Konten dari Pengguna

Belajar Sejarah lewat Kartu UNO di Desa Pagergunung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Hakim Kirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana implementasi media pembelajaran sejarah melalui permainan UNO di Desa Pagergunung, Kecamatan Ulujami. (Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana implementasi media pembelajaran sejarah melalui permainan UNO di Desa Pagergunung, Kecamatan Ulujami. (Dokumentasi pribadi)

Program kerja individu KKN di Desa Pagergunung, Kecamatan Ulujami, mengemas materi sejarah para pahlawan ke dalam permainan kartu UNO yang sudah akrab bagi anak-anak.

Di tengah era yang serba digital, tidak sedikit anak-anak zaman sekarang yang lebih memilih bermain daripada belajar. Apalagi belajar sejarah.

Pelajaran yang dipenuhi tanggal, nama tokoh, dan peristiwa masa lalu itu kerap dianggap membosankan oleh anak-anak. Berangkat dari keresahan itulah, saya mencoba menghadirkan solusi sederhana namun menyenangkan.

Caranya adalah dengan mengemas materi sejarah ke dalam permainan kartu UNO yang sudah tidak asing lagi bagi anak-anak.

Program kerja individu ini saya beri judul “Implementasi Media Pembelajaran Sejarah melalui Permainan UNO”. Idenya sederhana, yaitu memodifikasi kartu UNO dengan menambahkan kuis-kuis seputar sejarah di dalamnya.

Pada kesempatan ini, saya fokus pada jasa para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Sebab, pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini berlangsung menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dengan permainan ini, anak-anak tetap bisa bermain seperti biasa. Namun, di sela-sela permainan, mereka juga “dipaksa” untuk mengingat dan memahami sejarah bangsanya sendiri.

Uji Coba Pertama: Antusias Tinggi, tetapi Ada Kendala

Anak-anak antusias menjawab kuis sejarah yang terselip dalam kartu UNO saat uji coba pertama. (Dokumentasi pribadi)

Pelaksanaan pertama program ini disambut antusiasme luar biasa dari anak-anak. Sejak permainan dimulai, mereka terlihat bersemangat menunggu giliran dan penasaran dengan jawaban kuis yang muncul di setiap kartu.

Namun, di balik antusiasme tersebut, saya menemukan kendala yang cukup mendasar. Ternyata masih ada beberapa anak di sekitar posko yang belum lancar membaca.

Kondisi ini mungkin menjadi salah satu dampak dari penerapan Kurikulum Merdeka, yang penekanan pada aspek literasi dasarnya belum sepenuhnya merata di setiap anak. Untungnya, beberapa rekan sigap membantu membacakan soal bagi anak-anak yang kesulitan, sehingga permainan tetap berjalan lancar.

Menariknya, dari permainan ini muncul satu anak paling dominan yang berhasil menjawab tujuh kuis sepanjang permainan. Jumlah itu cukup mengesankan dan menunjukkan bahwa metode ini punya potensi besar untuk merangsang semangat belajar anak.

Dari evaluasi tersebut, saya menyadari perlu ada penyesuaian target sasaran usia peserta. Saya pun memutuskan mengubah target ke siswa-siswi kelas enam MI Pagergunung, dengan harapan program kerja ini bisa berjalan lebih maksimal.

Uji Coba Kedua: Sasaran Baru, Hasil Memuaskan

Sesi permainan UNO edukasi sejarah bersama siswa-siswi kelas enam MI Pagergunung pada uji coba kedua. (Dokumentasi pribadi)

Pada pelaksanaan kedua dengan sasaran baru, yaitu siswa-siswi kelas enam MI Pagergunung, hasilnya cukup memuaskan. Dari total 22 murid yang mengikuti kegiatan, hampir seluruhnya mampu memahami dan menyimak dengan baik materi yang saya sampaikan sebelum sesi permainan dimulai.

Setelah pemaparan materi tentang tokoh-tokoh pahlawan, kegiatan dilanjutkan dengan permainan UNO yang telah dimodifikasi dengan kuis seputar materi tersebut.

Sebagian besar anak mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Itu menjadi tanda bahwa materi yang disampaikan sebelumnya benar-benar terserap.

Meski begitu, masih ada beberapa anak yang terlihat malu-malu untuk menjawab pertanyaan di depan teman-temannya. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam membangun rasa percaya diri anak di depan kelompok.

Sayangnya, keterbatasan waktu menjadi kendala pada sesi ini. Meski antusiasme anak-anak terlihat sangat tinggi, permainan harus dihentikan di tengah jalan karena waktu yang tersedia sudah habis.

Hal ini menjadi catatan evaluasi bagi saya untuk pelaksanaan program serupa di kemudian hari, khususnya dalam hal manajemen waktu.

Harapan di Balik Program Kerja Ini

Melalui program kerja ini, saya berharap anak-anak tidak hanya sekadar bermain. Lebih dari itu, mereka benar-benar memahami dan menghayati jasa besar para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Saya juga berharap nilai-nilai kepahlawanan seperti keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air bisa mereka teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa media pembelajaran yang kreatif dan dekat dengan dunia anak-anak, seperti permainan kartu yang sudah familier, bisa menjadi jembatan efektif untuk menanamkan nilai-nilai sejarah tanpa terasa menggurui.

Tentu masih banyak ruang untuk perbaikan, terutama dalam hal pengelolaan waktu dan strategi agar semua anak, termasuk yang pemalu, ikut aktif berpartisipasi.

Namun, satu hal yang pasti: belajar sejarah ternyata bisa jadi seru, asalkan dikemas dengan cara yang tepat.

Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan memberikan kesempatan untuk pelaksanaan kegiatan ini.