Terjebak Standar TikTok? Begini Pentingnya Literasi Kritis di Era Digital!

Hanka adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi konsentrasi Media dan Jurnalisme di UPN "Veteran" Yogyakarta. Aktif menanggapi isu terkini dengan pendekatan kritis dan reflektif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizky Amanda Putra Hanka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terjebak standar TikTok merupakan keadaan yang kian marak di kalangan netizen. Keadaan ini terjadi ketika netizen memusatkan orientasi hidupnya pada sekumpulan konten yang sebagian besar bicara soal cara-cara menjalani hidup, entah itu dalam bentuk quotes dan sejenisnya. Konten-konten ini sendiri tampil melalui algoritma setiap netizen sehingga menciptakan ekosistem digital yang self-centered.
Algoritma media ini tidak lahir dengan sendirinya. Ia terbentuk dari preferensi pengguna itu sendiri. Ketika pengguna sedang merasakan kondisi emosional atau hasrat tertentu, kemudian mengakses beberapa konten yang mereka nilai relate, konten-konten dengan maksud senada bisa muncul kembali secara berulang.
Eli Periser lewat bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You mengangkat isu itu sejak beberapa tahun yang lalu. Aktivis sekaligus penulis Amerika Serikat itu mengkritik bagaimana algoritma media digital cenderung membatasi informasi yang kita lihat. Ia menekankan bahwa prinsip personalisasi yang seperti itu bisa “mengurung” orang dalam gelembung informasi tanpa disadari.
Adapun penelitian “Quantifying Biases in Online Information Exposure” yang terbit di Journal of the Association for Information Science and Technology pada 2019 menemukan bahwa media sosial memiliki tingkat bias kesegeragaman dan popularitas yang lebih tinggi dibanding mesin pencari. Artinya, pengguna cenderung lebih sering terpapar konten dari sumber yang sama serta situs populer. Ini berdampak pada menyempitnya keragaman perspektif yang diterima.
Di Indonesia, kita mengenal perumpamaan dengan konsep senada: katak dalam tempurung. Kita dapat memosisikan netizen sebagai katak yang berulang kali terpapar konten dan nyaman dengan itu. Konten tersebut kemudian mendorong terbentuknya tempurung yang menghalangi akses kita terhadap dunia luar, atau dalam hal ini, pandangan lain. Itulah yang kemudian menjadi apa yang kita sebut standar TikTok dan sejenisnya.
Kondisi yang bak terisolir itu tentu berbahaya bagi netizen. Bahaya ini dapat menyerang pola pikir berupa inisiatif atau dorongan untuk mempertanyakan faktualitas konten terkait. Netizen jadi lebih cepat menerima muatan konten, lalu membenarkannya. Misal, seorang netizen yang sedang galau berulang kali membaca quotes-quotes tentang laki-laki ideal itu harus A, maka bisa jadi ia akan menstandarisasi laki-laki di kehidupan nyata berbekal konten itu.
Tindakan yang cenderung cacat secara logika itu dapat bermuara pada konflik-konflik di kemudian hari. Ia dapat memicu kesalahpahaman dan debat tak berkesudahan di media sosial, yang pada akhirnya, hanya jadi ajang serang pribadi. Netizen juga akan cenderung mencari data yang menguntungkan dirinya tanpa melihat adanya data-data serta kemungkinan lain. Dunia pun seakan jadi minim jalan tengah.
Literasi Kritis sebagai Langkah Mawas Diri
Literasi merupakan kunci untuk menghadapi arus informasi yang sangat kencang di media sosial. Jika kita pikir literasi hanya soal baca, tulis, menghitung angka, dan mendengar segudang instruksi, kita keliru besar. Literasi juga bicara tentang bagaimana kita mampu menalar secara kritis. Nalar inilah yang kemudian akan membentuk cara kita melihat dunia yang lebih luas.
Edward Glaser, seorang psikolog pendidikan Amerika Serikat, mendefinisikan menalar atau berpikir kritis sebagai kemampuan untuk berpikir logis yang berfokus pada penentuan apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Selain Glaser, ada pula Richard Paul dan Linda Elder yang menekankan pada pola pikir kritis sebagai seni mengevaluasi dan memperbaiki.
Penelitian dari Islamic Azad University pada 2020 turut memperkuat hal ini. Dari sampel 369 siswa kelas enam sekolah dasar, ditemukan bahwa literasi media berpengaruh signifikan terhadap kemampuan keterampilan memecahkan masalah, dengan koefisien pengaruh terhadap berpikir kritis mencapai 0,80. Temuan ini menegaskan bahwa keterampilan menimbang dan mengevaluasi informasi terbukti meningkatkan kapasitas logika anak dalam menghadapi arus konten.
Bila kita telaah dalam-dalam, maka kita dapat memahami urgensi berpikir kritis dalam literasi sebagai wujud mawas diri. Mawas diri di sini tidak berarti menjaga diri secara fisik saja, melainkan juga menjaga agar kita tidak muda meyakini konten-konten yang berseliweran itu sebagai kebenaran tunggal. Mawas diri berarti menahan diri sejenak sebelum mengamini pesan yang menggugah emosi. Ia juga mencakup kemampuan memeriksa motif di balik sebuah konten: apakah sekadar hiburan, iklan, atau manipulasi?
Literasi kritis sebetulnya tidak serumit yang dibayangkan. Setelah kita membaca quotes atau pandangan-pandangan tersebut, langkah berikutnya bukanlah dengan segera menyebarkannya. Patut bagi kita untuk melihat isu dari sudut pandang lain. Dengan demikian timeline media sosial seperti for your page TikTok kita bisa lebih berbobot, kemudian membangun kesadaran reflektif.
Kesadaran reflektif merupakan kesadaran yang datang dari proses menimbang benar-salah dan baik-buruk yang matang. Kesadaran ini dibangun atas ketajaman logika sebagai produk literasi kritis. Dengan logika yang tajam, kita pun bisa lebih bijak dalam menyikapi suatu konten, bahkan turut mengintervensinya dengan narasi ala oposisi. Misal, kita menolak menyamaratakan semua laki-laki sebagai X dan mengangkat bahwa ada laki-laki yang berperilaku Y dengan karakter yang juga berbeda berdasarkan data-data kredibel.
Mari kita jadikan standar TikTok bukan lagi jerat yang membatasi, melainkan cermin untuk menguji kewaspadaan kita. Ia bisa jadi pintu mawas diri yang mengingatkan bahwa algoritma dan konten hanyalah potongan kecil dari realitas. Lewat literasi kritis, kita jadi meminimalisasi kemungkinan terperangkap dalam tempurung sempit dan jadi lebih bijaksana.
