Konten dari Pengguna

Ruang Budaya, Cerita Tak Terlupakan: Menjelajahi Pesona Setu Babakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitri Fatimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

By: Fitri Syahrani, Fatimah Azzahra, Jasmine Qur’ani

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, masih ada ruang yang menawarkan suasana tenang sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jakarta Selatan menjadi salah satu destinasi yang menghadirkan pengalaman tersebut. Kawasan ini bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga menjadi pusat pelestarian budaya Betawi yang tetap hidup di tengah perkembangan kota.

Gambar 1: Museum Betawi Perkampungan Budaya Betawi (Sumber : Dokumen pribadi)

Saat memasuki kawasan Setu Babakan, pengunjung akan disambut pemandangan danau yang asri dengan deretan pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk. Berjalan mengelilingi kawasan sambil menikmati panorama danau menjadi aktivitas sederhana yang banyak dipilih pengunjung untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Gambar 2 : Suasana di dalam Setu Babakan Sumber : Dokumen pribadi)

Pengalaman berkunjung belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khas Betawi. Kerak telor, dodol Betawi, bir pletok, dan aneka makanan tradisional lainnya mudah ditemukan di kawasan ini. Kuliner tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya melalui cita rasa yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Bagi generasi muda, Setu Babakan menawarkan alternatif wisata yang berbeda dari pusat perbelanjaan atau tempat hiburan modern. Pengunjung dapat mengenal sejarah, tradisi, dan nilai-nilai budaya Betawi secara langsung melalui berbagai aktivitas yang edukatif sekaligus menyenangkan.

Gambar 3 : Alat Musik Gambang Kromong Betawi (Sumber : Dokumen pribadi)

Dengan fasilitas yang semakin lengkap serta akses yang mudah dijangkau, Setu Babakan terus menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Jakarta. Kehadirannya membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan berdampingan dengan kebutuhan masyarakat akan ruang rekreasi yang nyaman, edukatif, dan terbuka bagi semua. Setu Babakan pun menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya perkembangan ibu kota, budaya lokal tetap memiliki tempat untuk dikenali, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.