15 Ton Ikan Tuna dari Sikka Diekspor ke Jepang dan Malaysia
·waktu baca 5 menit

MAUMERE - Sebanyak dua kontainer berisi 5 ton Katsuobushi Skipjack siap di ekspor ke Malaysia dan 10 ton Tuna Sashimi siap di ekspor ke Jepang melalui pelabuhan ekspor Surabaya, Sabtu (30/10).
Hal itu merupakan sejarah bagi masyarakat nelayan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur karena untuk pertama kalinya dalam karir kenelayanan, mereka dapat melakukan transaksi langsung dengan pembeli yang ada di Malaysia dan Jepang.
"Suatu tata niaga yang selama ini nyaris tidak pernah terjadi dan terbayangkan dalam hidup mereka," ujar CEO fishOn, Jafar Widisasono di sela-sela acara pelepasan ikan Tuna dan Cakalang ke Jepang dan Malaysia di KCBS, Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat.
Pencapain itu terjadi setelah selama satu bulan terakhir fishOn, startup aplikasi perikanan tangkap, masuk ke Kabupaten Sikka dan mulai melakukan pembinaan untuk nelayan Tuna dan Cakalang.
Fajar menjelaskan bahwa di Kabupaten Sikka, fishOn juga mengoperasikan factory sharing yang disebut fishOn Cloud Factory, hasil kerjasama dengan KCBS, perusahaan perikanan PMA dari Jepang.
Acara ceremony pelepasan ekspor perdana ke Malaysia dan Jepang ini dilakukan di fishOn Cloud Factory (Ex-KCBS) di jalan Don Slipi, Kelurahan Wailiti, Kab Sikka Nusa Tenggara Timur pada hari Sabtu, 30 Oktober 2021 pukul 13.00 WITA.
Dihadiri oleh Deputi UMKM Kementrian Koperasi dan UKM Hanung Harimba, Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Deputi Sumber Daya Maritim Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Dedy Miharja, Wakil Pimpinan Wilayah VIII Bank BNI, Mustakim dan Bupati Sikka, dan Fransiskus Roberto Diogo.
Acara dimulai dengan melihat proses pendaratan ikan, kegiatan penimbangan dan sortir, lelang online, proses pengolahan ikan tuna sirip kuning menjadi produk akhir Tuna Sashimi dan pengolahan ikan Cakalang menjadi Katsuobushi Skipjack.
Setelah itu para tamu undangan melakukan acara pelepasan ekspor dengan memberangkatkan 2 kontainer berisi 5 ton Katsuobushi Skipjack menuju Malaysia dan 10 ton Tuna Sashimi menuju ke Jepang melalui pelabuhan ekspor dari Surabaya.
“Kami hadir di Kabupaten Sikka dan melepas ekspor perdana UKM Nelayan binaan fishOn ini bertujuan untuk memastikan program agregasi UKM untuk peningkatan ekspor ini betul-betul dapat berjalan sesuai dengan arahan Pak Menteri Koperasi dan UKM. UKM Nelayan harus kita berikan karpet merah, mulai dari pembiayaan operasional melaut hingga menghubungkan dengan market ekspor” demikian dijelaskan oleh Hanung Harimba, Deputi UMKM Kementrian Koperasi dan UKM.
Hanung menjelaskan bahwa market ekspor produk kelautan dan perikanan ini memiliki permintaan yang sangat besar dan disisi lain nelayan memiliki kemampuan suplai yang baik. Sehingga pemerintah perlu hadir untuk memfasilitasi transaksi antara UKM Nelayan dengan pasar ekspor dapat terjadi dengan baik melalui program agregasi UKM dengan bekerjasama dan melibatkan Bank BNI untuk pembiayaan serta fishOn sebagai platform teknologi.
“fishOn Cloud Factory ini merupakan inovasi layanan baru dari fishOn untuk pebisnis ikan di dalam dan luar negeri, mereka tidak perlu menghabiskan biaya investasi untuk membangun pabrik dan membina nelayan. Jadi kalau anda ingin berbisnis ikan di Maumere, cukup siapkan modal kerja dan download aplikasi lelang online saja untuk melakukan pembelian ikan langsung ke nelayan. Setelah itu ikan akan diolah di fishOn Cloud Factory sesuai dengan keinginan pembeli atau pasar.” Demikian dijelaskan oleh Fajar Widisasono, CEO fishOn.
Lebih lanjut, kata Fajar, dikarenakan pembeli tidak hadir di Maumere, fishOn menyiapkan tenaga Quality Control dan curator lelang yang bersertifikat dan professional.
“ Konsep QC yang jujur dan professional ini yang menjadi keunggulan fishOn Cloud Factory, sehingga pembeli tidak dirugikan dan nelayan pun juga merasa ini lelang yang jujur dan adil” tambah Fajar.
Melalui kerja BNI Xpora dan fishOn Cloud Factory, juga menyediakan layanan akses market luar negeri bagi pengusaha yang belum memiliki jaringan pemasaran. Selain itu BNI Xpora juga menyediakan fasilitas pembiayaan ekspor seperti Letter of Credit (LC) dari Bank BNI.
Saat ini, pembeli dari Jakarta dan Surabaya sudah mulai bergabung dengan layanan fishOn Cloud Factory ini seperti CV Sumaco Inti Samudera dan PT Samudera Emas Anugerah. Juga pembeli dari Jepang, Malaysia, Tiongkok dan bahkan dari salah satu retail ikan modern di London, Inggris sudah mulai penjajakan untuk melakukan transaksi pembelian ikan langsung di Maumere.
Seorang nelayan dari Nangahure Lembah, Engga Diaz (53), menyatakan mereka sangat puas dengan kinerja fishOn yang mampu mengangkat harga di tingkat nelayan dan menjaga kestabilan harga.
“Sebelum fishOn ada, kami sering dikecewakan oleh petugas penerima di pabrik, selain timbangan yang selalu dibulatkan ke bawah, penentuan kualitas ikan pun selalu merugikan kami, kualitas A dibilang B, itu sudah biasa. Setelah fishOn hadir, kualitas tangkapan kami selalu dapat penilaian tinggi dan timbangan dihitung sampai ke angka koma dibelakang. Juga harga tidak naik turun setiap hari seperti dulu dan yang paling penting pembayarannya pun langsung lunas dan tidak di hutang” ujar Engga Diaz.
Saat ini, terdapat 184 nelayan Tuna dan Cakalang yang merasakan manfaat fishOn seperti Engga Diaz.
Selain itu, mereka juga mendapatkan permodalan Rp 5-7 juta per nelayan hasil kerjasama dengan KUR Bank BNI, informasi titik posisi ikan Tuna dan Cakalang dengan akurasi tinggi, serta layanan pemasaran melalui skema lelang online di fishOn Cloud Factory.
Untuk menjaga kestabilan harga, fishOn menerapkan harga batas bawah yang akan direvisi setiap bulan berdasarkan kesepakatan antara para nelayan dengan pembeli.
“Setelah dari Maumere Kabupaten Sikka, fishOn akan menduplikasi konsep fishOn Cloud Factory ini di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata dan Kabupaten Alor” pungkas Fajar Widisasono.
Kontributor : Albert Aquinaldo
