Konten Media Partner

Pekan Ilmiah Unipa Indonesia, Ada Festival, Expo, Seminar dan Talk Show

8 Desember 2022 7:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pembukaan pekan ilmiah Unipa Indonesia oleh Rektor, Dr.Ir.Angelinus Vincentius, M.Si.
zoom-in-whitePerbesar
Pembukaan pekan ilmiah Unipa Indonesia oleh Rektor, Dr.Ir.Angelinus Vincentius, M.Si.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
MAUMERE-Universitas Nusa Nipa (Unipa) Indonesia menyelenggarakan pekan ilmiah tentang ekologi melalui festival, expo, seminar dan talkshow selama sepekan.
ADVERTISEMENT
Rektor Unipa Indonesia Dr. Angelinus Vincentius, dalam sambutan pembukaan festival, expo, seminar dan talk show, Rabu (7/12) mengatakan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari krisis dan bencana lingkungan hidup.
Hal ini menjadi sebuah pergulatan pemikiran panjang untuk menjawab sekaligus memahami sebab dan cara menghadapi krisis bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami, maupun bencana lingkungan hidup global.
Rektor menjelaskan bahwa secara khusus warga pembelajar di kampus perlu mengkaji bagaimana mengatasi krisis dan bencana OIKOS, tempat tinggal makhluk hidup, seperti krisis pangan, krisis ekologis, hingga krisis hak asasi manusia, krisis moral dan etika.
Unipa Indonesia perlu mengasah pikir, untuk melahirkan sebuah kesadaran baru tentang Bumi yang nyaman untuk dihuni, serta perilaku makhluk hidup yang ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT
Civitas akademika Unipa perlu menjadi pembelajar tangguh dalam menghadapi perubahan dan ketidak-pastian di era disrupsi karena hanya orang pembelajar yang adaptif terhadap perubahan.
"Mulai hari ini, 7 Desember 2022 hingga 6 hari ke depan, sampai tanggal 12 Desember 2022, Kampus UNIPA selenggarakan pekan ilmiah, dalam bentuk kegiatan Festival, Expo, Seminar, Talkshow bertempat di halaman Kampus Nusa Nipa Indonesia,Maumere, Kabupaten Sikka,," kata Rektor Unipa.
Pekan Ilmiah dimaksudkan untuk menciptakan atmosfir akademik untuk mendorong warga pembelajar terlibat dalam pergulatan pemikiran untuk memahami apa sebab krisis, bencana alam dan lingkungan hidup.
Upaya mitigasi untuk mengurangi resiko bencana, mengatasi krisis dan bencana Oikos, tempat tinggal makhluk hidup, serta mewujud-nyatakan kesadaran ekologis baru yang lebih baik untuk kelestarian alam.
ADVERTISEMENT
"Kita sedang berproses di sini," tegas Rektor Unipa Indonesia.
"Terimakasih kepada semua pihak, civitas akademika, panitia, nara sumber, mitra, para tamu undangan, dan siswa SLTA se-Kabupaten Sikka yang datang berkunjung untuk melihat secara detail fakultas-fakultas dan program studi yang ada di Kampus UNIPA," tambah Angelinus.
Sementara itu, Ketua Yayasan UNIPA Indonesia, Sabinus Nabu, mengatakan, sebuah Kampus Perguruan Tinggi (PT) tidak sebatas retorika dan slogan, tetapi harus mampu narasikan keilmuan yang dimiliki melalui tindakan nyata.
Oleh karena itu, Kampus Unipa dalam menghadapi anomali iklim akhir - akhir ini, harus mampu menanam untuk menyelamatkan dunia dalam perspektif ekologi.
Keterangan foto:Salah satu stand yang ditampilkan Fakultas Teknik Unipa Indonesia pada pembukaan Pekan Ilmiah.
"Kampus tidak hanya memberikan retorika, atau slogan - slogan, tetapi harus mampu memberikan narasi keilmuan yang dapat diimplementasikan sesuai apa yang dibelajar dan diajarkan," kata Sabinus Nabu.
ADVERTISEMENT
Sabinus menjelaskan pihak Kampus tidak saja memberikan narasi tentang keilmuan tetapi juga harus berani wujudkan dalam kehidupan sehari- hari.
Menurut Sabinus bahwa saat ini, sudah berada di pertengahan bulan Desember 2022, tanpa disadari 30 tahun yang lalu bencana gempa bumi yang terjadi di Maumere Kabupaten Sikka.
Dimana menelan korban banyak dan juga telah membawa perubahan- perubahan sosial dan budaya yang ada di Kabupaten Sikka. Karena terdapat beberapa wilayah yang direlokasi, seperti gugus pulau Teluk Maumere, dan Kecamatan Palue.
"Bagi orang yang cerdas dan berilmu mari kita belajar, melihat keseharian sejak awal Minggu pertama Desember 2022 bahwa telah terjadi anomali iklim," kata Sabinus.
Oleh karena itu, perlu melakukan tindakan nyata dan kampus harus merasa terpanggil untuk menyelamatkan dunia dengan perspektif ekologi yang ditindak lanjuti gerakan menanam.
ADVERTISEMENT
"Selaku badan penyelenggara, mengucapkan proficiat dan di sinilah anda belajar dan implementasikan keilmuan yang diperoleh di Kampus ini," kata Sabinus mengakhiri sambutan lisannya.
Sabinus menjelaskan seluruh persoalan yang dihadapi, hanya manusia yang cerdas yang bisa beradaptasi dengan perubahan- perubahan yang begitu pesat.
"Kalau engkau mau tetap hidup, dengan pola pikir yang lama engkau tidak akan maju, karena itu perlu ada pola pikir yang baru, untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan jaman yang begitu cepat," kata Sabinus.
Kontributor : Athy Meaq.