung atau dari mulut ke mulut. Bapak Nabil belum tertarik bergabung dengan platform online seperti GoFood atau ShopeeFood karena khawatir dengan perputaran modal. "Kalau kita ikut online, uangnya kan tidak bisa dicairkan langsung. Belanja jadi sulit," jelasnya.
Rekomendasi untuk UMKM Tangguh
Berdasarkan analisis kami, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil untuk mengembangkan usaha ini:
Pertama, segera urus legalitas. Bapak Nabil disarankan mengurus Nomor Induk Berusaha secara online yang kini gratis, serta mendaftar Sertifikasi Halal melalui program Self-Declare yang difasilitasi pemerintah.
Kedua, mulai pisahkan keuangan. Siapkan dua dompet berbeda untuk uang pribadi dan uang usaha. Lakukan pencatatan sederhana pemasukan dan pengeluaran setiap hari.
Ketiga, manfaatkan digitalisasi secara bertahap. Mulailah dengan WhatsApp Business untuk katalog menu sederhana. Jika ingin bergabung dengan platform online, pertimbangkan untuk menaikkan harga jual khusus di aplikasi agar potongan platform tidak menggerus modal.
Pelajaran Berharga dari Pasar Jengkol
Kisah Rumah Makan Nasi Padang Dua Saudara adalah cerminan dari jutaan UMKM lain di Indonesia. Mereka adalah tulang punggung ekonomi yang tangguh, namun seringkali terkendala oleh keterbatasan pengetahuan dan akses terhadap sumber daya. Menerapkan prinsip-prinsip manajemen bisnis syariah bukan hanya tentang kepatuhan ritual, tetapi tentang membangun bisnis yang jujur, adil, dan bermanfaat. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk terus mendukung dan memberdayakan UMKM di sekitar kita.
Arif Rafly Azyumardi (241012200136)
Ghina Fauziah Nasution (241012200014)
Maliq Rihma Irawan (241012200042)
Nur Fitrianatasyo Putri Noepa (241012200080)
